Meski Pas-pasan, Belasan Tahun Bapak Ini Jadi Guru Ngaji Tanpa Dibayar


[caption id="attachment_3017" align="aligncenter" width="600"]Hamid Karim di depan rumah tempat mengajari anak-anak mengaji. Foto:  Malut Post Hamid Karim di depan rumah tempat mengajari anak-anak mengaji. Foto: Malut Post[/caption]

Warga Desa Sangowo itu rela menyisihkan waktunya mengajar mengaji meski dirinya masih harus bergulat dengan kemiskinan.

Setiap pukul 16.30 sore, rumah Hamid Karim dipenuhi anak-anak. Mereka anak Desa Sangowo, Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, yang hendak belajar membaca Alquran. Jumlahnya banyak, mencapai 20 orang. Padahal rumah Hamid yang berdinding papan beratap rumbia hanya seukuran 8x8 meter.

”Totalnya ada sekitar 40 anak. Jadi terpaksa saya bagi dalam dua shift,” tutur Hamid saat ditemui Malut Post (Jawa Pos Group).

Shift pertama mendapat waktu belajar mengaji hingga pukul 17.30. Dikhususkan untuk anak usia 7 hingga 10 tahun. Usai shift pertama ini bubar, Hamid lanjut mengajar untuk usia 10 tahun ke atas hingga pukul 18.00.

”Usia 10 tahun ke atas hanya setengah jam tiap harinya. Karena mereka rata-rata sudah bisa membaca, tidak sulit lagi ngajarinnya,” ungkap pria 69 tahun tersebut.

Sejak 12 tahun belakangan, hidup Hamid memang disibukkan dengan kegiatan tersebut. Mengajari anak-anak membaca Alquran. Anak-anak desa yang benar-benar buta terhadap huruf Hijaiyah, hingga yang ingin memperlancar makhraj.

”Mereka datang sendiri untuk belajar. Ya sudah, saya ajarin saja,” kata bapak dua anak ini.

Pada tahun 2004, ketika awal mengajari baca Alquran, Hamid masih menumpang di gubuk orang, di atas lahan orang. Dua tahun kemudian, ia terpaksa menumpang di rumah iparnya lantaran gubuk tersebut diambil pemiliknya. ”Di rumah itu pun tetap mengajari orang mengaji,” kenangnya.

Saudara ipar Hamid lalu memberinya sebidang tanah. Di tanah itulah ia membangun rumah amat sederhana yang kini ditempatinya bersama keluarganya. Saat anak-anak datang mengaji, lantai tanah di rumah itu harus dialasi tikar. ”Meski sederhana, tapi setidaknya ini rumah sendiri. Lebih bebas menerima anak-anak yang mau belajar,” ujarnya.

Belasan tahun menjadi guru mengaji, Hamid tak mendapat bayaran. Sehari-hari, ia mengandalkan 100 pohon kelapa miliknya. Hasil panen kelapa yang dilakukan tiga kali setahun sama sekali tak mencukupi untuk biaya hidup.

”Tapi tidak mengapa. Setidaknya masih ada rezeki untuk makan,” sambungnya.

Usianya yang kini tak lagi muda membuatnya tak bermimpi mencari pekerjaan lain. Ia sudah senang dapat membagi ilmu agamanya pada generasi muda. ”Keinginan saya cuma satu, supaya anak-anak bisa baca dan mengamalkan Quran,” ujarnya.
(SAMSUDIN CHALIL, Morotai/jpnn)

Tidak ada komentar