Meski Tinggal di Balik Seng Pinggir Rel Pusat Pasar Medan, Mereka Tolak Jadi Pengemis


[caption id="attachment_3637" align="aligncenter" width="700"]Nenek Neng. Nenek Neng.[/caption]

Tangan-tangan keriput itu cekatan memungut sampah di Kelurahan Pusat Pasar Medan. Diam-diam saya mengikutinya. Dengan langkah sedikit gontai, si kakek berjalan menuju rel.

Dari jauh, tampak beberapa seng berdiri. Di sampingnya di lengkapi terpal sebagai penahan panas dan hujan. Ternyata itulah rumah si kakek. Hanya berdinding seng beberapa lembar dan beratap terpal.

Tak lama keluar seorang nenek yang ternyata adalah istrinya. Bergerak menyambut suaminya dengan sedikit ngesot. Kelumpuhan yang diderita, membuat geraknya terbatas.

Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar, si nenek yang biasa dipanggil Neng dan suaminya telah tinggal lebih dari 30 tahun di pinggiran rel kereta api.

Untuk dapat makan, suami Neng bekerja sebagai tukang sampah di Kelurahan Pusat Pasar Medan pada pagi hari dan siang hari mencari barang bekas.

Pascadibongkarnya bangunan liar yang berdiri di pinggiran rel kereta api pada Januari lalu. Nenek Neng terpaksa tinggal di sela seng bersama suaminya. Meski begitu, mereka pantang menjadi pengemis.

Potret kemiskinan di kota Medan ini sangat kontras jika dilihat dari jalanan yang semakin dipenuhi mobil mewah dan motor gede bersuara garang.

Sampai kapan???

Tidak ada komentar