Mengharukan, Begini Kalimat Terakhir Eka Saat Banjir Bandang Menerjang


[caption id="attachment_2992" align="aligncenter" width="600"]Keluarga korban yang jenazahnya masih belum diidentifikasi menangis menunggu di RS. Bhayangkara Medan, Selasa (17/5). Foto: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS/Jawa Pos Group Keluarga korban yang jenazahnya masih belum diidentifikasi menangis menunggu di RS. Bhayangkara Medan, Selasa (17/5). Foto: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS/Jawa Pos Group[/caption]

EKA Rahmadani (20), mahasiswi Universitas Darma Wangsa Jurusan Ekonomi Akutansi Semester IV merupakan salah satu korban atas bencana alam tanah longsor dan banjir bandang di Tempat Wisata Air Terjun Dua Warna Sibolangit Kabupaten Deliserdang, Sumut, Minggu (15/5).

Ilda Utari, Bibi korban yang datang ke RS Bhayangkara Medan bersama paman korban Abdul Haris dan keluarga lainnya saat dijumpai wartawan mengatakan bahwa pihak keluarga di Medan mendapat kabar dari temennya yang sama-sama pergi di lokasi bencana tersebut.

Menurut temannya, yang ditirukan Ilda, dia sempat memegang lengan Eka, tapi arus air yang kencang membuatnya tidak sanggup menahan beban dan Eka memintanya untuk melepaskan pegangan tangannya.

"Dia (temen Eka) sempat memegang lengan Eka, tapi kondisinya berat dan Eka memintanya untuk melepaskan pegangannya," ujar Ilda menirukan perkataan temennya di RS Bhayangkara Medan, kemarin.

Ditambahkannya, Eka meminta temannya melepaskan tangannya dengan alasan sudah tidak sanggup lagi. "Lepaskanlah…sakit.. aku sudah tidak tahan…Ucap Eka yang ditirukan temannya," kata Ilda.

Dijelaskan Ilda, bahwa Eka tinggal di Medan. Kost di Jalan Glugur dan sedang mengikuti study di Universitas Darma Wangsa. Sedangkan orang tua Eka tinggal di Sabang Aceh.

Ilda juga mengisahkan pesan terakhir Eka kepadanya agar tidak menghapus poto-potonya yang berada di telpon selularnya. "”Wak, poto-poto awak jangan dihapus ya”. Itulah pesan terakhir Eka seminggu lalu kepada saya," ujar Ilda.

Sementara itu, Uli Simanjuntak teman satu Kost Eka di RS Bhayangkara mengisahkan kejadian sebelum mereka berangkat menuju Air Terjun Dua Warna Sibolangit Deli Serdang.

Menurut Uli, pada Hari Jumat (13/5), dirinya sempat memberikan nasehat kepada Eka agar tidak ikut pergi bersama teman-temannya dari Kampus UMSU.

"Saya nasehati dia (Eka) untuk tidak ikut pergi. Tapi dia tetap ingin pergi. Bahkan dia mengajak saya untuk ikut pergi. Tapi, karena saya akan beribadah ke Gereja makanya saya tidak ikut," ucap Uli.

Namun, sambung Uli, Eka memberikan jawaban yang terkesan garing didengar atas nasehatnya. "Mati tinggal dikubur kak," ujar Eka ditirukan Uli.

Pada hari Minggu (15/3), lanjut Uli, sekitar pukul 05.00 WIB dirinya juga dibanguni oleh Eka untuk mengajaknya ikut pergi ke Sibolangit. Tapi, dirinya tidak terbangun dan ketika terbangun pintu kamar Eka sudah terkunci."Sekitar jam 05.00 WIB pagi saya dibanguni tapi saya tidak bisa ikut. Setelah saya bangun dan keluar kamar, saya lihat kamarnya sudah tutup," ujar Uli.

Uli mengenang Eka yang belakangan hari terakhir terus bersama dirinya. Uli juga merasakan ada hal yang gak enak dihatinya atas kepergian Eka menuju Taman Wisata Air Terjun Dua Warna.

"Perasaan saya sudah gak enak ketika tau dia mau pergi kemarin. Dia, pergi bersama temen satu kamarnya Siti Nuraida Mahasiswi UMSU. Tapi, Eka emank hobbi pergi jalan-jalan," kenang Uli yang tinggal satu kos bersama Eka di Jalan Glugur lorong VIII, Medan. (Bagus Syahputra, Medan/jpnn)

Tidak ada komentar