Profesor asal Batak ini Lebih Hebat dari Einstein


[caption id="attachment_2967" align="aligncenter" width="600"]Pantur Silaban Pantur Silaban[/caption]

Namanya mungkin asing di telinga generasi muda Indonesia sekarang ini. Namun, jika ada pertanyaan siapakah Albert Einstein dari Indonesia, maka Prof Pantur Silaban masih menjadi jawabannya. Bahkan Pantur Silaban disebut-sebut lebih hebat dari Einstein.

Hal ini tidak berlebihan mengingat pensiunan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) itu adalah fisikawan pertama di Indonesia yang mempelajari relativitas Einstein sampai tingkat doktor.

Ketertarikan pria kelahiran Sidikalang 79 tahun silam ini terhadap fisika bermula saat dia lulus dari ITB jurusan fisika. Selepas lulus, dia mengabdi pada almamaternya dengan menjadi staf pengajar.

Pada 1967 atau tiga tahun setelah diangkat menjadi staf pengajar, putra dari Israel Silaban dan Regina br Lumbantoruan ini berangkat ke Amerika Serikat (AS).

“I go there just for the General Relativity Theory, no other things,” kata Pantur.

“Itu yang ada di benak saya waktu itu,” imbuhnya lagi.

Di negeri Paman Sam itu, Pantur belajar Relativitas Umum dan diterima di Pusat Kajian Gravitasi Universitas Syracuse, langsung di bawah bimbingan Peter Gabriel Bergmann dan Joshua N Goldberg.

Di sana Pantur Silaban memasuki isu paling hangat yakni mengawinkan Medan Kuantum dan Relativitas Umum untuk menciptakan Teori Kuantum Gravitasi. Perwakinan dua teori itu sejatinya adalah impian utama Einstein, yakni meramu keempat interaksi yang ada di alam semesta dalam satu formulasi yang gagal ia peroleh sampai akhir hayatnya: Grand Unified Theory.

Namun, pekerjaan ini diselesaikan Pantur dengan disertasi berjudul “Null Tetrad, Formulation of the Equation of Motion in General Relativity” pada tahun 1971. Seniornya di ITB, (alm) Prof. Achmad Baiquni, selalu menyebut Pantur Silaban sebagai orang yang paling memiliki otoritas bila menyinggung teori Einstein.

Beberapa riset Pantur juga diterbitkan dalam Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer digunakan di berbagai kampus dalam dan luar negeri.

Dia juga beberapa kali diundang sebagai pembicara diInternational Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan Nobelis Fisika, Abdus Salam.

Tidak seperti ilmuwan lain yang cenderung menjadi atheis, Pantur justru merasa semakin dekat dengan Tuhan. Oleh karenanya, ketika dinobatkan sebagai pemenang Achmad Bakrie 2009, Pantur hanya bisa terkejut karena merasa tak ada apa-apanya dibanding Tuhan.

Menurutnya, Tuhan ada di balik setiap ciptaanNya. “Kalau mau mengenal kebesaran Allah, dalam persepsi saya, kenalilah ciptaan-Nya. Kalau mau mencintai Allah, cintailah ciptaan-Nya,” ujarnya. (batakgaul)

1 komentar:

  1. siapa bilang enstein atheis?! dia percaya Tuhan kok tapi bukan Agama

    BalasHapus