EDAN! Oknum Polantas Ini Barter Tilang dengan Mesum sama Siswi SMK


[caption id="attachment_3266" align="aligncenter" width="530"]tuntut keadlian TUNTUT KEADILAN: Mediasi korban dengan pihak Polres Baru Kamis (9/6). | Radar Malang[/caption]

Korps Bhayangkara lagi-lagi dibuat malu oleh kelakuan anggotanya. Kali ini dilakukan seorang anggota Polantas Polres Batu, Malang, Brigadir EN.

EN tengah menjadi sorotan publik lantaran berbuat tak senonoh kepada salah seorang siswi SMK. EN mengiming-imingi korban dengan membebaskan sanksi tilang, asalkan bersedia "disayang-sayang".

Kejadian bermula saat korban berinisial DSS ditilang si polisi. Siswi SMK Swasta Kota Malang itu dibonceng pacarnya, Gusti Fajaruddin (21). Mereka ditilang di Jalan Semeru, Kota Batu. Keladinya, Fajar tak membawa SIM dan STNK asli alias hanya salinannya.

Brigadir EN lantas menawarkan sidang di tempat dengan membayar Rp 250 ribu.

”Masalahnya saya hanya bawa uang Rp 50 ribu,” kata Fajar, Kamis (9/6) di Polres Malang.

Dia akhirnya disuruh turun dari sepeda motor karena sepeda motor tersebut akan dibawa polisi.

Polisi tersebut menyatakan bahwa motor Fajar bisa kembali kalau pacarnya ’’diserahkan’’ kepada dirinya. Fajar lantas menolak.

TUNTUT KEADILAN: Mediasi korban dengan pihak Polres Baru Kamis (9/6). Radar Malang

Dia memilih membayar, asalkan pacarnya tidak menjadi jaminan motor yang ditahan.

”Saya carikan utangan kepada teman di Batu. Sementara itu, DSS disandera polisi,” kata Fajar yang berprofesi wiraswastawan tersebut.

Di sinilah dugaan asusila muncul. Saat Fajar mencari utangan, DSS dibawa ke pos lantas Alun-Alun Kota Batu. Dia dimasukkan di sebuah ruangan.

”Masak gak mau sih disayang-sayang sama polisi?” ucap DSS menirukan kata-kata polisi mesum tersebut. Tetapi, polisi itu tidak sampai memegang tubuh DSS.

Korban mengingat, oknum polisi tersebut bernama Negara seperti yang tertera di seragam. DSS menjelaskan, dengan mau disayang-sayang, motor yang ditilang akan dibebaskan.

"Gak perlu sidang, langsugn dilepaskan (motornya)," beber dia.

Saat melaporkan pelecehan itu, korban ditemani Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) yang dipimpin langsung oleh Tedja Bawana.(asa/abm/ami/mam/JPG)

Tidak ada komentar