TERNYATA... Jasad Firaun Diawetkan Rempah Ajaib Asal Tapanuli Tengah


jalur-rempah-rempah-barus

Barus, salah satu kecamatan di Kabupten Tapanuli Tengah Sumatera Utara adalah titik penting peradaban masa lalu. Dari sinilah pengawet jasad Firaun didatangkan.

Para raja dan ratu Mesir Kuno meyakini rempah-rempah punya kekuatan magis untuk memberikan kecakapan dan wewangian seperti dewa-dewi.

Bahkan di kehidupan setelah kematian, rakyat Mesir Kuno juga percaya bahwa lada dapat menahan dewa kematian yang akan menggerogoti tubuh.

Ketika Firaun Ramses II meninggal pada 12 Juli 1224 SM, “para abdinya menjejali lubang hidung Sang Firaun dengan biji lada,” tutur Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan dari Universitas Diponegoro, Semarang.

Penggunaan lada dimaksudkan untuk pengawetan mayat yang sudah merupakan tradisi bagi para Firaun di Mesir.

Di Tiongkok, para raja Dinasti Han mewajibkan siapa pun yang akan menghadapnya harus mengunyah cengkeh, agar nafas mereka wangi ketika bicara.

Nah, di manakah mereka mendapatkan rempah? Barus!

Antropolog dari Universitas Indonesia, Rusmin Tumanggor menceritakan, pada zaman dahulu di Barus ada pelabuhan yang sangat terkenal di dunia.

Pelabuhan di pantai Barat Sumatera ini mengekspor kapur Barus, minyak umbil, lada, kunyit, buah pala, cengkeh, kemenyan, kelapa, durian, pisang, tebu, duku, langsat, petai hingga jengkol.

“Barus pernah berhubungan dagang dan obat-obatan dengan Arab, Cina, Yahudi dan India,” ungkap Rusmin yang 3,5 tahun meneliti teknik pengobatan Barus untuk disertasinya.

Merujuk hasil penelitian Rusmin, dalam Sipele Sumangot–kitab suci agama setempat–ada mantra dan jampi pengobatan yang terkait dengan ungkapan reliji dari Arab, Cina, Yahudi dan India. (NEXT : Datu Sakti Asal Barus)

“Dari bukti ini, jika dihipotesiskan, sekitar 5000 tahun hingga sekarang atau 250 tahun sebelum masehi, Barus sudah punya hubungan dengan negeri-negeri tersebut.”

Dan yang patut dicatat, kabarnya, negeri-negeri di Eropa baru mengenal rempah di abad pertengahan. Dan begitu mereka mendapati kepulauan rempah di Run, Banda, Ternate, Tidore dan lain pulau di negeri yang hari ini bernama Indonesia, tatanan dunia pun berubah.

Sejarah mencatat, temuan “harta karun” ini bertaut-paut dengan perkembangan kapitalisme yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme di muka bumi ini. Lakonnya antara lain Portugis, Spanyol dan Belanda.

Kembali ke hubungan para ilmuwan Barus dalam hal pengobatan dengan para ilmuwan Arab, Cina, Yahudi dan India, sebagaimana dijelaskan Rusmin Tumanggor di pangkal cerita ini.

Ilmu pengobatan Barus amatlah kesohor. Dari dulu hingga sekarang, ilmuwan di bidang medis oleh orang Barus disebut Datu.

Rusmin menjelaskan, Datu adalah orang yang memiliki ilmu, ketrampilan serta akhlak dalam memahami penyakit dan pengobatan terhadap penderita penyakit angin (sakit biasa) dan penyakit gaib.

Datu Barus ada tiga sebutan. Datu Bolon atau dukun besar mampu mengobati 120 macam penyakit dan memiliki 60-an mantera. (NEXT : Negeri Kaya yang Tak Diurus)

Kemudian Datu Gelleng atau dukun kecil yang mampu mengobati 1 hingga 10 jenis penyakit dan punya mantera sebanyak 1 hingga 10 pula.

Lalu Datu Parangas-angas. Ini dukun yang bisa mengobati penyakit berat dan parah alias kronis.

Saat akan mengobati, sebagaimana diutarakan Rusmin, seorang datu memanggil makhluk halus pujaan ilmunya dengan rempah tertentu untuk memahami penyakit pasiennya.

Sebelum mengobati, datu terlebih dahulu berkonsentrasi dan permisi kepada arwah gurunya.

Nah, rupanya ada pula etika dalam perdatuan. Setinggi apa pun ilmu datu, ia tak boleh mengobati apabila tidak diminta.

Seorang datu hendaklah rendah diri. Ia tidak boleh memasang tarif, meski pun tiap mengobati, pasien wajib membayar syarat. Jika tidak maka datu akan sakit. Kuncinya ikhlas!

Setelah mendiagnosa pasiennya, selain mantera dan jampi, untuk mengobati diracikkan obat yang lazimnya dari rempah-rempah.

Agar tak sekadar beromantisme pada sejarah masa lalu, pria 68 tahun itu mengingatkan bahwa saat ini rempah Indonesia telah dibudidayakan di banyak negara di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

Selanjutnya, kata dia, masing-masing negara berupaya serius meneliti khasiatnya dan mematenkan sebagai haknya serta memasarkan produksinya.

Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia menjadi pengekspor bahan baku yang tersisa dan menerima import produksi bahan jadi dalam bentuk makanan, minuman, obat-obatan dengan harga mahal.

Bila itu terjadi, pada masa yang akan datang, Indonesia hanya akan memproduksi dan menjual tulisan-tulisan di buku, majalah, jurnal tentang kehebatan pengobatan dan rempah Indonesia masa lalu yang tinggal kenangan.

Menurut Rusmin, negeri ini kaya rempah. Namun sayang tak diurus. “Kebijakan penguasa umumnya berpihak pada keuntungan picisan komisi dan upeti dari perdagangan orang asing yang mengeruk-kuras alam dan memperbudak manusia Indonesia di negerinya sendiri.”

(wow/jpg/sdf)

Tidak ada komentar