CCB, Cantik-Cantik tapi Begal... Sadis Pula Lagi


begal-cantik

Modus dan motif begal sadis dalam melancarkan aksinya semakin beragam. Terbaru, para begal sadis melibatkan wanita cantik untuk merayu calon korbannya.

Begal sadis cantik ini menyamar sebagai wanita penghibur hingga menjadi PSK. Mereka mengincar korbannya lewat media sosial dan kontak BBM.

Setelah berkomunikasi lewat media sosial atau kontak BBM atau WA, mereka lantas mengajak ketemuan. Saat itulah, para begal sadis beraksi. Mereka tak segan-segan melukai dan membunuh korbannya.

Aksi begal sadis cantik ini terjadi di beberapa kota pasca Lebaran 2016 seperti di Bekasi Jawa Barat dan Jember Jawa Timur. Di Bekasi, aksi begal sadis berhasil merampas motor korban. Sedangkan di Jember, begal sadis cantik tak hanya merampas motor, tapi juga membunuh korbannya.

Begal sadis cantik di Jember yang nekat membunuh korbannya diketahui bernama Holifatul Jannah (23). Holifa bersama kemplotannya membunuh Fauzi (25) dan membawa kabur sepeda motor miliknya. Fauzi merupakan warga Dusun Curahcabe, Desa Gambirono, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jatim.

Fauzi ditemukan tak bernyawa di tepi saluran irigasi Dusun Pucukan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Kamis malam (21/7) lalu. Korban tewas di lokasi kejadian dengan luka bacok cukup parah di punggung dan kepala.

Untuk memuluskan aksinya, Holifa terlebih dahulu pacaran dengan Fauzi yang belum lama dikenalnya. Holifa lantas mengajak Fauzi ketemuan di tempat yang jauh dari keramaian. Di tempat itu, Holifa mengajak korban pesta minuman keras (miras).

Di saat korban sudah mabuk, teman-teman komplotan Holifa beraksi. Mereka datang memukuli korban hingga tewas. Selanjutnya, motor korban dibawa kabur.

Di saat korban tewas dan motornya dibawa kabur, Holifa pura-pura teriak minta tolong seakan-akan dia dan korban baru saja dirampok. Kasus tersebut lantas dilaporkan ke polisi.

Setelah diselidiki, polisi menemukan fakta mengejutkan. Polisi mencurigai Holifa sebagai otak pembunuhan sadis itu. Selain Holifa, teman Holifa yang juga bernama Fauzi (19), warga Karangrejo, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari juga dicurigai terlibat dalam perampokan dan pembunuhan sadis itu.

Saat melakukan interogasi terhadap Holifa, polisi mengendus sejumlah kejanggalan. Di antaranya, sebelum kejadian berdarah tersebut, Holifa paling getol mengajak korban berpesta miras, termasuk menggunakan uangnya untuk membeli miras.

Mengenai hal itu, saksi Fauzi juga menyatakan bahwa Holifa-lah yang mengajak saksi dan korban pesta miras lebih dahulu.

“Saya bilang ke Holifa bahwa saya nggak punya uang. Ternyata, Holifa bilang dia punya uang Rp 50 ribu dan nyuruh saya beli alkohol di apotek, air mineral, dan bubukan sachet,” jelas saksi Fauzi.

Lokasi pesta miras, menurut Fauzi, juga ditentukan Holifa. “Saya tak mengetahui nama lokasi (pesta miras) itu karena belum pernah ke sana. Yang mengarahkan ke lokasi selama perjalanan itu si Holifa,” jelas Fauzi. Yang jelas, jalannya tidak beraspal.

Nah, polisi mencium penentuan lokasi pesta miras yang gelap dan agak jauh dari permukiman tersebut sebagai sesuatu yang tidak wajar.

Kejanggalan berikutnya, saat akan pergi dari lokasi dan minuman tinggal sedikit, banyak SMS dan telepon yang masuk ke handphone Holifa.

Selanjutnya, saat berpapasan dengan pelaku, Holifa meminta berhenti dengan alasan ingin kencing dan ngotot minta diantar ke Fauzi, teman korban.

“Kenapa kencing kok malah minta antar teman korban? Bukan minta diantar pacar sendiri,” jelas sumber.

Dengan kecurigaan tersebut, polisi pun menginterogasi Holifa secara mendalam. Awalnya, Holifa yang kini hamil tiga bulan bersikukuh tidak mengetahui kasus itu. Namun, petugas tidak percaya begitu saja.

Akhirnya, Holifa tak kuasa menutupi sandiwaranya bahwa dirinya terlibat dalam kasus pembantaian itu.

Menurut Holifa, dirinya kesal dan sakit hati kepada korban karena pernah diolok-olok. “Dia ngata-ngatain saya macem-macem,” kata Holifa yang berstatus tersangka.

Karena kekesalan itulah Holifa berencana merampas sepeda motor korban yang notabene pacarnya sendiri. Untuk memuluskan rencananya, Holifa meminta bantuan Nurhadi (34), dan Didik Mulyono (20). Keduanya adalah warga Dusun Koto’an, Desa/Kecamatan Jatiroto, Lumajang.

Holifa mengatur strategi di rumah temannya, Umi Ahadiyah, 32, warga Dusun Nyioran, Desa/Kecamatan Jatiroto, Lumajang.

Bahkan, Umi yang sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka ikut memberikan ide untuk memuluskan aksi tersebut. Setelah rencana matang, skenario dilakukan dan korban pun dibantai.

Menurut Holifa, awalnya tidak ada rencana untuk membunuh korban. “Saya awalnya hanya menyuruh merampas motornya, tapi entah kenapa mereka (Nurhadi dan Didik Mulyono, Red) membunuh korban,” kilah Holifa.

Akhirnya, kedua pelaku ditemukan dalam satu rumah milik tersangka Umi. Mengetahui kedatangan petugas, Nurhadi dan Didik berusaha kabur.

Keduanya diberondong peluru hingga berhasil dilumpuhkan. Kepada petugas, keduanya mengakui perbuatannya.

Dalam kasus itu, Nurhadi bertindak sebagai eksekutor yang membantai korban dan Didik bertugas menyerang Fauzi rekan korban. “Untung, Fauzi berhasil menyelamatkan diri,” jelas petugas.

(jum/c1/hdi/c5/ami/pojoksatu/sdf)

Tidak ada komentar