Ini Dia Rendang Paling Enak se-Jakarta


[caption id="attachment_3183" align="aligncenter" width="780"]KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Seporsi nasi rendang di Rumah Makan Si May dihargai Rp 25.000, termasuk es teh manis. KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI
Seporsi nasi rendang di Rumah Makan Si May dihargai Rp 25.000, termasuk es teh manis.[/caption]

Bisa dibilang, rendang adalah 'masakan inti' dari rumah makan Padang. Dari semua restoran Padang di Jakarta, ada satu yang pernah mendapatkan penghargaan rendang terenak.

Bukan Sederhana, bukan Simpang Raya, atau jaringan restoran besar lainnya yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai pembuat rendang terenak. Adalah Simay, restoran dan katering milik Hj Meyyulis yang kini tersebar di 4 lokasi di Jakarta.

"Awalnya, tahun 1980-1981 saya jualan Ketupat Padang di Tanah Abang," tutur Hy Meyyulis, biasa dipanggil Bu May, kepada KompasTravel, Senin (30/5/2016).

Sejak 1982, Bu May merintis warung nasi Padang dengan resep turunan dari ibunya. Penghargaan pertama diterima Bu May pada 25 Desember 2011, sebagai Juara 1 Festival Masakan Khas Minang yang digelar UPTD Anjungan Sumbar TMII.

"Waktu itu yang ikut kompetisi ada 100 orang, termasuk Sederhana dan Simpang Raya. Alhamdulillah juara pertama," tuturnya.
Rahasia Rendangnya adalah...

Waktu itu Bu May menampilkan tiga masakan yakni rendang, dendeng, dan ikan sampadeh. Rendang buatan Bu May punya ciri khas tersendiri, yakni menggunakan daging 'kelapa' pada sapi. 'Kelapa' merupakan bagian daging sapi yang berasal dari paha belakang bagian atas.

"Daging itu terkenal sulit diolah. Biasanya membuat rendang menggunakan daging kelapa pasti hancur, tapi saya tidak. Itu yang membedakannya," papar Bu May.

Dendeng sapi yang disajikan pun serta-merta membuat panitia 'terhipnotis'. Bu May memaparkan, dendeng buatannya tidak alot melainkan renyah seperti kerupuk. "Digoreng dua kali, menggunakan minyak yang tidak biasa juga," lanjutnya.

Satu tahun berikutnya, tepatnya pada 26 Juni 2012, Bu May menjuarai Festival Rendang Padang "Rendang Mendunia" yang digelar di Taman Budaya Sumbar, Kota Padang. Bu May menjadi pemenang "Terbaik Kategori Rang Rantau" mewakili DKI Jakarta.

"Waktu itu saya sedang pulang ke Pariaman. Saya ikut kompetisi itu sebagai perwakilan DKI Jakarta. Peserta yang lain sangat khas Minang," tutur wanita kelahiran Padang, 3 Mei 1962 itu.

Restoran Simay kini berlokasi di tiga tempat yakni Palmerah Barat, Palmerah Utara, dan Tanah Abang sebagai kantor pusat. Bu May juga melayani katering aneka masakan Padang.

Penasaran dengan rasa rendangnya, KompasTravel pun beranjak ke rumah makan Simay di Jalan Palmerah Barat. Seporsi nasi putih disajikan dengan sayur nangka, daun singkong, juga sambal hijau yang ditambah ikan bilis. Keunikan lainnya, seporsi nasi putih disajikan dengan keripik singkong balado yang diiris agak tebal.

"Jadi Bapak saya asli Batusangkar, ibu saya asli Pariaman. Masakan yang disajikan di restoran adalah akulturasi keduanya," tutur Bu May.

Dia menjelaskan, rahasia kekayaan rasa di tiap masakannya adalah pada bumbu. Makanan di semua restoran berasal dari satu dapur, dan Bu May sendiri yang meracik bumbunya.

"Sekarang banyak rumah makan Padang yang pakai bumbu instan. Kalau saya, semuanya pakai racikan asli dan resep turunan," tambahnya.

Rendang 'andalan' Bu May berwarna merah dengan rasa pedas yang lebih nendang. Selain rendang, Bu May menjelaskan, menu andalan rumah makannya adalah gulai gajebo, gulai kambing, dan sampade ikan.

"Kalau di Tanah Abang, yang wajib dicoba adalah menu gurame bakar. Favorit pengunjung," tuturnya.

Selama Ramadan, rumah makan Simay dibuka menjelang waktu berbuka puasa hingga jam yang tak ditentukan. "Sehabisnya masakan," kata Bu May. [kompas]

Tidak ada komentar