Selamat dari Tragedi Banjir Bandang Sibolangit Setelah 10 Jam Menggantung di Tebing


[caption id="attachment_2952" align="aligncenter" width="700"]Seorang wanita mendoakan Mordang Sualoan Harahap (18) dengan ritual basuhan air dan bacaan ayat-ayat suci di Posko Air Terjun Telaga Dua Warna, tak jauh dari lokasi air terjun, Senin (16/5/2016). Mordang adalah satu korban selamat dalam musibah air bah yang terjadi di lokasi Air Terjun Telaga Dua Warna, Sibolangit, kemarin. Foto : Ammar/Tribun Seorang wanita mendoakan Mordang Sualoan Harahap (18) dengan ritual basuhan air dan bacaan ayat-ayat suci di Posko Air Terjun Telaga Dua Warna, tak jauh dari lokasi air terjun, Senin (16/5/2016). Mordang adalah satu korban selamat dalam musibah air bah yang terjadi di lokasi Air Terjun Telaga Dua Warna, Sibolangit, kemarin. Foto : Ammar/Tribun[/caption]

Tragedi banjir bandang Sibolangit menyisakan berbagai kisah. Salah satunya kisah Mordang Sualoan Harahap (18) yang selamat dari tragedi banjir bandang Sibolangit. Saat ditemui di posko, ia hanya bisa berbaring lemah, pakaiannya basah oleh keringat yang merembes. Wajahnya pucat dan suaranya parau.

Mordang adalah satu dari 22 korban banjir bandang Sibolangit di Air Terjun Telaga Dua Warna, Sibolangit, yang berhasil selamat.

"Saya trauma. Saya kapok," ucapnya, saat ditemui di Posko Air Terjun Telaga Dua Warna, tak jauh dari lokasi air terjun, Senin (16/5/2016).

Dikatakan Mordang, dirinya selamat dari terjangan banjir bandang Sibolangit dengan cara bertahan (dengan berdiri) di tebing selama sepuluh jam.

Mordang sendiri menggambarkan kemiringan tebing itu hampir 90 derajat. Artinya, hampir tegak lurus.

"Dari jam dua siang sampai dua belas malam saya berdiri di tebing. Tebingnya hampir tegak lurus," katanya.

Selama berdiri sepuluh jam di tebing, hanya separuh telapak kaki Mordang yang bisa bertumpu pada batu. Tangannya mencengkram rerumputan yang tumbuh di bebatuan, menjaga diri agar tak sampai jatuh. Ia tak bisa banyak bergerak atau bergeser, apalagi membalik badan. Di bawahnya, selama waktu itu, banjir bandang mengalir dengan deras.

"Kalau saya gak kuat, saya mungkin sudah hanyut," katanya.
Adapun Mordang bukanlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Flora, seperti yang dikabarkan dalam kabar-kabar sebelumnya. Ia hanya ikut dengan rombongan mahasiswa STIKES Flora.

"Saya kebetulan memang berangkat sama rombongan mahasiswa itu. Saya diajak," katanya.

Mordang adalah pria yang baru saja dinyatakan lulus dari SMA Pondok Pesantren Darul Muslim. Saat ini, ia sedang mengikuti bimbingan belajar sebagai persiapan untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Selain dirinya, juga ada Riski Ayu Zahra (17), yang juga lulusan Pondok Pesantren Darul Muslim.

"Kami ada enam belas orang. Yang belum mahasiswa, saya sama Zahra (panggilan Riski Ayu Zahra)," kata Mordang.
(tribun)

Tidak ada komentar