Wanita Hebat dari Jambi, 22 Tahun Mendidik Anak Kebutuhan Khusus


[caption id="attachment_2691" align="aligncenter" width="600"]Tri Dasmawati saat mengajar ABK. Foto: Jennifer Agustia/Jambi Independent Tri Dasmawati saat mengajar ABK. Foto: Jennifer Agustia/Jambi Independent[/caption]

SUNGGUH luarbiasa Tri Dasmawati. Perempuan ini sudah 22 tahun mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dengan penuh kesabaran, dia terus memompa semangat anak didiknya. Seperti apa kegiatannya?

ANAK Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak-anak yang istimewa. Anak tunanetra misalnya. Di tengah berbagai kekurangan, mereka tetap memiliki semangat belajar yang tinggi.

Bagi anak yang normal, tentu akan lebih mudah menerima pelajaran. Namun, anak-anak tunanetra tidak bisa menikmati apa yang orang normal rasakan. Bahkan, untuk bisa membaca saja, harus mereka dapatkan dengan bersusah payah.

Tri Dasmawati, adalah guru kelas tunanetra di SLB Prof. Sri Soedewi. Dia sudah 22 tahun mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya tunanetra.

Perempuan kelahiran 1965 ini, sudah lama berkecimpung dan membimbing anak-anak tunanetra dari awal hingga mereka bisa membaca. Tentunya, tidak membaca menggunakan huruf latin, melainkan huruf braille.

Jambi Independent (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu berkesempatan masuk ke kelas yang diisi oleh tujuh orang siswa. Ruangan itu tak begitu besar, bisa dikatakan cukup sempit.

Anak-anak yang belajar di dalamnya adalah penyandang tunanetra. Ada yang tunanetra total, ada juga yang lovisen atau bisa melihat dengan menggunakan kacamata yang sangat tebal. (Selanjutnya : ”Daya tangkap mereka sama dengan anak normal")

Ibu Das, begitu ia akrab dipanggil, dengan sabar melatih anak-anak menggunakan alat baca tunanetra bernama Reglet. Alat bantu ini memudahkan mereka menulis huruf braille dengan cara melubangi. Di kelas tersebut diisi oleh murid kelas II, kelas III, kelas IV, dan kelas V. Mereka secara bergiliran diajar oleh Dasmawati.

Tri Dasmawati mengatakan, sebenarnya anak-anak tunanetra kemampuan otaknya hampir sama dengan anak normal. Namun, keterbatasan mereka yang tidak dapat melihat, membuat proses belajar mereka lebih lama.

”Daya tangkap mereka sama dengan anak normal. Cuma kekurangannya tidak bisa melihat,” katanya.

Butuh kesabaran dan ketekunan untuk melatih anak-anak tunanetra ini membaca saja. Sebab, mereka tidak mengenal huruf dan benda apapun karena buta dari lahir.

Pertama yang harus dilakukan adalah mengenalkan mereka dengan alat bantu menulis dan membaca.

”Sebelum dipakai kertas, ada alat bantu papan baca. Dikasih baut yang disusun sejajar dan rapat. Mereka dikenalkan dengan huruf melalui lobang-lobang yang ada di papan baca tersebut. Misalnya huruf A, dipasang satu baut. Menyerupai huruf braille,” katanya.

Untuk anak tersebut menghafal, semua huruf dalam tulisan braille, dibutuhkan waktu yang bervariasi. Setiap anak, menurutnya memiliki kemampuan dan daya tangkap berbeda.

”Tergantung bagaimana mereka belajar, dan kerajinan mereka. Ada yang seminggu, sudah bisa mengenal huruf dan menulisnya dalam huruf braille,” katanya.

Namun, meski memiliki keterbatasan dalam diri mereka, ABK ini memiliki keinginan kuat untuk belajar. Dan untuk itu, dibutuhkan orang-orang berkemampuan khusus pula untuk membimbing para ABK ini. (JENNIFER AGUSTIA, Jambi/jpnn)

Tidak ada komentar