Cut Darmayanti Sihombing, TKI asal Sumut yang Menggunakan Gajinya Mendirikan Sekolah


cut darmayanti sihombing

Inilah sosok Kartini muda dari Sumatera Utara (Sumut), Cut Darmayanti Sihombing. Wanita 31 tahun ini menggunakan gajinya selama jadi TKI ke Malaysia untuk mendirikan sekolah non formal bagi anak-anak nelayan di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang.

“Saya prihatin dengan anak-anak nelayan di sini, banyak yang tidak bisa membaca dan menulis, makanya saya mendirikan sekolah ini. Semuanya gratis, tidak ada dipungut biaya,” kata Yanti saat ditemui wartawan, Selasa (19/4/2016).

Saat dikunjungi wartawan, Cut tengah mengajar ratusan anak-anak nelayan di sekolah yang berlokasi di Jalan Jintan tersebut. Sekolah itu berdiri di atas tanah seluas 20 x 60 meter yang dibelinya dari hasil menjadi TKI di negeri jiran, Malaysia.

“Tabungan saya selama kerja di Malaysia saya gunakan untuk membeli tanah dan mendirikan sekolah ini. Saya tak ingin anak-anak nelayan pintar, tak ketinggalan dengan anak-anak di Kota Medan,” tambah alumni STIKIP Al Hikmah Medan.

cut sihombing

Saat pulang kali pertama dari Malaysia, ia langsung bercita-cita mendirikan sekolah gratis untuk anak nelayan. Namun saat itu uangnya tak cukup. “Karena belum uangnya belum cukup, saya kembali kerja ke Malaysia agar sekolah ini bisa terbangun,” sebutnya.

Perjuangan Yanti untuk mendirikan sekolah gratis ini sungguh luar biasa. Setelah sekolah terbangun, ia harus mendatangi orang tua anak-anak tersebut agar mau menyekolahkan anaknya ke sekolah yang ia dirikan.
“Karena sekolahnya gratis, keuangan jelas jadi kendala, belum lagi banyak cemooh orang yang menuduh saya melakukan perbuatan sia-sia,” ucapnya.

Awalnya, sekolah itu hanya memiliki 15 orang siswa, namun berkat kegigihannya sejak 5 tahun lalu, kini ada seratusan siswa yang bersekolah. “Di sekolah ini saya mengajarkan menulis dan membaca, berhitung dan ilmu agama,” katanya.

Saat ini, lanjut Yanti, sejumlah donatur telah membantu perjuangan Yanti dalam mengentaskan anak-anak nelayan dari kebodohan. “Saya ingin anak-anak nelayan pintar seperti anak-anak lainnya,” tandasnya. (m diysar/msc)

Tidak ada komentar