Sejak 8 Tahun Jualan Kue Sambil Belajar, Ingat Almarhumah Ibu Kalau Lihat Bunga


[caption id="attachment_3926" align="aligncenter" width="600"]Santana Saharani sudah 4 tahun setiap jam 5 sore hingga 9.30 berjualan kue di parkiran MOG, sembari ia mengerjakan PR nya dari sekolah, Rabu (24/08). Foto: Darmono/Radar Malang/JPNN.com Santana Saharani sudah 4 tahun setiap jam 5 sore hingga 9.30 berjualan kue di parkiran MOG, sembari ia mengerjakan PR nya dari sekolah, Rabu (24/08). Foto: Darmono/Radar Malang/JPNN.com[/caption]

SANTANA Saharani Utami (12). Sejak umur 8 tahun, dia harus berjualan kue di parkiran belakang MOG (Mal Olympic Carden), Malang, Jatim, demi membiayai hidup dan sekolahnya.

Hawa dingin Kota Malang Minggu malam (21/8) sekitar pukul 20.00, cukup menusuk tulang. Namun itu tak mengurangi semangat Santana Saharani Utami untuk berjualan kue di parkiran belakang MOG. Duduk di bawah temaram lampu mercuri, dia setia menunggu dagangannya.

Malam itu dia mengenakan rok panjang dengan paduan warna putih-ungu dan merah seperti lapis yang dihias bunga.

Untuk atasan, dia kenakan kaus lengan panjang warna merah dipadu dengan jilbab warna cokelat bermotif bunga dengan inner (pelapis dalam jilbab) warna hitam. Sehingga, penampilan gadis yang akrab disapa Santana tersebut terlihat cukup modis.

Di samping kanan bocah itu, ada senampan kue basah berupa lumpia, donat, lupis, cucur, dan putu ayu yang berdampingan dengan ikat rambut terbungkus plastik.

Dengan ramah, bocah kelas VI SDN Banjarejo 3 Tumpang Kabupaten Malang itu menawarkan dagangannya kepada pengunjung mal yang lewat. ”Kuenya Mas, kuenya Mbak. Ikat rambutnya Mbak,” ucapnya saat dipantau Jawa Pos Radar Malang (Jawa Pos Group), Minggu (21/8) malam lalu.

Sedangkan di kanan-kiri Santana ada penjual jajanan, penjual bunga tak kalah bersemangat menawarkan barang. Pun seorang pengemis tak pernah lelah menengadahkan tangan.

Malam itu, Santana tidak hanya menawarkan kue atau ikat rambut kepada pengunjung mal. Dia juga sesekali menulis di buku dengan penerangan lampu senter di tangan kirinya.

Saat menulis, dia meletakkan bukunya di atas lutut, lalu tangan kanannya menulis dan tangan kirinya menyalakan senter yang sorotnya diarahkan ke lembaran buku.

Setelah mengamati cukup lama dari jarak sekitar 10 meter, Jawa Pos Radar Malang menghampiri bocah itu. Tahu ada yang mendekat, Santana langsung menawarkan kuenya.

Setelah wartawan Radar Malang membeli lima kue yang masing-masing seharga Rp 2.000, Santana mengucapkan terima kasih sembari tersenyum, karena sedikit lagi kuenya habis terjual.

”Terima kasih Mas. Alhamdulillah sudah mau habis,” ujar gadis kelahiran tahun 2004 tersebut dengan wajah cerah.

Setelah itu, dia buru-buru menulis lagi. Iseng-iseng, wartawan Radar Malang mengintip tulisan Santana. Ternyata malam itu dia sedang mengerjakan PR (pekerjaan rumah) Matematika dari sekolahnya. Meski demikian, dia masih melayani obrolan.

Saat ditanya soal aktivitasnya berjualan, Santana tidak pelit cerita. Gadis itu mengatakan, dirinya telah berjualan kue basah di parkiran belakang MOG sejak tahun 2012 atau saat dia duduk di bangku kelas 2 SD.

Namun, pada waktu itu, dia berjualan bersama kakaknya, Yudha Richard Perdata. Setiap hari, dia pulang pergi (PP) Tumpang-Kota Malang dibonceng naik sepeda motor. ”Jadi sudah terbiasa Mas,” ungkapnya. (Lanjut : Almarhumah Ibu Suka Menanam Bunga)

Santana mengaku hampir tidak pernah libur dalam berjualan. Dalam sebulan, mungkin hanya sehari dia tidak berjualan karena kecapekan.

”Saya pulang sekolah jam 14.00, istirahat, terus salat Magrib, lalu berangkat jualan pukul 18.00. Jam 22.00 saya pulang, biasanya tidur jam 23.00, paginya ya sekolah,” tutur Santana.

Dia menjelaskan, setelah kuenya habis, dirinya tidak bisa langsung pulang, karena harus menunggu kakaknya menjemput sekitar pukul 22.00. Sehingga meski kuenya sudah habis sejak pukul 21.00, dia tetap berada di tempatnya jualan.

”Alhamdulillah hingga saat ini kuenya selalu habis. Bahkan saya juga punya beberapa pelanggan tetap yang tiap ke MOG selalu beli kue saya,” katanya lalu menguap menahan kantuk.

Dikatakannya, setiap malam dia bisa menjual kue basah sebanyak 30-35 biji. Masing-masing kue seharga Rp 2000. Selain itu, dia juga berjualan ikat rambut sebanyak 20 biji yang masing-masing seharga Rp 7.500.

Namun, untuk ikat rambut jarang sekali terjual. Jika terjual, sehari paling hanya satu biji. Kue dan ikat rambut itu dikulakkan oleh kakaknya.

”Saya hanya jual. Nanti uang kulakan saya berikan kakak. Saya ambil untung Rp 500 rupiah per biji kue atau ikat rambut. Jadi untungnya sehari antara Rp 15.000 hingga Rp 17.500,” jelas Santana.

Dari keuntungannya tersebut, Santana gunakan untuk membayar sekolah Rp 10 ribu per bulan. Selebihnya untuk jajan di sekolah dan sebagian dia tabung.

Disinggung tentang orang tuanya, Santana mengaku ibunya baru saja meninggal bulan April 2016 lalu, dan dia tidak ingin menjelaskan alasannya.

Kemudian ayahnya saat ini sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya dan pulang sebulan sekali. ”Sama bapak nggak papa jualan, ini kemauan saya sendiri. Uangnya bisa buat bantu keluarga,” ujarnya tanpa mau menyebut nama ayah dan ibunya.

Di sela ngobrol dengan Radar Malang, sesekali Santana melihat penjual bunga yang sedang menawarkan bunga di depannya. Saat ditanya, bocah yang saat ini tinggal di Desa Banjarsari Tumpang ini mengaku suka sekali dengan bunga.

Diakuinya, di depan rumahnya banyak pot bunga. ”Almarhumah ibu saya dulu suka sekali memelihara bunga,” jelas anak terakhir dari 8 bersaudara itu.

Setelah puas melihat penjual bunga, Santana kembali melanjutkan mengerjakan PR di buku. Santana kerap mengerjakan PR dan belajar saat berjualan. Karena memang sebagian besar waktunya di malam hari dia habiskan dengan berjualan kue.

”Kadang pulang sekolah ngerjain PR di rumah. Kalau nggak selesai, ya dikerjain di sini,” ungkap dia.

Apabila PR yang didapat mengharuskannya untuk bekerja kelompok dengan temannya, dia mengaku mengerjakannya saat siang hari. Bila tidak sedang mengerjakan PR, Santana biasa menulis cerita, puisi, hingga menggambar desain baju. ”Saya suka menggambar desain baju. Cita-cita saya jadi desainer kalau besar nanti,” paparnya.

Apakah teman-teman atau guru di sekolah mengerti apabila dia berjualan kue di malam hari? Dia menjawab tidak ada yang tahu.

”Teman-teman saya nggak ada yang tau Mas. Lha wong semuanya pada jarang ke MOG,” ujarnya.

Karena sikapnya yang terbuka, Santana mengaku sering diajak ngobrol oleh para pengunjung MOG. Dia tidak sungkan untuk menemani pengunjung yang hanya sekadar ingin mengobrol dengannya.

Santana mengaku aktif di sekolahnya. Dia baru saja mengikuti lomba PBB (peraturan baris-berbaris) untuk memperingati HUT Ke-71 RI se-Kabupaten Malang mewakili sekolahnya.

Ditanya soal sekolahnya, dia mengaku ingin melanjutkan ke SMPN 21 Kota Malang setelah lulus SD. ”Saya suka sama semua pelajaran Mas, nggak ada yang khusus,” paparnya. (DAVIQ UMAR AL FARUQ - Malang)

Tidak ada komentar