Beginilah Kondisi Makam Pendiri Kota Medan


[caption id="attachment_3421" align="aligncenter" width="730"]Makam Guru Patimpus, pendiri kota Medan. Makam Guru Patimpus, pendiri kota Medan.[/caption]

Kota Medan berulang tahun setiap 1 Juli. Tahun ini Kota Medan genap berusia 426 tahun. Dan tahukah anda bahwa pendiri Kota Medan adalah sosok bernama Guru Patimpus?

Setelah ratusan tahun, pada 2010 Tim Pussis Unimed yang saat itu dipimpin Sejarahwan Ichwan Azhari berhasil menemukan makam yang diyakini betul milik Guru Patimpus. Kondisinya sangat sederhana dengan gundukan tanah bernisankan dua batu.

Sejak ditemukan, pihak Pussis berharap Pemko Medan sudi kiranya memugar makam Guru Patimpus karena beliau adalah bagian besar dari sejarah Kota Medan. Namun setelah enam tahun, makam Guru Patimpus tetap saja dibiarkan seadanya.

Berikut kutipan pernyataan Ichwan Azhari terkait makam Guru Patimpus yang diposting di facebook pribadinya, 30 Juni 2016 malam.

Makam Guru Patimpus berdasarkan kepercayaan tradisional, ditemukan team dari Pussis Unimed pada lawatan ke Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak Deli Serdang pada tanggal 22 Maret 2010.

Waktu itu team dengan konsultan Pussis, arkeolog Inggris Dr. Edward McKinnon sedang mengadakan lawatan ke kawasan diduga peninggalan kerajaan Aru di situs Kota Rantang.

Di kantor Desa Kota Datar itu disebutkan oleh warga bahwa ada makam Guru Patimpus di desa itu (maksudnya Desa Lama?) dan team langsung putar haluan ke arah makam dimaksud.

Dalam laporan team makam Guru Patimpus kondisinya memprihatinkan, hanya gundukan tanah di semak-semak dengan nisan dari batu sungai dan tanpa ada tulisan apapun.

Berita temuan itu beberapa hari kemudian patik rilis dan dimuat di Harian Waspada Medan. Berita Makam Guru Patimpus ditemukan ini dibaca Bapak Syaiful Bachri, Sekda Kota Medan.

Pak Syaiful menghubungi patik dan patik langsung usul agar pemko Medan memugarnya. Tapi ketika patik jumpa lagi pak Syaiful di kantor Walikota dan dia kembali menanya lebih detail makam itu di mana persisnya. Patik lihat pak Syaiful gak begitu semangat memugar makam itu karena lokasinya di luar Medan.

Dia bilang mikir-mikir dulu apakah uang Pemko bisa digunakan untuk memugar sesuatu yang berada di luar wilayah Medan, nanti bermasalah pula ini, katanya waktu itu.

Lama tidak kedengaran apa yang dilakukan Pemko atas makam pendiri kota Medan ini. Pada tanggal 7 Mei 2016 di museum Kota China diadakan seminar tentang “Situs Kota China dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah” dengan narasumber antara lain arkeolog Balai Arkeologi Medan, Pak Lucas Pertanda Koesworo dan Edward McKinnon.

Pak Lucas beberapa hari sebelumnya baru dari makam Guru Patimpus dan dia menunjukkan foto-foto terbaru makam Guru Patimpus yang tidak jauh berbeda dengan makam yang ditemukan 2010.

Tetap belum ada pemugaran, hanya gundukan tanah, tanpa tulisan di batu nisan, tanpa ada petunjuk apapun. Patik perkirakanlah, lama benar sampai enam tahun Pemko Medan belum dapat cara bagaimana memugar makam pendiri kota Medan ini.

Patik tak yakin sampai saat ini apakah ada pejabat Pemko Medan yang sudah berkunjung ke makam Guru Patimpus itu. Patik juga lupa mengingatkan teman patik Datuk Adil Fredi Haberman yang disebut sebagai keturunan ke 13 dari Datuk Guru Patimpus.

Padahal tahun lalu patik dengan Datuk Adil menjadi narasumber berceramah hal kerajaan Aru dan asal usul Hamparan Perak di galeri pak Syaripuddin Siba Hamparan Perak, yang hanya beberapa langkah saja bisa pergi ke makam Guru Patimpus itu.

Kini patik lihat lihat Datuk Adil sering ada di kantor walikota Medan. Tidak selayaknyakah Datuk, selaku keturunan 13 Guru Patimpus meminta agar makam leluhurnya, pendiri kota Medan itu dipugar? Ataukah ada versi makam yang lain? Atau pantangkah keturunannya meminta seperti itu? Eloklah kita saja Datuk, bangun pugar sendiri?

(Ichwan Azhari/sejarahwan)

Tidak ada komentar