Sedihnya... Tak Sanggup Bayar Ambulance, Pasangan Petani Ini Bawa Pulang Jenazah Bayi dengan Motor


[caption id="attachment_3458" align="aligncenter" width="730"]Sujana dan Sari Saat membawa pulang jenazah anaknya dari Instalasi Forensik Sanglah ke Banjar Yeh Kori, Ben Bebandem, Karengasem Sabtu (2/7). FOTO: Ratu Ayu Astri Desiani/Radar Bali Sujana dan Sari Saat membawa pulang jenazah anaknya dari Instalasi Forensik Sanglah ke Banjar Yeh Kori, Ben Bebandem, Karengasem Sabtu (2/7). FOTO: Ratu Ayu Astri Desiani/Radar Bali[/caption]

Kisah pilu itu terjadi di RSUP Sanglah, Denpasar Bali, Sabtu (2/7).

Lantaran keterbatasan dana, pasangan suami istri petani bambu miskin dari Karangasem, Wayan Sujana, 45, dan Wayan Sari, 40, nekat membawa pulang jenazah sang anak yang meninggal usai menjalani operasi bikin lubang anus dengan sepeda motor.

Padahal, jika sesuai aturan, jenazah dari rumah sakit harus dipulangkan dengan mobil ambulan

Ya, siang itu, suasana di Instalasi Forensik RS Sanglah tampak sepi. Hanya ada sepasang suami istri yang sedang duduk dan termenung di rumah duka Instalasi Forensik RS Sanglah.

Mereka adalah Wayan Sujana, 45, dan Wayan Sari, 40. Kedua pasangan ini harus menerima kenyataan bahwa bayi laki-lakinya meninggal setelah mendapatkan beberapa tindakan operasi untuk membuat lubang anus.

Namun malangnya, belum saja menikmati hidup seperti orang normal, bayi itu tewas akibat mengalami kesulitan bernafas.

“Ada darah juga yang keluar dari hidungnya. Kata dokter memang kondisinya sudah sangat menurun,” ucap Sujana.

Pasutri yang bekerja sebagai petani bambu ini kembali dilanda kegelisahan saat pihak rumah sakit memberikan surat pernyataan utang yang berjumlah Rp 7.934.000.

Wartawan Radar Bali (JPNN Group) sempat melihat kondisi jenazah bayi itu. Bayi itu berkulit putih, dibalut dengan kain lembut berwarna merah muda dan hijau.

Terlihat sangat kecil dan kurus. Air mata pun mengalir dari pipi Sari. Namun dari raut wajahnya, Sari terlihat berusaha untuk tegar saat menggendong jenazah anak ke tiganya itu ke atas sepeda motor.

“Mau di kubur tiga hari lagi (5/7),” imbuh Sari.

Sekitar pukul 14.05 Sujana dan Sari membawa pulang jenazah anak mereka ke rumah mereka yang terletak di Banjar Yeh Kori, Ben Babandem, Karengasem.

Sebab mereka tidak memiliki biaya untuk menyewa jasa ambulans. “Harga ambulans di atas satu juta. Ya tidak apa-apa lah kami pulang naik motor saja,” pungkas Sari.

(RATU AYU ASTRI/mus/jpg/sdf)

Tidak ada komentar