Kisah Dibalik Banjir Bandang Langkat, Abang Ikut Tewas Karena Selamatkan Adik


[caption id="attachment_3180" align="aligncenter" width="900"]Kedua korban yang merupakan saudara kandung saat masih hidup. Kedua korban yang merupakan saudara kandung saat masih hidup.[/caption]

Banjir bandang yang melanda pemandian Kolam Abadi di Desa Rumah Galoh, Sei Bingeh, Langkat, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Pantas Simamora dan istrinya J br Simarmata. Dua anaknya meninggal, sedang dua lagi mengalami trauma dan luka-luka.

Keduanya adalah Johannes Arisona Simamora (27) alias Sona dan adik bungsunya Gloria Maranata br Simamora (15). Dari lokasi kejadian, jenazah Johannes sudah terlebih dulu dievakuasi ke rumah duka di Jalan TB Simatupang, Kelurahan Kahean, Siantar Utara.

Sejak tiba di rumah duka, Senin (30/5) pukul 03.00 WIB, isak tangis tidak henti-hentinya memenuhi rumah tersebut. Keluarga, kerabat serta teman-teman Johannes silih berganti berdatangan melihat jenazah Sona.

“Sona alusi au (Sona jawab aku). Boha nama on Sona (bagaimananya Sona?). Sona. tenang nai ho bapa (tenang sekali kau bapa). Alusi omakmu on Sona (Jawab ibumu ini Sona). Alusi jo hami Sona (Jawab dulu kami Sona). Amang Sona (Aduh Sona),” isak keluarga Johannes sembari memeluk jenazahnya.

Jenazah Disandingkan


Tadi malam sekira pukul 20.00 WIB, jenazah Gloria menyusul dan sampai di rumah duka. Suasana yang sempat hening di lokasi pun kembali pecah. Keluarga terlihat langsung keluar dari rumah untuk menjemput jenazah Gloria yang masih di pinggir jalan, dibawa menumpang ambulan.

Selanjutnya jenazah dibawa masuk ke rumah duka. Isak tangis terdengar bersahutan. Kedua orangtua, keluarga serta teman-teman Gloria tak henti-hentinya menangis sembari memeluk jenazah remaja yang sudah terbujur kaku itu. Selanjutnya, jenazah Gloria dibaringkan di sebelah kanan jenazah Johannes.

Sebelumnya setelah sempat dinyatakan hilang, akhirnya Gloria Maranatha br Simamora, satu dari tiga korban banjir bandang, ditemukan dengan kondisi tak bernyawa. Jenazah gadis muda ini ditemukan tim SAR gabungan, Senin (30/5) pukul 08.00 WIB, pada radius 300 meter dari lokasi korban dilaporkan terseret arus.

“Proses evakuasi kita lakukan tadi pagi. Jenazah sempat disemayamkan di Puskemas Namo Ukur Selatan, menunggu dijemput keluarganya,” kata Kapolres Binjai, AKBP Mohamad Rendra Salipu melalui Kapolsek Sei Bingei, AKP Lintas Pasaribu. “Saat ditemukan, Gloria sudah tidak bernyawa dengan kondisi luka di bagian kepala dan kaki,” jelasnya.

Sementara Andreasi, adik dari Johannes dan abang dari Gloria, bercerita sedikit terkait kejadian itu. Menurut pria yang masih dalam kondisi kurang baik ini, sesaat sebelum peristiwa itu berlangsung, mereka tengah berenang di pemandian itu.

“Tiba-tiba ada orang yang menjerit. Air, air, air, katanya. Tapi abangku si Johannes bilang jangan langsung panik. Dipeluknya si Gloria. Terus datanglah air, dua sampai tiga meter tinggi air itu. Ada kulihat kayu, melompatlah aku ke kayu itu. Di kayu itu aku bergantung sebelum diselamatkan polisi. Kalau si Andreas langsung naik ke batu, langsung selamat dia,” kisahnya.

Namun naas dialami Gloria. Ketika berpegangan dengan Johannes, Gloria terlepas lalu terbawa arus. “Sebenarnya sudah selamatnya di Johannes. Tapi melihat si Gloria yang terbawa arus, si Johannes pun berenang lagi mencari si Gloria. Jadi ikut hanyut dia,” imbuh mahasiswa salah satu universitas swasta di Medan ini.
Anak yang Tanggung Jawab

Dengan tewasnya Johannes dalam bencana alam itu, keluarga, teman serta warga sekitar, merasa sangat kehilangan. Apalagi selama ini, Johannes dikenal sebagai anak yang sangat bertanggungjawab.

“Kuliahnya dia sendiri yang biayai. Dia kuliah di Unimed. Sambil kuliah dia jadi pengajar Binaraga. Sampai sekarang pun dia masih jadi pengajar Binaraga. Baik orangnya, bertanggungjawab. Dia juga jadi tulang punggung keluarganya,” ucap H Silalahi, warga sekitar.

E Simamora, keluarga Johannes juga menuturkan, sejak masih menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Johannes sudah memiliki berbagai prestasi.

“Waktu SMA dulu dia sudah juara lomba lari. SMA 2 dia dulu. Kalau Binaraga itu sejak kuliah didalaminya. Belakangan inipun baru juara dia di Medan. Dalam pertandingan angkat barbel. Sekalian merayakan itunya orang itu ke sana, makanya diajaknya adik-adiknya jalan-jalan,” jelasnya. (fes/hez)

Tidak ada komentar