Sumut Digoyang Isu SARA! Karo dan Tanjung Balai Rusuh, Vihara Dibakar


Setelah sebelumnya beredar kabar balasan warga Suku Batak yang tidak terima ditutupnya rumah makan babi panggang di Deliserdang, kini Sumut kembali digoyang kerusuhanberbau SARA. Adalah Tanah Karo dan Tanjung Balai yang kini menjadi pusat perhatian.

Kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, menurut data yang kami terima, dipicu sikap kurang tolerannya seorang warga keturunan saat melakukan ibadah.

Akibatnya, sejumlah ruas jalan di Kota Tanjung Balai dipenuhi gerombolan massa warga. Mereka mengamuk dan membakar sebuah Vihara dan rumah warga suku Tionghoa. Foto-foto peristiwanya sudah beredar di media sosial Facebook, sejak Jumat (29/7/2016) malam.

“Warga geram. Makanya rumahnya dilempari dan sudah mau dibakar kian rumahnya sama Vihara yang tak jauh dari situ,” sebut seorang sumber yang meminta namanya tidak dimediakan demi keamanan.

Akibat aksi ini, polisi kewalahan. Hingga menjelang Sabtu (30/7/2016) dini hari, massa masih berkonsentrasi di vihara Jl juanda yang sudah sempat dirusak sebelumnya.

FB_IMG_1469822116087

FB_IMG_1469822109894

IMG-20160730-WA0004

Warga VS Polisi, 2 Dikabarkan Tewas


Sementara itu di Kota Kabanjahe. Sedikitnya dua orang yang diinformasikan tewas dalam bentrok massa warga Lingga dengan aparat Polres Karo, Jumat (29/7) sore menjelang malam.

Keterangan dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, kericuhan berawal dari pihak pengembang yang membongkar pagar yang sebelumnya dipasang oleh masyarakat desa Lingga yang mengklaim bahwa jalan itu adalah jalan pemotongan menuju desa Lingga.

Dengan menggunakan 1 unit alat berat, pihak pengembang, mencoba melakukan pembongkaran pagar, tepatnya di lahan relokasi mandiri tahap ll, desa Lingga, kecamatan simpang empat, kabupaten Karo.

Mendengar hal itu, warga protes dan mengamuk, alat berat yang sejatinya untuk membongkar pagar, dibakar oleh warga. Bahkan tenda pos polisi yang di bangun pengembang untuk menghalau bentrokan, tidak luput menjadi sasaran kemarahan warga, dan ikut dibakar.

Suasana mencekam di Kabanjahe pasca bentrok warga Desa Lingga dengan aparat Polres Karo
Suasana mencekam di Kabanjahe pasca bentrok warga Desa Lingga dengan aparat Polres Karo
KBO Intel Polres Tanah Karo, Ipda Narno, mengatakan bahwa sampai saat ini (pukul 21.30 WIB), dirinya bersama anggota lainnya, masih terus siaga.

“Hingga saat ini masih terus bersiaga, kalau korban memang benar ada, tetapi untuk jumlah pastinya belum tau,” ungkapnya.

“Bahkan barusan saja (sekira pukul 21.30 WIB), dikirim bantuan 5 orang Personil dari tiap-tiap Polsek,” sambungnya.

Pembongkaran pagar sebelumnya sempat berjalan lancar. Namun sekira pukul 14.30 WIB, Sekdes Lingga yang bernama Lotta Sinulingga, memprotes tindakan yang dilakukan, dan mengatakan bahwa ada Pembiaran dari pihak kepolisian.

Merasa kecewa, akhirnya masyarakat Desa Lingga yang berjumlah lebih kurang 150 orang, melakukan pemblokiran jalan umum, tepatnya di depan tenda Pos Polisi, dan mengakibatkan jalan Kabanjahe Simpang Empat macet total.

Tidak berselang, massa yang sebelumnya melakukan pemblokiran jalan, kembali membuka jalan dan bersama sama menuju ke lokasi pagar yang sudah dibongkar dan berencana akan melakukan pemagaran kembali.

Jumlah massa yang melakukan protes terus bertambah, sedikitnya 400 orang yang berkumpul di lokasi pemagaran, mencoba menuju ke arah tenda Pos Polisi yang dijaga sekitar 15 polisi, sembari mengancam polisi yang berjaga ditenda itu.

Merasa tidak mampu menghalau jumlah massa yang cukup massa, personel polisi yang berjaga di tenda pos polisi, meminta bantuan aparat polisi dari Polres Karo.

Warga semakin beringas, tenda Pos Polisi dan alat berat, dibakar oleh warga. Beruntung pemadam kebakaran cepat datang guna memadamkan api.

Melihat massa yang semakin beringas, aparat kepolisian mengambil tindakan tegas dan mengamankan 5 orang warga yang diduga menjadi provokator, untuk diperiksa dan dimintai keterangannya.

Merasa tidak terima karena rekan rekannya diciduk polisi, ratusan warga mencoba mendatangi polres Karo.

Bentrok kembali terjadi, ratusan warga tersebut mencoba melempari markas Polres dengan menggunakan batu, dan dibalas dengan tembakan peringatan dan gas air mata dari aparat polisi.

Massa berhasil dibubarkan, tapi disebut-sebut ada yang meninggal dunia dari pihak warga. Sementara itu aparat polisi masih melakukan identifikasi terhadap kebenaran informasi tersebut.

Informasi yang didapat lagi, sampai pukul 22.00 WIB, warga masih menyerang Polres Karo dan Kantor DPRD Karo.

Sementara keterangan dihimpun dari sumber di Tanah Karo, sedikitnya dua warga yang tewas. Seorang karena luka tembak. Sedangkan seorang lagi belum diketahui apa sebabnya. “Dugaan dari informasi warga, akibat pukulan benda tumpul oleh personil Polres,” sebut sumber terpercaya itu namun belum mendapat keterangan resmi dari aparat berwenang.

Sedangkan informasi lain menyebutkan keterangan berbeda. “Belum ada kita dapat kabar tewas, bang. Tapi yang kritis ada, dan baru dibawa ke Medan atas nama Ganepo Tarigan untuk dirawat di RSU dr Pirngadi Medan,” kata sumber lainnya.(sumber : metro-online.co)

Tidak ada komentar