Kisah Bu Hajjah yang Hampir Dimassa Karena Lindungi Vihara


hj syahrani harahapSebelum kerusuhan yang berujung pembakaran sejumlah Vihara di kota Tanjung Balai Asahan, Jumat (29/7/2016), kejadian berlatar belakang Suku, Agama, Ras dan Antargologan (SARA) juga pernah terjadi pada tahun 2010 lalu di kota Tanjung Balai.

Seorang tokoh masyarakat, Hajjah Syahrani Harahap atau yang akrab disapa Bunda, mengatakan, pada tahun 2010 sekelompok orang berusaha menurunkan patung yang berada di Vihara Tri Ratna, Tanjung Balai.

Pada saat itu, dirinya bersama tokoh masyarakat lainnya seperti Anton Medan juga melakukan upaya agar kelompok yang ingin menurunkan patung tersebut membatalkan aksinya.

Namun, upaya yang dilakukan wanita berhijab ini tidak mendapat dukungan pemerintah setempat. Akhirnya, Bunda Syahrani pun beranjak ke Kantor Kementerian Agama di Jakarta untuk mendapat bantuan.

“Mereka (Pihak Vihara) minta bantuan ke Bunda, kita sikapi. Pemerintah setempat tidak mendukung, padahal pada peletakan batu pertama pembangunan Vihara dilakukan pejabat pemerintah setempat. Awalnya harmonis, namun entah mengapa, dua tahun kemudian (2010), ada kelompok yang ingin menurunkan patung tersebut,” jelas Bunda kepada Metro-Online.co, Sabtu (30/7/2016).

Diungkapkan Bunda, pada saat massa ingin menurunkan patung tersebut, dirinya bersama 6 orang lainnya termasuk, Anton Medan sempat dikepung ratusan orang.

“Kami 7 orang dikepung ratusan orang. Namun massa membatalkan menurunkan patung tersebut,” terangnya.

Untuk mengamankan situasi di kota Tanjung Balai terkait upaya penurunan patung tersebut, Bunda pun melakukan langkah untuk meminta bantuan ke Kementerian Agama di Jakarta.

“Saat itu, kami membentuk Aliansi Sumut Bersatu agar patung itu tidak diturunkan. Pada saat itu, pejabat di Kementerian Agama juga heran dengan saya, kenapa mau memperjuangkan yang bukan satu aliran dengan saya. Lalu Menteri Agama memberikan jaminan rekomendasi keamanan terhadap patung tersebut. Konflik pun pada saat itu tidak terjadi lagi dan kondisi aman,” ujarnya.

Menanggapi kerusuhan yang terjadi pada Jumat (29/7/2016) malam kemarin, Menurutnya, itu perselisihan perorang yang harusnya tidak dibesarkan pihak tertentu.

“Itu aksi spontanitas, berawal dari adu mulut. Suami dari orang yang protes ke masjid itu juga sudah minta maaf. Harusnya nazir masjid memaafkan wanita tersebut saja,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Sejumlah Vihara yang berada di Kota Tanjung Balai, Sumut, dirusak warga, Jumat (29/7/2016) malam.

Perusakan itu diduga dipicu tersinggungnya sekelompok orang terhadap seorang warga bernama Meliana (41) yang protes terhadap kegiatan ibadah di masjid Almakshum yang berada di Jalan Karya, Tanjung Balai.

Tak berapa lama setelah aksi protes tersebut, kemudian nazir masjid mendatangi rumah Meliana yang tak jauh dari masjid untuk membicarakan soal protes yang dilakukannya.

Namun, kelompok massa yang emosi kemudian hendak membakar rumah Meliana. Emosi massa yang tak terbendung kemudian merusak dan membakar sejumlah Vihara di kota Tanjung Balai.(snd)

Tidak ada komentar