Begini Kisah Lengkap Bocah Nias yang Disiksa Orangtua Angkat, KEJI!


korban-penyiksaan-medan

Masih ingat dengan bocah Nias yang disiksa orangtua angkatnya secara keji? Itu lho peristiwa yang terjadi di Jalan Sidomulyo, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Medan, yang dilakukan keluarga Suparno (39) dan Yasmin Laia (38)?

Seluruh biaya perawatan dan pemulihannya ditanggung oleh Pemprov Sumut. Tak cuma itu, Pemprov Sumut juga sedang mencari solusi penampungan bagi bocah malang itu setelah ia keluar dari RS Bhayangkara Polda Sumut.

Kini kondisi bocah yang mengalami luka bakar hingga 30 persen itu terus membaik. Seperti yang terpantau saat dikunjungi Kepala Biro Perlindungan Perempuan Anak dan KB Pemprov Sumut, Nurlela, bersama Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut, Zahrin Piliang, Sabtu (24/9/2016).

Seorang perawat RS Bhayangkara, Mika, bersama pengawas rumah sakit, Aipda Ani Ariani mengatakan, dari hasil diagnosis dokter, M mengalami luka bakar pada daerah vital, yakni punggung dan selangkangan. “Makanya M jadi kesulitan untuk duduk dan mengenakan pakaian,” ujarnya.

Selain mengalami luka bakar, M juga didiagnosis mengalami anemia juga mengalami hypo alubumen, yakni kekurangan cairan di tubuh. “Selain itu kami juga menemukan bekas-bekas luka lama di seluruh badannya, juga luka bekas sayatan pisau. Di kakinya juga kami temukan seperti bekas ikatan dan ketika masuk ke RS, mata sebelah kanannya memar karena dipukul pakai kayu,” tambah Mika.

Tak hanya itu, lanjut Mika, tangan sebelah kiri M juga didiagnosis patah, dan kedua kakinya bengkok atau tidak bisa lurus. Sejak sepekan berada di RS Bhayangkara, yakni Sabtu (17/9), M sudah menerima perawatan mulai dari pemberian transfusi darah, juga perawatan untuk luka bakar.

“Awal masuk ke sini HB nya hanya 4, sekarang sudah normal HB nya 11. Untuk luka bakarnya awalnya dokter meminta agar dilakukan pengikisan (debridamen), namun ketika kami rawat dengan salep, saat ini luka bakarnya sudah berangsur-angsur membaik, sehingga tidak lagi kami lakukan tindakan pengikisan,” terang Mika.

Kondisi M yang sudah berangsur membaik tak jauh beda dengan HL (28), yang juga merupakan korban penganiayaan yang dilakukan keluarga Yasmin Laia (38). Namun, di sekujur tubuh HL juga terlihat banyak bekas luka akibat dipukul dan dihantam pakai benda keras.

Penganiayaan yang dilakukan terhadap dirinya dikatakan HL hanyalah disebabkan hal-hal yang sepele seperti tidak bersih mencuci piring, tidak mencuci baju atau hal lainnya.

“Kami dipukulnya karena hal sepelenya, contoh kalau kami tidak bersih mencuci piring, kalau si M disiram air panas karena dia ketahuan mengambil susu,” ujar HL yang mengaku pernah dipukul kupingnya hingga sobek, dadanya dihantam dengan gilingan cabai, dan mulut serta kepalanya yang dipukul pakai bambu. “Kalau bisa mereka dihukumlah yang berat,” kata HL.

Saudara HL, Rolis Lase yang berada di rumah sakit mengatakan, kalau HL sudah bekerja di rumah Yasmin sejak 8 tahun lalu. Selama 3 bulan awal HL bekerja, Yasmin pernah mengunjungi keluarga HL di Gunungsitoli dan memberikan uang Rp 500 ribu yang dinyatakan sebagai gaji HL selama bekerja, namun setelah itu kabar HL pun tidak pernah lagi bisa diketahui pihak keluarga.

“Ketika kami tanyakan sama mereka, mereka bilang HL sudah menjadi anak mereka, dan sejak itu kami tidak bisa lagi berkomunikasi dengan HL,” papar Rolis.

Kepala Biro PP, Anak dan KB Sumut, Nurlela mengatakan, dirinya sangat prihatin terhadap kondisi M dan HL, oleh karena itulah pihaknya akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari solusi kepada kedua korban.

Dijelaskan Nurlela, untuk perawatan kedua korban pihaknya akan berupaya mencari dana dari sharing antar instansi terkait, selain itu juga akan berupaya untuk mengurus BPJS kedua korban.

Ketua KPAID Sumut, Zahrin Piliang mengapresiasi respon yang dilakukan Nurlela. Diharapkannya dengan hal ini menunjukkan ke depan usaha untuk mengatasi persoalan anak bisa ditingkatkan.

Saat ini, kata Zahrin, yang perlu dipikirkan adalah tempat penampungan pasca M dirawat di RS.

Selain itu, polisi juga diminta untuk melakukan pengusutan hingga tuntas terkait kasus penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan, karena kekerasan yang dilakukan bisa mengancam jiwanya, terutama pengusutan pengangkatan MD yang merupakan anak di bawah umur untuk bekerja.

“Pasca perawatan kita harapkan Dinas terkait seperti Dinkes dapat memberikan trauma healing kepada MD, sebab traumanya ini akan sulit untuk disembuhkan hingga dia besar nanti, selain itu Dinsos juga kita harapkan dapat mencari tempat penampungannya, jika hingga saat ini aparat kepolisian tak juga menemukan pihak MD di Gunungsitoli,” jelas Zahrin.

Sebelumnya diberitakan, MD disiksa dan disiram air panas oleh ayah dan ibu angkatnya di Labuhan Deli. Kondisinya sangat memprihatinkan hampir sekujur tubuhnya melepuh. Ia terpaksa tengkurap di bangsal perawatan. Sekujur tubuhnya penuh perban, terutama dari bagian leher hingga ke perut.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (17/9/2016). Orang tua angkat bocah itu, Suparno (39) dan Yasmin Laia (38), warga Jalan Sidomulyo, Pasar VII, Dusun IV, Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, telah dijadikan tersangka dan ditahan di Polres Pelabuhan Belawan. (msc)

Tidak ada komentar