Lebih Dekat Dengan Tuan Guru Bajang, Satu-satunya Kepala Pemerintahan di Indonesia yang Hafal AlQuran


tuan guru bajang

Nama Basuki Tjahaja Purnama dan Ridwan Kamil sudah banyak diberitakan di media dan dikenal luas oleh publik sebagai pemimpin muda yang berprestasi. Tidak demikian halnya dengan Zainul Majdi atau yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang. Gaungnya kencang hanya sebatas Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Prestasi yang diraih oleh Zainul Majdi cukup mengagumkan. Beliau terpilih menjadi gubernur salah satu provinsi di Nusa Tenggara, yaitu Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008, ketika masih berusia 36 tahun (lahir di Pancor, Lombok Timur, 31 Mei 1972).

Saat ini, beliau kembali menjalani amanahnya sebagai Gubernur NTB periode kedua, 2013-2018. Dipercaya kembali memimpin untuk periode kedua tentunya menyiratkan kepercayaan warga atas kepemimpinannya. Sebuah pengakuan atas keberhasilannya dalam mengawal pembangunan di NTB untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Bahkan hasil pemilukada NTB Mei yang lalu memberikan perolehan 44% untuk pasangan Zainul Majdi dan M Amin dengan mengalahkan tiga kandidat lainnya.

Majdi dikenal dengan nama Tuan Guru Bajang. Tuan Guru adalah sebutan di kalangan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok untuk seorang ulama. Beliau cucu ulama paling karismatik di Lombok, yaitu Almagfurullah Syekh TGKH Zainuddin Abdul Majid atau yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Pancor.

Sosok Majdi yang seorang ulama memberikan warna yang berbeda dalam jajaran birokrasi di Provinsi NTB. PR terbesarnya adalah dalam rangka memperbaiki moral jajarannya, memasukkan nilai-nilai etika bagi pasukannya. Beliau tidak ragu untuk mencabut jabatan bawahannya yang terkait kasus korupsi.

Bahkan seluruh pejabat diwajibkan menandatangani Pakta Integritas, salah satunya berisi kesiapan untuk mengundurkan diri jika terkait kasus korupsi.

Pada pertemuan bersama 4 tokoh reformis muda dan Dino Patti Djalal, Zainul Majdi mengungkapkan, "Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendekatan kultural. Ada yang harus sistemik. Karena itulah saya terima ajakan masyarakat masuk kontestasi Gubernur NTB," kata Majdi.

Majdi mengungkapkan pula bahwa dunia politik memiliki tantangan yang luar biasa. Apalagi menyangkut bidang birokrasi pemerintahan daerah. Beliau bahkan mengatakan, "Awal saya terpilih, saya panggil birokrasi. Saya ceramahi tentang surga neraka, tapi mereka ngantuk.

Namun, suatu ketika dikumpulkan lagi, saya sampaikan, sebentar lagi kita lakukan mutasi. Mereka langsung semangat". Orang sekarang memang lebih takut kehilangan jabatannya dibandingkan dengan neraka. Hasil nyata sentuhan kepemimpinannya sudah mulai terlihat.

Sektor pariwisata di Pulau Lombok mulai menggeliat, bahkan cukup pesat. Dengan adanya Bandar Udara Internasional Lombok, wisatawan memiliki kemudahan untuk melakukan kunjungannya. Jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari tahun 2010 yang hanya sekitar 500.000 orang, naik menjadi 750.000 orang tahun 2011 dan tahun 2012 menjadi satu juta wisatawan.

Bidang kesehatan pun menunjukkan keberhasilannya. PAD naik sangat signifikan, naik hampir dua kali lipat. (sumber: Republika.co.id). Semoga makin banyak bermunculan tokoh-tokoh muda yang menginspirasi. Saatnya pula kita turut memberitakan tokoh-tokoh unggulan agar dapat menginspirasi tokoh lainnya. Tidak perduli dari mana atau dari partai mana mereka berasal. Asal untuk kemajuan negeri dan kesejahteraan masyarakat, untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga. (Del) Sumber : disarikan dari suara pembaruan dan berita satu. (SELANJUTNYA : INI KATA DAHLAN ISKAN, MANTAN MENTERI BUMN TENTANG TUAN GURU BAJANG)

Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) pula. Di depan hampir semua tokoh pers se-Indonesia. Pun, di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari lalu.

Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya. Dan lucunya. “Yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi di Indonesia,” kata sang gubernur. “Ini di Mesir.”

Sang gubernur memang pernah bertahun-tahun bersekolah di Mesir. Di universitas paling hebat di sana: Al Azhar. Bukan hanya paling hebat, tapi juga salah satu yang tertua di dunia. Dari Al Azhar pula, sang gubernur meraih gelar doktor. Untuk ilmu yang sangat sulit: tafsir Alquran. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Alquran. Dengan artinya, dengan maknanya, dan dengan tafsirnya.

Mesir memang mirip dengan Indonesia. Di bidang politik. Dan persnya. Pernah lama diperintah secara otoriter. Lalu, terjadi reformasi. Bedanya: Demokrasi di Indonesia mengarah ke berhasil. Di Mesir masih sulit ditafsirkan.

“Di zaman otoriter dulu,” ujar sang gubernur di depan peserta puncak peringatan Hari Pers Nasional itu, “tidak ada orang yang percaya berita koran.” Gubernur sepertinya ingin mengingatkan berita koran di Indonesia pada zaman Presiden Soeharto. Sama. Tidak bisa dipercaya. Semua berita harus sesuai dengan kehendak penguasa.

“Satu-satunya berita yang masih bisa dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10,” ujar sang gubernur. Di halaman 10 itulah, kata dia, dimuat iklan dukacita. Gerrrrrrr. Semua hadirin tertawa. Termasuk Presiden Jokowi. Tepuk tangan pun membahana.

Bagaimana setelah reformasi, ketika pers menjadi terlalu bebas? “Masyarakat Mesir malah lebih tidak percaya,” katanya. “Semua berita memihak,” tambahnya. “Halaman 10 pun tidak lagi dipercaya,” guraunya.

Meski hadirin terbahak lebih lebar, sang gubernur masih perlu klarifikasi. “Ini bukan di Indonesia lho, ini di Mesir,” katanya. Hadirin pun kian terpingkal. Semua mafhum. Ini bukan di Mesir. Ini di Indonesia. Juga.

Saya mengenal banyak gubernur yang amat santun. Semua gubernur di Papua termasuk yang sangat santun. Yang dulu maupun sekarang. Tapi, gubernur yang baru mengkritik pers itu luar biasa santun. Itulah gubernur Nusa Tenggara Barat: Tuan Guru Dr KH Zainul Majdi. Lebih akrab disebut Tuan Guru Bajang.

Gelar Tuan Guru di depan namanya mencerminkan bahwa dirinya bukan orang biasa. Dia ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok. Sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit Arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid.

Di Makkah, sang kakek dihormati sebagai ulama besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir. Juga di Lebanon. Jadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Makkah.

Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW. Di Lombok, tidak ada NU. NU-nya ya NW ini. Kini sang cuculah yang menjadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya.

Maka, pada zaman demokrasi ini, dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih menjadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula dia terpilih menjadi gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua sekarang ini.

Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplet. Ulama sekaligus umara. Ahli agama, intelektual, legislator, birokrat, dan sosok santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runtut. Kelebihan lain: masih muda, 43 tahun. Ganteng. Berkulit jernih. Wajah berseri. Murah senyum. Masa depannya masih panjang. Pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna.

“Bapak Presiden,” katanya di forum tersebut, “saya mendengar pemerintah melalui Bulog akan membeli jagung impor 300.000 ton dengan harga Rp 3.000 per kg.” Lalu, ini inti pemikirannya: Kalau saja pemerintah mau membeli jagung hasil petani NTB dengan harga Rp 3.000 per kg, alangkah sejahtera petani NTB. Selama ini, harga jagung petani di pusat produksi jagung Dompu, Sumbawa, NTB, hanya Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kg.

Sang gubernur kelihatannya menguasai ilmu mantiq. Pelajaran penting waktu saya bersekolah di madrasah dulu. Pemahamannya akan pentingnya pariwisata juga tidak kalah. “Lombok ini memiliki apa yang dimiliki Bali, tapi Bali tidak memiliki apa yang dimiliki Lombok,” moto barunya. Memang segala adat Bali dipraktikkan oleh masyarakat Hindu yang tinggal di Lombok Barat.

Demikian juga pemahamannya tentang vitalnya infrastruktur. Dia membangun bypass di Lombok. Juga di Sumbawa. Dia rencanakan pula by pass baru jalur selatan. Kini sang gubernur lagi merancang berdirinya kota baru. Kota internasional. Di Lombok Utara.

Sebagai gubernur, Tuan Guru Bajang sangat mampu. Dan modern. Sebagai ulama, Tuan Guru Bajang sulit diungguli. Inikah sejarah baru? Lahirnya ulama dengan pemahaman Indonesia yang seutuhnya? (Sumber : New Hope Dahlan Iskan)

Tidak ada komentar