Cina Medan Mentiko? Betolnya Itu...???


mentiko

Kemaren malam, awak iseng aja nongkrong di warkop di daerah Titipapan. Sendiri aja. Maklumlah, orang rumah lagi tugas negara demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di depan awak, ada tiga orang. Yang satu sebut saja Wak Botak, trus Wak Ompong dan Wak Labu. Lagi cakap seru orang itu. Awak bantu dengar ajalah. Tak ada kawan awak berkombur.

"Cemmana menurutmu Pong, makin mentiko orang Cina di Medan ini kan?", koar Wak Labu buka percakapan.

"Kemaren ada yang tinju polisi. Sampek sekarang kasusnya tak dengar lagi. Trus, pernah keponakanku yang lagi tugas di Bandara Silangit, diletop orang Cina gara-gara penerbangan di cancel. Padahal cuaca memang lagi buruk. Kalau samaku, kubiarkan aja terbang sendiri biar jatuh sekalian dia," sambung Wak Labu agak emosi sikit.

Sambil kesusahan mengunyah sate, Wak Ompong buka suara.

"Halahhh Wak... Ngapain kau pikirin orang mentiko. Kau piker orang Cina aja yang mentiko? Gak kau tengok itu, yang katanya pribumi, naik mobil mewah dipasangi stiker Kejaksaan, DPRD atau TNI-Polri. Apalah maksud orang itu? Kepingin dihargai, dihormati dan ditakuti? Kan mentiko juga itu namanya," jelas Wak Ompong panjang lebar.

"Trus kau tengok jugak, anak-anak pejabat, naik kereta atau mobil bapaknya, kebut-kebutan di jalan. Mentiko juga itu kan. Atau juga anggota OKP dengan modal seragam, mengemis di tiap toko. Katanya uang keamanan. Tapi toko awak masih kecurian juga. Maccammana itu?" kali ini Wak Ompong yang gantian emosi.

Wak Botak yang sedari tadi cuma dengerin sambil garuk-garuk kepala mulai ngomong.

"Woi Wak Labu, dah berapa lama kau kenal aku. Ada aku mentiko? Aku ini Hitaci, hitam tapi Cina," semprot Wak Botak.

Wak Labu terperanjat. Ia lupa. Karibnya yang hitam gadel itu juga Cina.

"Mentiko itu bukan cuma milik Cina. Tapi milik semua orang yang sudah merasa lebih hebat dari yang lain. Bisa Cina, bisa Pribumi," kata Wak Botak sedikit menasehati.

"Iyalah wak. Sorilah klo dah menyinggungmu. Dah, kopi kelen aku yang bayar," bilang Wak Labu dengan raut wajah menyesal.

Sedangkan aku yang menikmati kopi sendiri, hanya bisa tersenyum kecil. Seraya berkata dalam hati, "Masih banyak orang bijaksana di Medan ini..."

Tidak ada komentar