Si Benar Mati di Kandang Sempit Medan Zoo

[caption id="attachment_2417" align="aligncenter" width="780"]KOMPAS.com/Mei Leandha Si Benar, bayi harimau Sumatera beberapa saat usai dilahirkan induknya di Taman Margasatwa Medan KOMPAS.com/Mei Leandha
Si Benar, bayi harimau Sumatera beberapa saat usai dilahirkan induknya di Taman Margasatwa Medan[/caption]

Cuma bertahan hidup sembilan hari, Si Benar, seekor bayi Harimau Sumatera yang lahir, Kamis (18/2/2016), ditemukan mati di kandang sempit di Taman Margasatwa Medan atau Medan Zoo, Jumat (26/2/2016) dinihari.

Ketika dikonfirmasi, Aini, Humas Taman Margasatwa Medan, menyuruh langsung menghubungi Drh Sucitrawan yang menangani Si Benar.

"Si Benar, bayi harimau anak dari betina Manis dan jantan Anhar, diketahui mati oleh petugas Medan Zoo pada Jumat kemarin saat membersihkan kandang dan hendak memberi makan. Ini bukan yang pertama, pada 2012 lalu, si Manis juga sempat melahirkan dua ekor bayi dan mati juga," kata Sucitrawan, Senin (29/2/2016).

Menurut dia, kematian Benar disebabkan usia kelahiran yang belum sempurna atau prematur. Kemudian berat badannya saat ditimbang mati hanya 600 gram. Seharusnya, berat badan normal bayi seusianya sekitar 1,1 kilogram.

"Normalnya 155 hari, tapi yang ini baru sekitar 65-75 hari. Kemungkinan juga dehidrasi. Air susu induk juga kurang karena usianya sudah 18 tahun. Saat-saat baru lahir induknya sangat sensitif. Kalau bayinya diambil induknya akan marah dan tidak akan mau merawatnya lagi. Kami lakukan pemantauan dan pemberian vitamin melalui induknya. Meskipun air susu sang induk kurang tapi bayi masih mau menyusu," papar Sucitrawan.

Pihaknya sudah melakukan sejumlah prosedur yaitu autopsi yang dihadiri petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, dengan pembedahan dan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan kematian bayi binatang dilindungi tersebut.

"Hasilnya, tidak ada penyakit dan murni kematian akibat dehidrasi dan kekurangan cairan, ditambah prematur atau tidak cukup umur," tambahnya.

Sucitrawan menjelaskan, dari jumlah kelahiran yang hanya seekor, ini dianggap tidak produktif sebab biasanya kelahiran minimal dua ekor. Mengingat si Manis sudah tidak produktif akibat usianya, maka tidak memungkinkan lagi untuk dikawinkan dengan pejantan Anhar.

"Usia Harimau Sumatera di hutan sekitar 17 tahun, sedangkan di lembaga konservasi seperti di Medan Zoo, usianya bisa mencapai 18 hingga 20 tahun. Artinya, si Manis tidak bisa dikawinkan lagi. Untuk Harimau Sumatera, usia dewasa kelamin sekitar tiga tahun, manusia 15 tahun. Artinya satu banding tiga usianya dengan manusia. Langkah pengembangan dengan cara mencari betina-betina muda yang lebih produktif akan dilakukan. Sudah cukuplah si Manis karena usianya sudah tua. Daripada jadi masalah, mati lagi bayinya, tidak baik jadinya,” katanya lagi.

Dia bilang, bangkai bayi harimau itu masih di klinik Medan Zoo. Rencananya akan diawetkan sebagai bentuk upaya lain dari penelitian dan pendidikan tentang Harimau Sumatera.

Keterangan Sucitrawan ini berbeda dengan keterangannya dua hari pasca kelahiran. Saat diwawancarai wartawan, saat itu dia mengatakan bayi harimau lahir normal dan kondisinya cukup sehat, dengan berat badan sekitar 2,5 kilogram dan panjang sekitar 31 sentimeter. Usia kelahirannya juga menurut Suci 115 hari.

Menyikapi hal ini, Yoan Dinata, Ketua Forum Harimau Kita, mengatakan kematian bayi Harimau Sumatera ini sangat memprihatinkan. Seharusnya pihak konservasi seperti Medan Zoo mempunyai standar prosedur jelas mengatasi bayi Harimau Sumatera yang lahir jika tidak normal atau prematur.

Kematian ini menunjukkan ada ketidaksiapan pihak pengelola dalam penanganan khusus dan intensif. Perawatan bayi harimau bukan hanya diberikan asupan minum dan vitamin saja namun harus dipantau selama 24 jam.

“Pertanyaannya, apakah Medan Zoo SOP penanganan khusus bayi harimau yang lahir tidak normal? Kami meragukan mereka punya itu,” kata Nata.

Dia berharap ada evaluasi, investigasi dan penyidikan mendalam penyebab kematian ini yang dilakukan internal pengelola.

BBKSDA Sumut harus mengawasi lembaga konservasi seperti Medan Zoo dan melakukan evaluasi eksternal mendalam. Jika ada indikasi kelalaian dari pengelola, harus ada tindakan tegas dari BBKSDA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Ini perlu dilakukan agar kebun binatang-kebun binatang lain tidak melakukan hal serupa seperti yang terjadi di Medan Zoo. Perawatan satwa termasuk harimau Sumatera di hampir semua kebun binatang di Indonesia masih sangat rendah. KLHK harus mendorong peningkatan perawatan ini. Harusnya kelahiran si Benar bisa menekan angka penurunan jumlah harimau Sumatera yang semakin menurun hidup di alam akibat perburuan. Saat ini jumlah harimau Sumatera yang hidup di alam hanya tinggal 350 sampai 400 ekor saja," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, seekor anak harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) lahir normal dari induk bernama Manis di Taman Margasatsa Medan.

Direktur Operasional Medan Zoo, Sunardi Ali waktu itu mengatakan, belum bisa mengetahui jenis kelaminnya karena belum bisa dicek sebab induknya masih sangat agresif. Bayinya sehat, beratnya diperkirakan sekitar 2,3 kilogram dengan panjang lebih kurang 30 centimeter.

"Rencananya kami beri nama Benar. Dengan kelahiran bayi ini, jumlah anak harimau Sumatera di Medan Zoo menjadi 10 ekor. Mudah-mudahan terus berkembang lebih cepat demi kepentingan konservasi," kata Sunardi.

Sebelumnya, pada November 2015, empat ekor harimau Benggala (Panthera tigris tigris) juga lahir di Medan Zoo. Semuanya berkelamin jantan. Dengan kelahiran empat harimau Benggala itu, koleksi harimau di Taman Marga Satwa Medan menjadi 20 ekor, terdiri dari 14 ekor harimau Sumatera dan enam ekor harimau Benggala. (sumber)




Tidak ada komentar