Jangankan Berobat, Antrian Pasien BPJS Saja Sudah Dipersulit


antrian pasien bpjs


Antri dari Subuh, Dapat Nomor 224


Selepas azan subuh, Arian (28) bergegas menuju RSUD Pasar Rebo. Saat itu jarum jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB. Butuh waktu 30 menit dari rumahnya di kawasan Tangerang Selatan. Setibanya di RSUD Pasar Rebo, Arian duduk di depan mesin antrean khusus pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Masih ada waktu 30 menit sebelum mesin nomor antrean dioperasikan.

Harapan Arian agar ibunya mendapat nomor antrean berobat pertama pupus sudah. Ada ratusan orang yang sudah lebih dulu menunggu di sana. Ada yang duduk dan sibuk berurusan dengan telepon genggamnya, ada juga yang terlelap.

Mereka rela menunggu sejak malam hari demi mengantongi antrean pertama berobat jalan di RS milik pemerintah DKI Jakarta itu. Di tangan kanan atau kiri mereka tertulis angka-angka. Ternyata angka itu adalah nomor urut untuk mengambil nomor berobat pasien BPJS. Nomor itu tidak ditulis di kertas.

"Ada satpam jaga malam yang menuliskan nomor itu di tangan keluarga pasien. Jadi begitu mesin beroperasi, orang yang tangannya ditulis nomor 1 bisa ambil duluan," ujar Arian di RSUD Pasar Rebo, Rabu (31/8).

Seorang perempuan pegawai RS mulai bersiap di loket mesin pasien BPJS. Di bagian depan loket, satpam menjaga antrean. Ketika mesin mulai dioperasikan, kericuhan tak terhindarkan. Nomor antrean di tangan hasil karya satpam, seolah tak ada gunanya lagi. Semua berebut mengambil nomor berobat pasien BPJS. Adu mulut antar beberapa orang terjadi sebelum akhirnya satpam RS menenangkan mereka.

Arian hanya bisa pasrah berdiri di antrean yang panjangnya mencapai lebih dari 50 meter. Dia mendapat nomor antrean pasien BPJS 224. Usai mengantongi nomor urut itu, Arian duduk di depan loket BPJS, menunggu giliran mendaftarkan berobat jalan. Pasien lansia mendapat prioritas untuk ke poli yang dituju. Dari mesin pengeras suara otomatis, satu per satu nomor antrean pasien BPJS dipanggil. Tiba giliran nomor antrean yang dipegang Arian. Dia langsung menyambangi loket BPJS dan berkas pendaftaran atas nama ibunya. Petugas di loket itu memberikan nomor 26 untuk berobat di poli urologi.

Arian menghela napas setelah perjuangan sejak subuh. Sambil menunggu kedatangan ibunya, dia duduk di depan poli urologi. Di kursi depan ada seorang ibu yang ikut mengantre. Tak lama, datang seorang pria menghampiri ibu tersebut. Arian mendengar pembicaraan mereka.

"Nanti ibu tinggal langsung masuk saja ke poli urologi, semua udah saya urus," kata Arian menirukan perkataan pria itu.

Pria itu diyakini bukan pegawai rumah sakit. Sebab, semua pegawai rumah sakit menunggunakan seragam. Ibu itu kemudian merogoh tasnya. Dikeluarkannya dompet, lalu diambil beberapa lembar uang Rp 50.000. Lalu diserahkan ke lelaki itu. Setelah menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih, lelaki itu pergi bersamaan dengan dipanggilnya si ibu ke ruang poli urologi.

"Saya tanya ibu itu, katanya lelaki tadi bantu urus antrean," kataya.

Dari Rp50Ribu Hingga Rp100Ribu


Ahmad, warga Jakarta Selatan menceritakan pengalamannya menggunakan jasa calo antrean. Sebelum mengenal jasa calo antrean, setiap sebulan sekali Ahmad selalu datang ke RSUD Pasar Rebo setiap pukul 03.00 WIB. Dia rela antre demi mendapatkan nomor awal untuk berobat pasien BPJS. Setelah berkali-kali ke sana, Ahmad berkenalan dengan satpam RS. Satpam tersebut menawarkan jasa 'mengamankan' nomor antrean.

"Ya istilahnya sih nitip, enggak ada tarifnya tapi biasanya dibayar antara Rp 50.000 sampai Rp 100.000," kata Ahmad.

Ahmad mencoba menggunakan jasa satpam tersebut. Sehari sebelum berobat, dia menelepon satpam dan menitipkan nomor antrean. Cara itu cukup efektif memotong panjangnya antrean. Ahmad mendapat nomor 11. Padahal, biasanya dia mendapat nomor antrean di atas 30. Setibanya di RSUD Pasar Rebo, Ahmad menukar nomor antrean itu dengan selembar uang Rp 50.000. Dia mengaku 3-4 kali menggunakan jasa satpam tersebut.

"Biasanya satpam bilang jangan datang terlalu siang, karena nomor antreannya awal-awal," ucapnya.

Setelah beberapa kali menggunakan jasa 'orang dalam', Ahmad harus kembali ke rutinitasnya antre sejak dini hari. Satpam tersebut tak berani ambil risiko dipecat karena ketahuan menjadi calo antrean.

Tetap Tak Bisa Dapat Nomor 1


Ety Erlina (44) warga Karang Anyar, Jakarta Pusat, mengetahui adanya praktik percaloan di RS. Saat itu, suaminya Uhi Permana (45), penderita kanker darah harus menjalani pengobatan di RS Dharmais, Jakarta. Namun dipindahkan ke RS Tarakan, Kamis (25/8). Selepas subuh Ety sudah berada di RS Tarakan, dengan harapan bisa mendapat nomor pertama untuk berobat suaminya. Kenyataannya, dia tak mendapat urutan pertama.

"Saya udah berangkat subuh-subuh tapi tetap saja dapet nomor antrean 35 di RS Tarakan," kata Ety beberapa waktu lalu.

Awalnya Ety tidak menaruh curiga sama sekali. Sampai akhirnya dia merasa ada yang tidak beres. Beberapa pasien atau keluarganya rela tidur di RS Tarakan untuk mendapat nomor antrean pertama, justru mendapat giliran paling belakang. Terdorong rasa penasaran, Ety mengumpulkan informasi. Dia bertanya ke pasien-pasien lain.

Dari situ dia mendapat cerita bahwa ada beberapa pasien sempat ditawari seseorang untuk mendapatkan antrean lebih awal. Tentunya dengan syarat berupa imbalan beberapa lembar uang Rp 50.000. Mereka tidak memakai pakaian dinas RS tetapi berpenampilan layaknya pasien biasa yang akan berobat.

"Katanya sih tarifnya Rp 50.000-100.000 ya pokoknya antrean itu 1-20 sudah tidak ada," kata Ety. (merdeka)

Tidak ada komentar