3 Fakta Menyedihkan Dunia Pendidikan di Sumut, Jangan Kaget ya!


pendidikan

Dunia pendidikan memegang peran penting dalam membangun kualitas generasi muda untuk bisa bersaing di era globalisasi. Meski pun begitu, peran orangtua di rumah juga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Fakta yang saya tulis ini diharapkan bisa membuka mata kita semua tentang bagaimana kondisi dunia pendidikan dan kualitas siswa di Sumut.


  1. Siswa adalah UANG




Pendidikan adalah bisnis. Sekolah sebagai produsen dan siswa sebagai konsumen yang sangat menggiurkan. Hal ini menyebabkan banyak sekolah swasta yang berlomba membuat IKLAN yang baik demi meraup siswa. Dengan tambahan berbagai fasilitas yang ujung-ujungnya NOL. Biasanya pihak sekolah beralasan, fasilitas sedang dalam tahap pembangunan.

Belum lagi bantuan operasional siswa (BOS) yang mengalir deras jika siswa banyak. Bayangkan, salah satu SMK di kawasan Deliserdang mampu menyerap 2000 siswa hanya di satu jurusan. Dana BOS yang diterima per tahun mencapai milyaran rupiah. Tentu saja pihak sekolah tidak menerima 100% dari yang dicairkan. Masih ada 'titik' tertentu yang harus dibungkam dengan rupiah tersebut.

Sedihnya lagi, fasilitas yang diterima siswa, jauh dari yang diharapkan. Siswa tak ubahnya sapi perah yang susunya tak kunjung habis.

2. Siswa SMK rasa SD


Seperti apa siswa SMK rasa SD? Kebetulan beberapa sohib dekat saya seorang guru. Bukan sembarangan guru tentunya. Mereka guru pintar yang berintegritas dan punya prinsip kuat. Suatu hari, salah satu dari mereka mengeluhkan siswanya di SMK yang tidak bisa perkalian.

Bayangkan, perkalian yang seharusnya dilahap di tingkat SD, tak bisa dikerjakan siswa SMK. Usut punya usut, guru dan orangtuanya tak ambil pusing dengan keadaan tersebut. Jadilah ia seorang Siswa SMK rasa SD.

3. Siswa SMK rasa TK


Yang ini lebih gawat. Super gawat malah. Ada siswa SMK yang membaca seperti anak TK yang baru mengenal huruf. Yang ini valid. Terjadi di salah satu SMK di Medan. Entah bagaimana siwa tersebut bisa sampai jenjang SMK. Yang pasti, hal tersebut bisa dijelaskan dengan lembar-lembar merah rupiah.

Bagaimana menurut anda? Jika anda peduli dengan pendidikan dan masa depan negeri ini, suarakan hal-hal gelap yang menyelimuti dunia pendidikan kita. Biar menjadi terang benderang. Dan segera diselesaikan.

 

 

Tidak ada komentar