Ini Bukan Lukisan Sembarangan, Ada Jiwa Bung Karno di Dalam, Simak Kisahnya...


[caption id="attachment_3679" align="aligncenter" width="600"]Bung Karno dan lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. Foto: Dok. Romy Soekarno, pemilik akun @RomyHRS Bung Karno dan lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung. Foto: Dok. Romy Soekarno, pemilik akun @RomyHRS[/caption]

MEDIANYA hanyalah selembar triplek. Lukisan itu menjadi latar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

"Lukisan bagus!" kata Bung Karno. "Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus…terus…terus bergerak maju. Paulatim longius itur!"

Lukisan itu pertama dilihatnya pada 1943, saat pameran senirupa di Keimin Bunka Sidosho (Pusat Kebudayaan Jepang), Jakarta.

Usai pameran, Si Bung menyambangi Henk Ngantung si pembuat lukisan yang tempo hari mencuri perhatiannya.

Melihat lukisan itu teronggok di sebuah sudut, sambil menunjuk ia berseru, "aku ingin membeli lukisan itu."

"Lukisan itu sebenarnya belum selesai," jawab Henk. "Bagian lengan si pemanah belum sempurna."

"Engkau pasti bisa menyelesaikannya sekarang juga!" Si Bung menyahut penuh hasrat.

"Untuk menyelesaikannya harus ada model," Henk menawar pinta.

"Aku, Soekarno, akan jadi modelnya…"

Saksi Revolusi Indonesia

Senarai dialog di atas, digubah dari tulisan Agus Dermawan T, konsultan koleksi benda-benda seni istana-istana presiden yang termuat dalam buku Bukit-bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung Karno.

Menurut cerita Agus, kisah itu disampaikan langsung oleh Henk Ngantung pada dirinya bulan September 1991.

"Dalam beberapa puluh menit proses memperbaiki lengan pemanah itu pun selesai," kata Henk Ngantung sebagaimana dinarasikan kembali oleh Agus Dermawan.

Bung Karno bergegas pulang membawa lukisan di triplek berukuran 152x152 cm tersebut. Langsung dipajang di beranda rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta Pusat.

Tak sakadar saksi bisu obrolan-obrolan Soekarno dengan para sekondannya, lukisan itu menjadi latar saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Dan ia kembali menjadi latar saat pemerintahan Republik Indonesia menggelar konferensi pers untuk pertamakali.

Lukisan berjudul Memanah itu masih tersimpan di Istana Negara, Jakarta. Sudah rusak. Di beberapa bagian, tripleknya mengelupas dan catnya rontok.

Pun demikian, bila tak ada aral melintang, lukisan legendaris tersebut akan dipamerkan sepanjang Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat dalam pameran bertajuk 17:71--Goresan Juang Kemerdekaan.

"Pameran ini terbuka untuk umum," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno saat konferensi pers di ruang sidang gedung utama Kementrian Sekretariat Negara, Senin, 25 Juli 2016.

"Gratis!" sambar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan seraya melempar senyum.

Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif) dan Sulaiman A.Arianto, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri (atas nama Mandiri Art) yang duduk bersamping-sampingan dengan bapak-bapak menteri di barisan depan, manggut-manggut mengamini. (Wenri Wanhar - JPNN)

Tidak ada komentar