Pemkab Tutup Mata, Yepi Ciptakan Kincir Listrik Buat Warga


[caption id="attachment_3682" align="aligncenter" width="600"]Yepi Hilala, dengan hasil karya kincir listrik, dan proses pengoperasiannya. Yepi Hilala, dengan hasil karya kincir listrik, dan proses pengoperasiannya.[/caption]

YEPI Hilala, sang penemu Kincir Listrik Tapadaa. Kreasi inovatif yang dirintis sejak 2012 itu kini mampu menghasilkan aliran listrik berkekuatan 3.300 Watt. Niatnya tulus, semata dengan masyarakat di sekitarnya.

TEMPAT beroperasinya Kincir Listrik milik dari Yepi Hilala, berlokasi di desa Tapadaa, kecamatan Suwawa Tengah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Untuk menuju ke tempat ini, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor, dari pusat ibukota Provinsi Gorontalo. Selanjutnya harus berjalan kaki, atau menaiki motor trail, sekitar 300 meter, di pinggiran hutan kecil di kawasan tersebut.

Kunjungan silaturahmi Radar Gorontalo (Jawa Pos Group) bersama organisasi sosial dan lingkungan Pajeksan Yogyakarta, disambut Yepi Hilala dan keluarganya dengan hangat.

Dia menjelaskan satu persatu ikhwal penemuan Kincir Listrik, yang saat ini, banyak diklaim oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Ternyata, dari penuturan pria 39 tahun itu, inisiatif dirinya untuk membuat Kincir Listrik tersebut, semata-mata guna memanfatkan begitu banyaknya debit air yang dihasilkan dari sungai yang mengalir di sekitar ladangnya, untuk kebutuhan listrik.

"Saya mulai merintisnya sekitar tahun 2012, dengan bahan dan peralatan sederhana, seperti papan, skrup, bout, as, dan pipa, serta menggunakan besi plat, yang fungsinya untuk menggerakan turbin, pada diameter kincir yang berukuran 1,5 meter,” terangnya.

Dikatakan, saat pertama dioperasikan, mampu menghasilkan tenaga lisrtik, untuk 1 mata lampu 15 watt, dengan tegangan yang dihasilkan baru sekitar 150 volt.

"Dari rintisan tersebut, saya mencoba untuk terus mengembangkannya. Dan kini di 2016, sudah mampu menghasilkan energi tegangan listrik hingga 3.300 Watt." imbuh pria alumnus SD Lompotoo ini.

Tidak beda dengan PLN, dari sisi pengoperasiannya sendiri, Yepi merancang dan menciptakan pembagian alur pendistribusian listrik ciptaannya.

Alhasil, dari hasil karyanya tersebut, Yepi mampu memberi sumbangsih kebutuhan listrik bagi petani ladang dan tambak ikan, pada sekitar 10 Kepala Keluarga yang ada di sekitarnya. Bahkan, aliran listriknya, turut dirasakan warga pemukiman di desa terdekat, hingga instansi seperti kantor desa.

Adakah bantuan pemerintah daerah, baik pemerintah kabupaten Bone Bolango, maupun Pemprov Gorontalo terhadap kreasinya itu?

Yepi mengaku tidak sepeser pun didapatkannya. "Jika dihitung anggaran untuk pembuatan Kincir Air ini, saya tidak ingat lagi. Mungkin totalnya, sekitar Rp 10 juta. Karena, sistem yang saya gunakan, adalah, bila nanti ada uang, baru saya melanjutkan pekerjaannya. Dengan, dibantu swadaya masyarakat. Belum ada dari pemerintah." ucap ayah dari 3 anak ini.

"Tapi, yah begitulah. Bagi saya, apapun yang bermanfaat dan berguna untuk saya dan keluarga, saya mencoba dulu, untuk melakukannya," tukas dia.

Sejumlah pihak, kepada Radar Gorontalo mengungkapkan, mestinya sejak usaha Yepi dirintis dengan menghasilkan tenaga listrik awal sebesar 150 volt di 2012 lalu, pemerintah daerah memberikan bantuan.

Karena bagaimana pun, menurut akdemisi dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Nunung Suryana Jamin, hasil karya pak Yepi dengan menciptakan tenaga listrik dari Kincir Air ini, erat kaitannya dengan kebutuhan masyarakat banyak.

"Karena bagaimana pun, listrik adalah kebutuhan umum dan wajib demi perkembangan sebuah daerah. Namun berbeda dengan pak Yepi. Di saat upaya dan ciptaanya bernilai prospek yang cerah, tapi negara seperti tidak memperdulikannya. Buktinya, tidak ada sepeser pun, bantuan dari pemerintah. Ironis kan?" tukasnya. (Ayi Ilham/Radar Gorontalo/jpnn)

Tidak ada komentar