HEBAT! Stop Jadi Pengemis dan Kerja Jadi Sopir meski Tak Punya Kaki


[caption id="attachment_3338" align="aligncenter" width="780"]Meski memiliki kekurangan karena terlahir tanpa dua kaki, namun berkat keuletannya, Nawir berhasil belajar mengemudikan mobil pick-up carteran. KOMPAS.com/Sukoco Meski memiliki kekurangan karena terlahir tanpa dua kaki, namun berkat keuletannya, Nawir berhasil belajar mengemudikan mobil pick-up carteran. KOMPAS.com/Sukoco[/caption]

Dengan gesit, tangan Nawir (29) yang memegang lap basah itu menyapu sisa-sisa tanah yang menempel pada knalpot dan besi sasis mobil pickup carry warna biru tersebut.

Tubuh warga Jl Tanjung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, itu lalu masuk ke kolong mobil sambil terus membersihkan setiap bagian tersulit mobil. Tak heran jika mobil yang dimilikinya secara kredit tersebut terlihat bersih hingga ke bagian bawah.

Terlahir tanpa memiliki kaki tak membuat dia kesulitan merawat dan mengemudikan mobil untuk mencari nafkah dengan melayani panggilan untuk mengangkut barang tersebut.

Dia mengaku hanya butuh waktu sebulan untuk belajar mengemudikan mobil dan merawatnya.

"Sekarang saya bisa merawat, servis dan mengemudikan mobil sendiri. Dulu belajarnya sama yang membawa mobil ini selama sebulan," ungkapnya, Rabu (13/4/2016).

Sebelumnya, banyak orang yang tidak percaya bahwa Nawir bisa mengemudikan mobil dengan kekurangan yang dimilikinya. Apalagi sejak fotonya yang diperiksa anggota Satlantas Polres Nunukan saat ada operasi kendaraan bermotor menyebar di media sosial.

Setelah membersihkan mobilnya, Nawir kemudian memasang tiga buah bambu sepanjang 50 sentimeter yang bagian bawahnya diberi lubang agar bisa terpasang pada pedal gas, pedal rem dan pedal kopling.

Usai mesin dinyalakan, bambu yang terpasang pada bagian gas tersebut dia tekan dengan menggunakan pahanya. Paha kanannya hanya sepanjang 20 sentimeter, paha kirinya 10 sentimeter.

Dengan cara seperti itu, Nawir mengemudikan mobil pickup-nya. Melihat caranya mengemudikan mobil, banyak yang merasa khawatir dengan keselamatan Nawir, termasuk polisi.

Nyatanya, meski telah mengurus SIM tujuh bulan lalu dan telah mengikuti tes keterampilan mengemudikan kendaraan di Kantor Polres Nunukan, hingga kini SIM yang didambakannya belum juga keluar. Padahal semua persyaratan telah dipenuhinya.

"Saya tidak tahu mengapa SIM saya belum keluar. Waktu dites mengemudi, polisi bilang oke cara saya bawa mobil," ungkap Nawir.

Akibat tidak memiliki SIM, Nawir mengaku kesulitan melakukan perpanjangan izin operasi mobil pick-up miliknya. Padahal usaha menyediakan jasa angkutan barang dengan mobil pick-up merupakan satu-satunya usaha yang bisa digelutinya untuk menghidupi keluarga, termasuk membayar angsuran kredit di bank.

Berhenti Mengemis Karena Anak


Sebelumnya, Nawir mengaku hidup dari belas kasihan warga dengan duduk di tengah pasar. Dengan kekurangan tubuhnya, dia berharap sedekah dari warga yang berbelanja.

Namun sejak anaknya lahir 4 tahun lalu, dia mengaku gelisah. Dia mengaku kasihan terhadap buah hatinya jika tahu orangtuanya hanya meminta-minta.

"Kasihan anak saya kalau tahu pekerjaan bapaknya berharap belas kasihan orang lain," katanya.

Tekadnya yang kuat untuk berhenti dari mengemis terkabul berkat tawaran dari kawannya di media sosial. Dari pertemanan di media sosial, dia mendapat tawaran dari seorang pemilik mobil untuk mengelola mobil pick-up angkutan barang.

Melihat banyaknya pembudidaya rumput laut di Nunukan yang membutuhkan mobil angkutan untuk membawa hasil rumput laut ke pengepul maupun ke pelabuhan, Nawir membulatkan tekad untuk mengelola mobil tersebut.

Hingga akhirnya dia membeli mobil tersebut dengan cara mencicil melalui bank. Sejak memiliki usaha angkutan barang tersebut, Nawir mengaku kehidupannya mulai berubah.

Dia mengaku sudah bisa membahagiakan anak istrinya dengan meninggalkan pekerjaan mengemis di pasar. Penghasilannya dari mengelola anggkutan barang juga mampu menopang hidupnya serta membayar cicilan di bank. (kcm)

Tidak ada komentar