Aiptu Mustamin 'Ketahuan' Nyambi Jadi Tukang Tambal Ban


[caption id="attachment_3113" align="aligncenter" width="670"]Aiptu Mustamin. Foto: mappesona/merdeka.com Aiptu Mustamin. Foto: mappesona/merdeka.com[/caption]

Tangannya yang mulai dimakan usia masih cekatan menambal ban motor. Jasa tambal ban yang sudah digelutinya selama 20 tahun berdiri di kawasan monumen Mandala, tepat di belakang kantor Pengadilan Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya di ujung Jalan Amanaggapa, yang memotong Jalan Jenderal Sudirman.

Bayarannya relatif murah. Tambal ban dibanderol Rp 15 ribu, sedangkan buat tambah angin satu ban sepeda motor dihargai Rp 1.000. Sembari kendaraan dikerjakan, Anda bisa sambil minum kopi dan minum-minuman ringan di seberang jalan, dilayani istri sang tukang tambal ban ini.

Ternyata pemilik kios tambal ban itu adalah Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Mustamin (57), dan istrinya, Nursin Warlela (53). Sudah lama keduanya mencari penghasilan tambahan buat menghidupi keluarga, selain dari gaji seorang abdi negara. Sudah 20 tahun dia menekuni pekerjaan itu.

Menjadi tukang tambal bagi Mustamin ternyata bukan sekadar mencari penghasilan tambahan, tetapi juga menyalurkan hobi. Dia berusaha menebalkan telinga dari cibiran orang. Anak-anaknya juga sempat meminta supaya dia berhenti menjadi tukang tambal ban. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka luluh juga. Bahkan dua dari empat anaknya juga menjadi polisi.

Mustamin ngotot menjadi tukang tambal saat lepas tugas, dengan catatan tidak boleh bekerja hingga malam. Sang istri juga menjual kopi menggunakan gerobak.

"Anak-anak sempat meminta berhenti, bukan karena malu melihat orang tuanya bekerja di pinggir jalan jadi tukang tambal ban, melainkan karena mengkhawatirkan saya yang sudah tua. Makanya diminta tidak sampai malam hari. Buktinya, kalau ada di antara mereka sedang tidak tugas dan berada di Makassar, mereka kadang ikut membantu mencungkil ban untuk ditambal," kata Mustamin.

Setelah pulang berdinas pada pukul 16.00 WITA, Mustamin lantas berganti seragam. Kakek tiga cucu ini mengaku mendapat ilmu menambal ban dari kenalannya. Awalnya dia belajar hanya buat kebutuhan pribadi. Yaitu jika suatu hari sepeda motornya bermasalah. Namun, lambat laun dia berpikir keahliannya bisa mendatangkan uang. Dia pun mulai serius menambal ban. Dalam sehari, kadang dia bisa mendapat Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, dari tambal ban atau menambah angin.

"Saya kerja jadi tukang tambal kalau lepas tugas, dan benar-benar tidak ada tugas dari kantor atau perintah dari komandan. Sehingga kedua profesi ini tidak saling mengganggu. Saat menjadi tukang tambal ban pun saya tidak pernah mau cerita, atau mengaku-ngaku sebagai polisi. Hingga suatu hari pernah ada warga yang datang ke kantor, dan melihatku berseragam langsung menegur, kalau bapak yang pernah tambal ban kendaraannya ternyata polisi," tutur Mustamin yang bertugas di satuan Sabhara penjagaan objek vital.

[mdc]

Tidak ada komentar