WARNING! MSG Adalah Narkoba Terselubung


msg

Masyarakat diminta tidak lagi mengonsumsi atau memakai penyedap masakan monosodium glutamate (MSG) dengan berbagai nama dagang dan wujud tampilan, mulai bubuk penyedap, saus, keuh mueh, susu formula, obat-obatan, vaksin dan sebagainya. Pasalnya, MSG dianggap sebagai narkoba terselubung yang peredarannya begitu aman buat dikonsumsi.

"Narkoba yang mungkin menzalimi orang banyak dalam jumlah besar tentulah melalui makanan. Pada kenyataannya cukup banyak obat berbahaya yang belum tercantum sebagai narkoba namun tersedia dalam berbagai bentuk dan dikonsumsi oleh masyarakat luas tanpa kendali, salah satu contohnya adalah penyedap masakan monosodium glutamate (MSG)," kata akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) dr H Aznan Lelo PhD.

Menurut dosen pada Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran USU ini, meskipun MSG selalu ditemukan dalam berbagai jenis makanan yang dikonsumsi, bukan berarti MSG itu aman.

"Cukup sering ditayangkan di televisi dan dikabarkan di koran-koran dan media cetak lainnya tentang kejadian keracunan makanan pada murid-murid di sekolah-sekolah atau setelah pulang sekolah, pada buruh-buruh di tempat kerjanya dan di asrama.

Sayangnya tidak pernah diungkapkan oleh pihak terkait racun apa yang menyebabkan kejadian tersebut. MSG kah? Tidak ada pembuktian, bukan berarti tidak mungkin. Yang jelas banyak anggota masyarakat yang ketagihan atau kecanduan untuk mengkonsumsi kembali makanan tersebut, malah dengan jumlah yang lebih banyak dan cukup sering terjadi reaksi putus obat apabila dia tidak mendapatkan makanan yang harus dikonsumsinya tersebut.

"Malah ada pasien anak yang marah kepada ibunya setelah dokter menasehati agar si anak tidak diizinkan jajan makanan yang mengandung MSG," urai pria yang akrab disapa Buya ini.

Dia mengakui MSG dapat menimbulkan kecanduan seperti narkoba. Hal ini makin diperparah dengan semakin gencarnya iklan di televisi yang menyampaikan perlunya penambahan MSG dalam makanan sehari-hari.

Aznan Lelo mencontohkan, dulu bangsa Indonesia terkenal ramah santun dan baik akhlaknya serta pemberani dan perkasa. Sekarang terlihat beringas tidak Pancasilais. Gampang murka, membakar, membegal, memperkosa, korupsi dan sebagainya yang dilakukan tanpa pandang usia, mulai dari anak-anak sampai si tua renta, tanpa pandang tingkat pendidikan dan keyakinan. (LANJUT LAGI DISINI)

"Kenapa terjadi perubahan negatif secara berjamaah? Narkoba apa yang telah merusak bangsa kita ini? Pastilah narkoba yang tidak perlu diperoleh secara sembunyi-sembunyi, tapi didapat secara terang benderang, gampang dan dianggap aman," sebutnya.

Narkoba seperti ini, katanya, diatur dengan UU dan ada sanksi hukumnya, sehingga untuk memerolehnya sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh kelompok orang tertentu. "Tujuh puluh tahun merdeka telah berlalu, rakyat Indonesia bukan makin sehat jiwa raganya, malah kebalikannya.

Selain itu, MSG juga dapat menimbulkan stress oksidatif yang berat," katanya yang mengaku pernah disuruh tutup mulut oleh salah satu perusahaan penyedap makanan beken di Indonesia, agar tidak membeberkan ke publik soal bahaya MSG tersebut secara kajian ilmiah.

Dia menerangkan, narkoba adalah singkatan dari narkotika (zat yang dapat menidurkan atau narkose, seperti morfin, sabu dan sebagainya) dan obat berbahaya (termasuk ecstacy, alkohol, tembakau, ganja dan lainnya). Dengan berbagai nama dagang dan wujud tampilan, mulai bubuk penyedap, saus, keuh mueh, susu formula, obat-obatan, vaksin dan sebagainya (Nagakannan dkk, 2012), MSG termasuk berada di dalamnya.

"Makanan sedia jadi banyak yang tidak mencantumkan bahwa makanan tersebut mengandung MSG, beberapa kemasan hanya mencantumkan ada bahan penyedap. Batas aman menurut badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari adalah kurang dari 120 mg/kg berat badan. Sebenarnya FDA menganjurkan agar makanan yang bebas glutamate mesti mencantumkan pada labelnya.

Selain itu sediaan ini berkontribusi penting dalam biosintesis asam amino (Koyuncuolu dkk, 1992). Glutamate sendiri adalah neurotransmitter di otak, pada keadaan normal dijumpai sebanyak 8-12 µM, namun apabila jumlahnya lebih besar glutamate tergolong sebagai neurotransmitter eksitatori," paparnya.

Dijelaskan, MSG biasanya tersedia berupa kristal putih mirip dengan narkoba lain dan digunakan sebagai penyedap makanan di banyak negara. Namun konsumsi yang berlebihan telah dilaporkan dapat menimbulkan efek yang merugikan pada banyak organ tubuh, terutama memengaruhi fungsi dan fisiologi otak dan juga menyebabkan stress oksdatif yang berat.

"Setelah dikonsumsi MSG terurai menjadi glutamate bebas yang merangsang sistem syaraf eksitatori. Pada awalnya nyeri dan kejang lalu parastesi dan lumpuh. Sodiumnya yang bebas dapat menaikan tensi dan meningkatkan potensial aksi.

Sampai saat ini kajian khasiat farmakologi MSG sebagai obat belum dilaksanakan dengan benar pada manusia. Khawatir dengan efek samping sediaan ini, maka kajian pada hewan coba cukup banyak dilaporkan. Pemberian MSG pada neonates tikus dapat merusak neuron aspartatergic dan glutamatergic.

Akibatnya MSG menyebabkan keterlambatan perkembangan neurobehavioral tikus, yang ditandai dengan melambatnya tampilan reflek syaraf dan maturasi koordinasi motorik," ungkapnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Xiong dkk (2009), kata Aznan Lelo, menunjukkan bahwa ; MSG memicu pembengkakan dan kematian neuron sesuai dosis yang diberikan. Batas konsentrasi MSG yang diperlukan untuk mencederai neuron adalah 3 microM; MSG hanya mencederai neuron dan sedikit jejas pada sel glia meskipun dosis ditingkatkan sampai 300 µM; Menghangatkan MSG tidak mempengaruhi toksisitasnya, namun penambahan vitamin C menunjukkan efek proteksi yang signifikan terhadap toksisitas MSG; Pretreatment neuron dengan dosis rendah MSG akan mengurangi injury berikutnya dengan MSG dosis besar.(aje)

Tidak ada komentar