Mengenang Bu Likas Tarigan, Wanita Pejuang dari Sumatera


[caption id="attachment_3738" align="aligncenter" width="960"]Bu Likas Tarigan saat diwawancarai Prof Ichwan Azhari. Bu Likas Tarigan saat diwawancarai Prof Ichwan Azhari.[/caption]

Pada tahun 2010 patik 3 kali mewawancarai Ibu Likas br Tarigan, pejuang perempuan Karo dalam rangka penulisan biografi Djamin Ginting, suaminya. Selama 3 kali memawancarainya di Medan dan di rumahnya di Jakarta, patik sulit konsentrasi atas fokus topik wawancara yang patik tanyakan tentang biografi dan kejuangan suaminya.

Kehebatan Ibu Likas bercerita yang mau tak mau melibatkan hidupnya memecah konsentrasi patik antara membayangkan Djamin Ginting sebagai pejuang, atau sedang mendengar kilatan biografi perempuan keras yang berjuang pada masa yang sulit.

Pada waktu patik mewawancarainya, usianya 86 tahun (lahir 13 Juni 1924), tapi di usia senja itu dia seperti melawan ketuaannya dan guratan guratan keras hidupnya yang melawan arus di masa mudanya masih terasa. Daya ingatnya sangat bagus untuk usia seperti itu, bahasa tubuh, energi bertutur dan epos perjuangan kisah kisahnya menggebu gebu dan hidup.

Dia ingat dan jernih menjelaskan ketika juga patik tanya hal yang sensitif, hubungan suaminya dengan Maluddin Simbolon yang dicap pemberontak. Sempat patik seperti mengalami kebingungan, mewawancarai narasumber tentang seorang pejuang atau narasumber itu sendirilah pejuang yang harus ditulis.

Saat patik bertanya hal pengungsian di Aceh, pasca Perjanjian Linggarjati dimana Tanah Karo harus dikosongkan, uraiannya seperti pentas drama yang hidup. Saat itu patik sangat tertarik uraiannya tentang petinggi Jepang yang melarikan diri dan bergabung untuk melatih membuat mesiu pasukan republik di pengungsian.

Petinggi Jepang itu (yang buat sementara tak patik sebutkan namanya) menguatkan data patik besarnya kontribusi orang Jepang dalam perjuangan menentang masuknya kembali Belanda ke Indonesia (sesuatu yang belum ditulis secara adil dalam historiografi Indonesia).

Yang dihadapi Ibu Likas tentang Jepang ini bukanlah strategi militer dan persenjataan, tapi dikisahkannya bagaimana dia harus mengatur strategi makanan orang Jepang yang sangat rewel dan sulit diatur selera makannya di pengungsian yang serba terbatas.

Saat Gestapu meletus, Djamin Ginting sedang tugas bersama Subandrio di Medan dan rumahnya di Jakarta didatangi Tjakrabirawa karna konon Djamin Ginting masuk dalam daftar orang yang harus "dijemput".

Ibu Likas dengan hidupnya, berkisah di detik yang mendebarkan itu, bagaimana dia harus melindungi anak anaknya saat pintu rumahnya diketuk orang berseragam tak dikenal dan paginya dia pontang panting mendatangi rumah Subandrio mencari suaminya setelah dia dengar malamnya para jenderal tewas dibunuh di Lubang Buaya.

Di rumahnya di Jakarta, di jalan yang bernama Jalan Ginting, dia bawa patik ke belakang, ditunjukkannya rawa rawa tempat dia beternak bebek, justru saat suaminya sudah menjadi tokoh militer penting pada era Soeharto. Dia tidak ingin berbisnis memanfaatkan nama suaminya yang dekat dengan Soeharto.

"Kau tahukan masa itu banyak istri pejabat yang bisnis? . Aku tak mau, aku ternak bebek di situ ditempat itu. Ini Riemenda pun ingat". Demikian katanya. Riemenda Br Ginting adalah anak tertuanya yang lahir dipengungsian, yang tak lama setelah wawancara itu lebih dulu wafat mendahuluinya.

Patik merasa "berhutang" juga sama Ibu Likas ketika dia meminta patik mencarikan uang zaman revolusi yang ditandatangani suaminya. Dalam literatur patik menemukan uang yang dia maksud, dan menunjukkan buku rujukannya.

Uang yang dimaksud Ibu Likas minta patik carikan untuk dipajang di Museum Djamin Ginting di Desa Suka Tanah Karo itu adalah Uang TNI Resimen I Divisi X (Kutatjane 1948), 10 rupiah gambar pemadangan alam dan pedang yang ditanda tangani Letkol Djamin Ginting bersama A.M. Lubis. Tapi penjelajahan ke museum Bank Indonesia dan mencari ke berbagai kolektor numismatik tidak membuahkan hasil sampai saat patik mendengar kepulangannya ini.

Ketika patik menonton film Tiga Nafas Likas ada banyak hal yang belum terekspos dari biografi tokoh perempuan yang sangat berjasa ini. Sejarah perjuangan perempuan perlu dilengkapi dengan riwayat hidupnya yang layak jadi teladan. Selamat jalan Ibu Likas.

Prof. Ichwan Azhari, Sejarawan

Tidak ada komentar