Kisah Penarik Gerobak Pasir yang Naik Haji Setelah 29 Tahun Menabung


Panggilan tanah suci tidak pernah melihat latar belakang umat muslim yang datang. Tanah Haram itu akan selalu didatangi oleh siapa yang memiliki niat suci. Seperti halnya Sulaiman Hasyim (67), si penarik gerobak pasir. Setelah 29 tahun menabung, tahun ini dia bakal menginjakan kaki di Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah haji.

[caption id="attachment_2679" align="aligncenter" width="650"]Sulaiman Hasyim memegang gerobak pasirnya di depan rumahnya. Sumatera Ekspres/JawaPos.com Sulaiman Hasyim memegang gerobak pasirnya di depan rumahnya. Sumatera Ekspres/JawaPos.com[/caption]

Matahari sangat terik siang itu. Seorang pria yang rambut dan jenggotnya berwarna putih duduk di sebuah kursi rotan.

Begitu santai. Tidak memakai baju. Hanya celana panjang gobor ungu. Sedikit kusam dan berdebu. Keringat masih menetes di keningnya.

Tangannya tampak masih kekar, plus garis-garis di wajahnya, cukup menggambarkan betapa keras kehidupan yang dijalani selama ini.

Dialah Sulaiman Hasyim (67). Tahun 2016 ini, jika tidak aral melintang, warga Jaln Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) I, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) itu akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Keberangkatannya tidak sendiri. Melainkan bersama sang istri tercinta, Nuriyah (58).

“Saya lagi istirahat. Capek, habis narik (gerobak, red) tadi. Kebetulan istri saya lagi keluar, melayat orang meninggal,” kata Sulaiman kepada wartawan Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group) yang berkunjung ke rumahnya, Senin (25/4).

Di rumah sederhana itu, Sulaiman hanya tinggal berdua dengan istrinya. Rumah itu berlantaikan papan, sebagian dilapisi tikar plastik kuning bermotif kotak-kotak. Tidak ada perabot berharga. Yang ada hanya satu set kursi rotan.

Dinding rumahnya yang bercat kuning memudar dan penuh bercak, hanya berhias fotokopi selembar kertas berfigura coklat.

Sulaiman bercerita. Baginya butuh perjuangan ekstraluar biasa untuk memuluskan niat suci untuk berhaji. Maklum, dia hanyalah seorang penarik gerobak pasir.

Sementara, biaya haji saat ini lebih kurang US$2.717 atau sekitar Rp35,321 juta (kurs US$1 = Rp13.000) per jemaah.

Tapi, dia tak kenal lelah. Uang Rp50 juta, berhasil dikumpulkan dan disetorkannya ke sebuah bank di Jalan Jenderal Sudirman, sebagai biaya awal ongkos naik haji (ONH) sejak tahun 2010 lalu. “Rp50 juta itu untuk setoran berdua. Saya dan istri,” lanjutnya. (Selanjutnya : Angkut Pasir Sejak 1987)

Mengumpulkan uang Rp50 juta, bukan perkara mudah. Apalagi istrinya saat ini tidak bekerja. Sulaiman benar-benar banting tulang, peras keringat. Sakit pun terkadang tidak dirasa.

Dari pagi sekitar pukul 07.00 WIB, dia sudah stand by menunggu pesanan di depot pasir bersama gerobak kayunya. Pulangnya sore pukul 16.00 WIB.

Dalam sehari, dia bisa menarik 2 hingga 4 gerobak pasir. Jarak pengangkutan memang tidak terlalu jauh. Masih di kawasan 1 hingga 2 Ilir.

Tak hanya pasir, tapi terkadang “pelanggannya” juga sekalian minta antar semen 2 atau 3 sak.

“Dulu saya masih bisa menarik gerobak hingga tujuh kali. Tapi, sekarang tidak kuat lagi. Sudah tua. Sekarang, kalau ada pesanan pasir sore, baru saya antar besok paginya,” kata Sulaiman.

Pengakuan Sulaiman, penghasilnya bervariatif. “Saya ambil pasir segerobak di depot seharga Rp20 ribu. Kalau ada pemesan, langsung saya antar. Harganya per gerobak tidak tentu. Ada yang bayar Rp25 ribu, Rp30 ribu, Rp40 ribu, bisa juga Rp50 ribu. Kadang-kadang, ada yang ngasih lebih hingga Rp100 ribu,” sambungnya.

Profesi sebagai penarik gerobak pasir ini sudah dijalani Sulaiman sejak tahun 1987.

Lebih kurang 29 tahun itulah, sedikit demi sedikit uang dikumpulkannya hingga terkumpul sekitar Rp50 juta lebih. Selain disimpan, sebagian juga dibelikan emas. “Semuanya untuk ongkos haji,” lanjutnya.

Hingga saat ini, Sulaiman dan istri sudah menjalani manasik haji sebanyak tujuh kali di sebuah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di 1 Ilir.

“Insya Allah berangkat tahun ini juga. Tinggal nanti membayar sisa setoran saja. Semoga tidak ada halangan. Saya tawakal saja,” lanjutnya.

Sembari menunggu keberangkatan, Sulaiman tetap menarik gerobak pasir seperti biasa. Rupiah tetap harus dicari untuk membayar sisa setoran nanti. Tekadnya benar-benar bulat. (Selanjutnya : Semua Anaknya Meninggal saat Masih Kecil)

“Tak ada pikiran lain selain ingin pergi haji. Mau cari apalagi selain ibadah. Apalagi, anak-anak sudah tidak ada lagi,” lanjutnya.

Ketika menyebut “anak-anak tidak ada lagi”, kata-kata dari mulut Sulaiman sedikit tersendat. Bibirnya bergetar. Helaan nafasnya terdengar panjang. Meski tidak ada bulir air mata mengalir, tapi matanya sedikit memerah. Pandangannya sempat tertegun ke langit-langit rumahnya yang sudah banyak bolong dimakan rayap.

Sesekali, suaranya nyaris tak terdengar. Tidak ada isak. Tapi, sedikit hanyut dalam keharuan. “Sejak anak-anak meninggal, hidup saya terasa tidak tentu. Tapi, itulah takdir. Yang penting tetap tawakal dan ridho,” lanjutnya.

Sulaiman bercerita, dirinya sebenarnya punya tiga anak. Namun, meninggal semua karena sakit. Anak pertama, meninggal sewaktu masih bayi. “Saya bahkan tidak bisa mengingat siapa nama anak pertama saya,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, anak kedua bernama Syuaib, meninggal di usia 13 tahun. Sedangkan anak ketiga, Siti Hajar meninggal di usia 8 tahun.

Menurut Sulaiman, hidupnya terasa hampa pascakepergian tiga buah hatinya. Dirinya sempat putus asa. Tidak tentu arah. Bekerja dan menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting.

“Tapi, saya sadar. Semua sudah suratan-Nya. Saya sudah tua. Di sisa umur saya, lebih baik bertekad memperbanyak ibadah. Untuk apalagi hidup ini selain untuk ibadah. Karena semua akan kembali kepada-Nya,” tukasnya. (NOVI HARIYANTO-Palembang/JPG)

Tidak ada komentar