Timnas Indonesia Pernah Tahan Imbang MU


Mungkin anda setengah tak percaya membaca judul di atas. Mungkinkah Timnas Indonesia bisa menahan imbang MU alias Manchester United alias Setan Merah??? Bagaimana mungkin klub raksasa yang pemain cadangan kelas terinya sekalipun tak akan sanggup dilawan PSSI malah bisa ditahan imbang??? Daripada terus-terusan gak coyo, mending sekalian aja dibaca semua.

Pada awal Mei 1975, Wiel Coerver ditunjuk sebagai pelatih baru timnas senior, yang kala itu disebut Indonesia Tamtama.

Coerver sendiri bukanlah seorang pelatih yang minim prestasi. Pada musim 1973/74, ia sukses membawa Feyenoord sebagai klub pertama asal Belanda yang meraih titel Piala UEFA.

Didampingi asisten pelatih Wim Hendriks, Coerver diharapkan membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia 1978. Lantas, laga melawan Ajax dan Manchester United dalam turnamen segitiga dijadikan ajang pemanasan sebelum Pra Olimpiade 1976 melawan Korea Utara.

Pertandingan PSSI Tamtama melawan Manchester United merupakan partai pembuka.

Kondisi Manchester United

Suram! Dalam hal kualitas di segala bidang, MU 1975 kalah jauh dibanding MU 2009.

Tommy “The Doc” Docherty membesut Setan Merah sejak akhir musim 1972. Ia mampu menyelamatkan MU dari jurang degradasi, tapi gagal pada musim berikutnya. Alhasil, MU terpaksa memainkan musim 1974/75 di Divisi Dua (kala itu, Divisi Utama merupakan kompetisi top flight Inggris).

Trio emas George Best, Denis Law dan Bobby Charlton sudah meninggalkan klub. Ironisnya, Denis Law pindah ke Manchester City pada musim 1973/74, dan justru golnya dalam derby Manchester mengakibatkan MU terdegradasi. Ia menolak merayakan gol tersebut bersama rekan-rekannya.

Pemain seperti Lou Macari, Stewart Houston dan Brian Greenhoff didatangkan untuk menggantikan peran Best, Law dan Charlton. Meskipun ketiganya tak mampu menyamai kualitas pendahulu mereka, MU mampu menjuarai Divisi Dua, sekaligus kembali ke Divisi Utama untuk musim 1975/76. Siapa sang juara Divisi Utama 1974/75? Tepat sekali: Derby County!

Sumohadi Marsis, wartawan Kompas kala itu, meliput langsung pertandingan tersebut.

“MU ternyata mengecewakan pengurus PSSI maupun masyarakat penggemar sepakbola sejak mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, sehari sebelum pertandingan,” kenang Sumohadi seperti dikutip harian TopSkor.

“Mereka tidak datang dengan seluruh pemain intinya seperti yang telah dijanjikan kepada PSSI. Rombongan mereka hanya 14 orang, terdiri atas 12 pemain, seorang pelatih, dan seorang manajer.”

Sumohadi menambahkan, MU menerima bayaran $25.000 untuk dua pertandingan, angka yang lebih kecil dibanding tawaran dari Manchester City untuk satu pertandingan, sehingga ditolak oleh PSSI.

“MU bermain ala kadarnya, asal tidak kebobolan. Ketika terjadi pergantian pemain pada babak kedua, yang masuk sebagai pengganti adalah pemain nomor 15 bertubuh gendut bernama Tommy Docherty, yang tidak lain adalah sang manajer!” ujar Sumohadi.

Menurut pengamatan Sumohadi, tugas “The Doc” di hadapan 70.000 penonton yang memadati Stadion Senayan adalah untuk mengganggu pergerakan trio penyerang Indonesia, yaitu Waskito, Risdianto, dan Andi Lala.

“Tak heran, hanya dalam lima menit Docherty terkena kartu kuning dari wasit Kosasih Kartadireja. Ujungnya, pertandingan berakhir tanpa gol karena gawang Ronny Pasla juga jarang dihajar tembakan penyerang MU,” katanya.

Dua hari kemudian, MU dikalahkan dengan skor 3-2 oleh Ajax Amsterdam, yang menempati urutan ketiga Eredivisie Belanda musim itu karena kalah bersaing dengan PSV dan Feyenoord.

Selanjutnya pada 5 Juni, Ajax dipastikan menjuarai turnamen ini dengan kemenangan 4-1 atas PSSI Tamtama. Satu-satunya gol Indonesia dicetak oleh Waskito.

Susunan Skuad

PSSI Tamtama: Ronny Paslah, Sutan Harhara, Oyong Liza, Suaib Rizal, Iim Ibrahim, Anjas Asmara, Nonon, Waskito, Junaedi Abdillah, Risdianto, Andi Lala.

Manchester United: Alex Stepney, Alex Forsyth, Arthur Albiston, Gerry Daly, Jimmy Nicholl, Jim McCalliog, Trevor Anderson, Sammy McIlroy, Stuart Pearson, David McCreery, Anthony Young.

Tidak ada komentar