LUAR BIASA! Dokter Ini Dirikan Klinik Khusus Lansia Miskin, Bayarnya Pakai Sampah


dokter mawarni arumi panis

Dokter Mawarni Arumi Panis membuka klinik kesehatan pribadi di Desa Baruga, Kanowe, Sulawesi Tenggara. Prioritas utamanya adalah masyarakat miskin yang lanjut usia (lansia).

SETIAP Kamis pagi sebuah klinik kesehatan pribadi atau yang lebih dikenal dengan dokter praktik di Desa Baruga, Kecamatan Uepay, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ramai dikunjungi warga lanjut usia. Sekitar pukul 05.00 Wita, mereka mulai berdatangan.

Jumlahnya mencapai seratus orang. Ada pasien yang menenteng kresek, ada pula yang membawa karung. Isinya adalah sampah, baik sampah plastik maupun kardus.

Para lansia tersebut hadir bukan karena sakit. Tetapi, mereka memiliki program cek kesehatan setiap Kamis pagi. Klinik kesehatan itu merupakan milik dr Mawarni Arumi Panis. Perempuan berdarah Jawa tersebut membuka program anggota klinik tetap (khusus lansia) yang rutin memeriksakan kesehatan sekali dalam sepekan.

Sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan, para lansia dikumpulkan di pelataran klinik untuk mengikuti senam pada pukul 06.00. Setelah itu, mereka menjalani pemeriksaan. Untuk biaya pengobatan, mereka cukup menukar sampah yang dibawa.

Klinik itu didirikan tiga tahun lalu. Bukan hanya klinik kesehatan, dokter tersebut juga mendirikan bank sampah untuk menampung barang bekas yang dibawa pasien saat berobat. Ide mendirikan klinik bank sampah tersebut dicetuskan suami Mawarni, Amarullah, yang pernah bertugas di BLH Konawe.

Selain pengobatan gratis, hasil sampah yang dikumpulkan pasien ditabung dan akan diserahkan kepada mereka. ”Alhamdulillah, tahun ini ada tabungan yang mencapai Rp 400 ribu,” ujar dr Mawar -sapaan Mawarni Arumi.

Klinik Mawar semakin tenar. Bukan hanya warga Desa Baruga yang datang berobat. Warga dari Kelurahan Uepay, Tawarotebota, dan Kecamatan Lambuya pun mulai berdatangan.

Setiap orang yang ingin berobat tetapi tidak memiliki uang bisa mengganti dengan mengumpulkan sampah. Selain pelayanan kesehatan, klinik Mawar memberikan penyuluhan pencegahan penyakit dan rehabilitasi bagi mereka yang baru sembuh dari sakit. (NEXT : Juga Terima Curhat dari Pasien)

Bagi Mawar, pemberian sampah untuk kesehatan sekaligus menjadi ajang edukasi bagi warga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Para lansia sangat termotivasi.

Bukan sekadar hubungan dokter dengan pasien, Mawar dianggap keluarga sendiri. Pertemuan setiap Kamis membuat anggota klinik mempererat hubungan silaturahmi. Mereka bagaikan satu rumpun keluarga. Saling berbincang dan berbagi pengalaman.

Mawar menerangkan, dirinya awalnya hanya mendirikan posyandu untuk lansia. Lama-kelamaan, muncul gagasan untuk memberikan pengobatan kesehatan gratis kepada lansia.

Agar para lansia tersebut memiliki penghasilan tambahan, bank sampah didirikan. Tak sekadar membawa barang bekas, para lansia itu dibina untuk membuat kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah-sampah tersebut. Ada bunga, pot, hiasan dinding, dan berbagai karya lain yang bisa menghasilkan rupiah.

”Sebelum berobat, warga harus mendaftar untuk menjadi anggota klinik. Tujuannya, saya hanya ingin membantu warga miskin yang kesulitan dan tidak punya uang untuk berobat. Warga sangat antusias bergabung, terutama para lansia. Bahkan, ada anak-anak dan remaja yang sering ikut program sehat ini,” jelasnya.

Produktivitas para lansia kembali bangkit. Mereka tetap memiliki kemampuan untuk menghasilkan rupiah. ”Kebetulan, suami saya pernah di BLH sehingga dia mengajari para lansia membuat kerajinan tangan yang bisa dijual. Hasilnya, karya mereka bisa diikutkan jika ada pameran,” ucap ibu dua anak tersebut.

Yang membuat para lansia betah menjalani program sehat, mereka menganggap klinik dr Mawar sebagai rumah sendiri. Bahkan, sesama lansia yang telah ikut program menganggap semua adalah keluarga.

Setiap masalah keluarga yang dihadapi selalu dicurhatkan di klinik untuk dicarikan solusi. Mawar sering memberikan surprise dengan menggelar syukuran bagi lansia yang berulang tahun. ”Orang tua saya jauh di Jawa. Karena itu, saya anggap mereka ini sebagai orang tua sendiri,” ungkapnya.

Mawar bersyukur karena ada 100 anggota klinik yang didirikannya. Dalam proses mempertahankan klinik untuk tetap beroperasi, Mawar mengaku menghadapi tantangan. Klinik tersebut sempat berhenti beroperasi selama enam bulan karena suaminya sakit. ”Yang penting, klinik tetap beroperasi dan tidak ada kendala keuangan. Semoga bisa terus membantu warga miskin,” tuturnya.

Mawar kali pertama menginjakkan kaki di Konawe pada 1999. Awalnya, dia mengabdi sebagai dokter PTT di Provinsi Bangka Belitung (Babel) pada 1997. Ketika itu, suaminya, Amarullah, diangkat sebagai PNS di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bangka Belitung. Mereka pun dipertemukan dan merajut rumah tangga.

Sejak 1999, Amarullah memilih kembali ke Konawe untuk mengabdi. Mawar pun harus ikut suami dan kembali terdaftar sebagai dokter PTT di Konawe. Dia mengabdi di Puskesmas Onembute.

Setahun kemudian, Mawar diangkat menjadi PNS pada 2004. Ibu dua anak tersebut dipercaya menjadi kepala Puskesmas Uepay. Tahun ini, Mawar ditarik ke Dinas Kesehatan Konawe sebagai staf. Meski demikian, klinik kesehatan gratisnya tetap dijalankan.
(Dedi Finafiskar, Konawe/JPNN)

Tidak ada komentar