Komentar Warga Medan tentang Full Day School


[caption id="attachment_3785" align="aligncenter" width="640"]Pajak USU Medan Pajak USU Medan.[/caption]

Ide full day school yang diluncurkan Mendikbud menjadi pembahasan rakyat dunia maya. Banyak omak-omak dan bapak-bapak tak setuju. Walaupun ada segelintir tante-tante bohay yang menyambut senang.

Untuk itu, admin ngobrol.top yang lagi kurang kerjaan coba untuk mewawancarai warga Kota Medan.

Naik angkot 69, admin turun di Padang Bulan, tepatnya di Pajak USU yang terkenal itu. Target wawancara pertama, mamak-mamak jual gorengan.

Sebut saja namanya Nande Siska (45), sehari-hari mengais rezeki di sekitaran Pajus dengan menjual gorengan.

"Nande, cemmana menurut Nande sekolah seharian penuh itu (dengan logat Medan kental gak pake pura-pura)," kutanya gitu.

"Klo bisa jangan dibuat lah bang. Nanti siapa yang bantu aku jualan gorengan? Anakku yang sekolah tinggal si Siska itulah. Abangnya jangan ditanyak. Asek bejudi aja kerjanya klo ada duit. Blom lagi bapaknya yang pemalas," gitulah jawabnya.

Awak nanya satu kalimat, dia jawab satu kamus pake curhat pulak lagi. Mending cabut ajalah.

"Makasi nande. Gorengannya enak," jawabku cepat-cepat sambil kabur.

Selamaaattt dari curhat.

Target kedua. Bapak-bapak jual kuota.

"Permisi pak. Awak dari ngobrol.top mau wawancara sikit. Bisa kan pak?" kekgitu lah kutanya. Agak basa basi sikit.

Bapak itu senyum. Berarti lanjutlah.

"Cemmana menurut bapak tentang sekolah sampe sore kayak yang dibilang pak menteri itu?" gitu lagi pertanyaanku.

Bapak itu cuma nengok ke arahku sambil senyum.

"Apa bapak setuju klo siswa sekolah pulangnya sore?" tanyakku lagi.

Bapak itu tak menjawab. Cuma senyum lagi.

Pas mau kutanyak lagi. Ada pria dari belakang tiba-tiba ngomong.

"Bang, sampe bernanah muncung abang, tak akan dijawab sama bapakku. Dah pekak dia bang. Gara-gara banyak makan obat," kata dia.

Kimbeklah. Dah haus awak, ngoceh tak ditanggapi. Berarti basa-basi awak tadi mubazir lah.

"Gitu ya bang? Okelah. Makasi bang," jawabku sambil tersenyum pedih, trus cabut.

Cemmanalah ini. Tak berhasil wawancara awak. Gitulah pikirku, hingga tertengok olehku SPG rokok yang putih mulus dan wangi.

Insting lelaki Medan yang doyan gombal langsung mode on.

"Mbak, saya boleh wawancara," kekgitu logatku. Ilang logat Medanku dekat cewek cantik.

"Tanya aja bang. Tapi aku minta nomor hape abang ya," (suara petir tiba-tiba) jawabannya bikin meleleh.

(Perlu kelen ketahui, admin ngobrol.top memang keren.)

[caption id="attachment_3783" align="aligncenter" width="309"]spg bohay Foto ecek-ecek. Bukan kekgini SPG yang kuwawancarai ya. Klo ada kekgini di Pajus, kacaw lah semua...[/caption]

"Gini mbak, gimana sih menurut mbak tentang full day school itu?" tanyakku dengan logat nasional.

"Ohhh.. itu. Gini bang .... ..... ..... ..... .... .... .... ..... .... .... .... ... ..... ..... ," katanya.

(Sori ya woi, bukan salah baca kelen. Pas dia ngomong, awak nengok itunya goyang terus. Gak fokus jadinya. Cantik kali lah pulaknya.)

"Ooo... gitu ya mbak. Selain cantik, mbak juga pintar ternyata," keluar lagi gombal Medan awak.

"Ngomong-ngomong, nomor hape saya jangan sampe ilang ya," bilangku.

"Iya bang. Nomor ini buat database ke perusahaan. Klo ada produk baru, abang ditelpon orang kantor," gitu katanya.

Nyessss... kupikir dia yang minta nomorku. Berarti awak belum keren di matanya.... Hiksss...

Berhubung celana makin ketat dibagian tertentu. Wawancara langsung diakhiri.... (clingak clinguk cari toilet...)

[caption id="attachment_3784" align="aligncenter" width="640"]Bukan ini juga ya woi... (sambil telen ludah) Bukan ini juga ya woi... (sambil telen ludah)[/caption]

Tidak ada komentar