Bule Berjemur Ini Bikin Heboh Warga Sumbar


[caption id="attachment_3497" align="aligncenter" width="650"]BULE BERJEMUR: Dua bule berjemur di Pantai Padang, kemarin. Sontak aksi kedua bule itu mengundang perhatian pengunjung pantai--istimewa BULE BERJEMUR: Dua bule berjemur di Pantai Padang, kemarin. Sontak aksi kedua bule itu mengundang perhatian pengunjung pantai--istimewa[/caption]

Upaya Pemerintah Kota (Pemko) Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk mendatangkan banyak wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke daerah itu membuahkan hasil.

Namun respons kunjungan tersebut tidak seiring dengan filosofi adat budaya daerah setempat.

Pasalnya ada beberapa orang wisman dari luar negeri yang sengaja berkunjung ke Kota Padang dan memanfaatkan indahnya Pantai Padang.

Sayangnya di pantai itu para bule tersebut menikmati keindahan pantai dengan cara mengenakan bikini. Hal itu membuat warga dan wisatawan domestik lainnya jadi geger.

Cara berpenampilan tersebut berseberangan dengan filosofi adat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Dilansir dari Padang Ekspres (Jawa Pos Group), kejadian itu berlangsung pada Minggu (10/7). Hari itu ada serombongan bule berkunjung ke Pantai Padang dan berjemur hanya mengenakan bikini.

Hal itu langsung menjadi perbincangan di media sosial (medsos). Umumnya netizen di Kota Padang menolak keberadaan bule untuk berjemur dengan berbikini daerah tersebut.

Informasi yang dihimpun, awalnya ada foto bule berjemur beredar di media sosial. Tak lama kemudian, foto-foto lainnya pun beredar, termasuk foto pengunjung yang berfoto bersama bule berbikini tersebut.

”Kalau dibiarkan, bisa-bisa ditiru oleh anak kemenakan kita, bahkan meracuni pikiran generasi muda kita,” ujar David, salah seorang netizen.

Sukri, netizen lainnya menilai, meski sudah menjadi daerah tujuan wisata, Padang belum cocok dijadikan tempat berjemur oleh wisatawan asing. Sebab, jarak antara pantai dengan permukiman penduduk sangat dekat.

”Lebih baik ada lokasi khusus, misalnya tempat yang dibangun berpagar tinggi, masuknya membayar dan tidak bisa dimasuki sembarang orang. Jadi, meski ada orang berjemur, tidak akan mempengaruhi warga pribumi,” tulis Sukri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Medi Iswandi mengatakan, begitu mendapatkan laporan, petugas langsung mendatangi wisatawan tersebut dan memberikan pengertian serta kain penutup untuk tubuh mereka.

Mendapati kasus tersebut, menurut Medi dia akan mengingatkan para wisatawan melalui hotel. ”Nanti kita akan sosialisasikan mengenai rambu-rambu pakaian di Padang melalui pengelola hotel,” ujarnya. (w/iil/JPG)

Tidak ada komentar