Pasien di Klinik Budi Mulia Rata-rata Siswi SMA, Mahasiswi dan Istri Muda


klinik-Aborsi

Klinik Budi Mulia berdiri kurang lebih 15 tahun lalu. Saat itu, klinik tersebut masih memiliki peralatan terbatas dan tergolong kecil. Namun, sejak lima tahun terakhir, klinik Budi Mulia dengan Nomor izin RA .0201.10.1459 itu mendadak besar. Pasiennya pun langsung membludak. Apalagi klinik tersebut juga melayani pasien BPJS.

“Kalau klinik Budi Mulia ini sudah lama beroperasi, tetapi pasiennya saat pertama kali buka masih belum ramai dan prakteknya pun tergolong kecil,” kata dia.

Namun, sejak lima tahun lalu klinik tersebut makin ramai dikunjungi para pasien. Tetapi umumnya pasien yang datang berobat ke klinik tersebut berasal dari kaula muda (wanita). Dan sejak saat itu pemilik klinik langsung merenovasi dan memperbesar tempat prakteknya hingga tiga ruko berlantai tiga.

“Berkembangnya klinik Budi Mulia ini sejak lima tahun lalu. Mereka langsung membangun tiga ruko dengan tiga lantai. Panjangnya pun langsung bertambah, begitu juga dengan ruang persalinan,” ujar Banjarnahor, warga sekitar.

Tetapi, sambung dia, warga sekitar tidak mengetahui persis apa yang sudah dilakukan kedua dokter itu di dalam klinik Budi Mulia tersebut. Sebab, satupun pasiennya tidak ada yang pernah bercerita kepada warga sekitar. Kecuali para perawat dan bidan yang sering bercerita saat membeli makanan di warung.

“Perawat dan bidan itu pernah memang cerita, tetapi tidak ada yang berani melaporkan kejadian itu ke polisi karena takut,” sebutnya.

Senada dikatakan Ana, selama ini banyak pasien klinik Budi Mulia tersebut berstatus mahasiswi dan istri muda bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku SMA pasiennya.

“Rata-rata pasien klinik Budi Mulia itu wanita muda memang, ada di antaranya masih mahasiswi, istri muda bahkan pelajar setingkah SMA tetapi sudah hamil dan digugurkan di tempat itu,” ungkapnya.

Menurut dia, terbongkarnya praktek aborsi ilegal di klinik Budi Mulia itu tidak terlepas dari banyaknya perawat dan bidan yang bercerita di warungnya saat belanja makanan. Sebab, sehari-harinya dia bekerja menjual nasi tak jauh dari lokasi kejadian.

Meski begitu, masih kata dia, warga sekitar tidak mengetahui dimana tempat pembuangan janin setelah aborsi.

“Kalau itu kami tidak tahu dimana mereka (pelaku) membuangnya. Yang aku tahu ada septic tank dibuat tepat di depan klinik itu dua lokasi. Tempatnya pun sangat besar,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk tarif sekali melakukan aborsi, pengelola meminta sekitar Rp5 juta. “Tarifnya Rp5 juta bang, itu yang pernah diceritakan para pegawainya sebelum digerebek,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dusun (Kadus) 10, Desa Sei Semayang, Abdul Somat, mengaku tidak mengetahui adanya praktek aborsi ilegal tersebut.

“Saya tidak tau pak, yang aku tahu Klinik Budi Mulia ini menerima pasien yang sakit dan persalinan. Di luar itu saya tidak mengetahui apapun,” katanya singkat.

Terpisah, Kasubdit III/Jahtanras Polda Sumut, AKBP Faisal Napitupulu, mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap barang-bukti (BB) berupa janin yang diamankan dari septic tank klinik tersebut.

“Janin yang diamankan itu saat ini masih diperiksa di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kedua dokter yang diamankan itu untuk sementara dijerat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 36 tahun 2009 pasal 194 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan KUHPidana pasal 299 Jo pasal 346 Jo pasal 348 dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.(wol/roy/data1)

Tidak ada komentar