Ibu Ini Berjalan Kaki 28 Km Tiap Hari Demi Sesuap Nasi


[caption id="attachment_3334" align="aligncenter" width="650"]Srianah bersama tiga buah hatinya saat menjajakan kue di Taman Merbabu, Malang. Dian Kristina/Radar Malang/JPG Srianah bersama tiga buah hatinya saat menjajakan kue di Taman Merbabu, Malang. Dian Kristina/Radar Malang/JPG[/caption]

Srianah adalah perempuan hebat. Meski suaminya mengalami stroke dan tidak bisa bekerja, dia pantang meminta-minta. Setiap malam Srianah dan tiga anaknya rela berjalan kaki dari rumahnya sambil mendorong rombong kue sejauh sekitar 28 km.

Jika melintasi Jalan Ijen, Malang tengah malam di bulan suci Ramadan ini, bisa jadi Anda akan melihat seorang ibu berjilbab yang mendorong rombong kue diiringi tiga anaknya yang masih kecil.

Penjual tersebut adalah Srianah, 41, warga Jalan Muharto Gang VII No 13, Kota Malang. Tiga anaknya adalah Tri Sutrisno, 11; Kurnia Putri, 9; dan adiknya, Dwi Astuti, 7.

Setiap setelah magrib, istri Suwarno, 55, itu menyusuri Jalan Muharto–Kebalen–Kawasan Klenteng–Pasar Besar–Ramayana–Kayutangan–Klojen–RSSA–Stasiun Kotabaru–Jalan Bromo–Jalan Ijen hingga terakhir mangkal di Jalan Jakarta.

Jika ditotal, dalam sekali jalan, dia bisa menempuh jarak sekitar 7 km. Ketika pergi pulang, mereka menyusuri jalan sepanjang 14 km. Dan ia berjualan dua kali. Sehingga kalau ditotalkan, jarak yang ditempuhnya dalam sehari mencapai 28 kilometer.

’’Saya harus bekerja seperti ini karena suami saya mengalami stroke dan tidak bisa bekerja,’’ katanya saat ditemui sekitar pukul 23.00 di kawasan Taman Merbabu, Malang.

Perempuan murah senyum itu menyatakan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai pukul 07.00 dirinya sudah berjualan kue hingga pukul 13.00. Namun, biasanya dia berjualan sendiri. Sebab, tiga anaknya bersekolah di SDN Kidul Dalem 2.

Nah, untuk malam, dia keliling lagi mulai pukul 18.00–23.00. Sebenarnya, ketika berjualan pada malam itu, dia hanya ingin jalan sendirian.

Namun, tiga anaknya memilih ikut berjualan. Sebab, jika tetap di rumah, mereka takut mengganggu ayahnya yang stroke.

Mengingat, kalau sedang kambuh, biasanya suami Srianah suka marah-marah.

’’Di rumah anak-anak sering dimarahi sama ayahnya. Jadi, mereka tidak kerasan dan memilih ikut saya,’’ ungkap Srianah.

Di pinggir jalan di bawah sinar lampu Jalan Merbabu, Srianah bercerita panjang lebar tentang jalan hidupnya. Selama delapan bulan, dia mendorong rombong untuk berjualan kue dengan berjalan kaki. (Lanjut : ’’Sebelumnya saya bekerja sebagai pemulung...")

’’Sebelumnya saya bekerja sebagai pemulung, Mbak,’’ ucapnya.

Namun, selama menjadi pemulung, penghasilan yang didapat kecil dan tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan itu dilakukan setelah suaminya yang bekerja sebagai tukang becak serta kuli bangunan mengalami stroke dan tidak kunjung sembuh.

Karena itu, tanpa pikir panjang, dia menggantikan suaminya mencari nafkah dengan menjadi pemulung rongsokan di Kota Malang.

’’Sebelum jadi pemulung, saya sebagai ibu rumah tangga,’’ katanya. Yaitu, merawat tiga anaknya yang masih kecil.

Sebenarnya, anak Srianah empat orang. Satunya bernama Dwi Kurniawan Putra, 18. Selama ini, Dwi membantu mencari nafkah dengan berjualan koran. ’’Dia juga yang sehari-hari menjaga suami saya,’’ kata lulusan SMK Kartika tersebut.

Namun, karena menjadi pemulung dapat uangnya sedikit, dia memilih berjualan kue. Yang dijual, antara lain, roti goreng, roti kukus, gorengan, nasi kuning, air mineral, dan teh gelas. Menurut dia, hasil jualan kue lebih besar daripada memulung.

Apakah anaknya tidak capek ikut berjualan? Srianah mengatakan, meski capek, selama ini anaknya tidak pernah kapok ikut berjualan. Sebab, mereka merasa lebih bebas bermain sambil mendampingi ibunya.

Pernah juga ada satu anaknya yang tidak kuat berjalan. Maka, Srianah memasukkan anaknya itu ke dalam rombong.

Aktivitas Srianah berjualan itu juga telah memantik banyak simpati dari masyarakat. Misalnya, dia pernah didatangi komunitas mahasiswa dan kemudian mendapat bantuan rombong untuk berjualan.

’’Sebelumnya saya pinjam rombong. Sekarang sudah milik sendiri setelah diberi bantuan oleh mahasiswa tersebut,’’ tuturnya.

Ditanya terkait dengan penghasilan dari berjualan kue, Srianah mengaku, dalam sekali jualan, jika laku semua, dirinya untung Rp 40 ribu. Jika berjualan dua kali, siang dan malam, dia untung Rp 80 ribu. Tetapi, jika kuenya tidak habis, keuntungannya tidak sampai sejumlah itu.

’’Kalau nggak habis, ya untungnya berkurang,’’ ucapnya.

Kurnia Putri, anak ketiga Srianah, menyatakan tidak masalah berjalan kaki mengikuti ibunya. Dia senang karena bisa membantu sang ibu dan belajar berjualan. ’’Ya, kadang capek dan ngantuk. Tapi nggak papa, yang penting sama ibu,’’ ujarnya.

Bahkan, dia mengaku masih tetap bisa belajar meski setiap malam ikut ibunya berjualan kue dengan berkeliling Kota Malang. (DIAN KRISTINA, Malang/JPG)

Tidak ada komentar