Kisah Guru di Pedalaman yang Digaji dari Facebook


guru-pedalaman-aceh

Butuh energi dan keberanian khusus untuk sampai ke pedalaman tersebut. Untuk sampai di sana, misalnya, Linda dan Dea harus bersusah payah menaiki boat masyarakat dari Sekerak, Aceh Tamiang ke Tampur Paloh, Aceh Timur.

Dua guru asal Kuala Simpang, Aceh Tamiang tersebut, membaktikan dirinya di kawasan perbukitan Gunung Leuser. Tidak mudah menjangkau kawasan itu.

Mereka akan terhuyung-huyung selama tujuh jam di sungai Tamiang baru tiba ke kawasan itu.

“Jika banjir maka tak bisa ke sana,” ucap Linda, Kamis (22/9/2016).

Gedung Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Merdeka Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur tempat mereka mengabdi terdiri dari tiga pondok terpisah. 28 siswa belajar saban hari di sekolah yang didirikan setahun terakhir ini.

Meski begitu, Dea dan Linda tak pernah mengeluh. Selama sepekan atau dua pekan mereka akan menetap di pedalaman itu. Mereka meninggalkan keluarganya di Aceh Tamiang demi pengabdian.

dea-dan-linda

Keduanya bukan guru dengan status pegawai negeri. Mereka digaji dari donasi dari Facebook yang digalang oleh relawan, Edi Fadhil.

Edi Fadhil, salah seorang yang berkunjung ke sana menyebutkan masyarakat berinisiatif untuk membangun sekolah agar generasi masa depan daerah terpencil itu bisa mengenyam pendidikan. Sama dengan generasi kita yang hidup nyaman di perkotaan.

“Setahun ini, teman-teman Facebooker sudah mengumpulkan dana. Kedua guru yang luar biasa itu kami berikan honor Rp 1,9 juta. Uang itu sangat kecil. Karena untuk ongkos ke pedalaman itu saja sekali jalan butuh Rp 200.000,” ucap Edi.

Dia menyebutkan, dirinya sudah diamanahkan para pengguna media sosial untuk membayarkan gaji tersebut selama setahun ke depan.

“Kami harap, ini bisa menjadi sekolah negeri. Sehingga, bisa dikelola pemerintah dan pendidikan daerah itu bisa terjamin. Kami ini maksimal bisa membantu hanya dua tahun,” tutur Edi.

Sejauh ini, Ketua DPRA Muharuddin pernah menyumbang seragam sekolah. Anggota DPR RI, Muslim juga pernah berkunjung. Pertamina juga membantu kayu untuk mendirikan sekolah itu.

“Di awal pembangunan, satu kepala keluarga menyumbang satu balok kayu untuk kami jadikan bangunan, dibantu juga oleh Pertamina. Sekarang sekolah sudah berjalan satu kelas,” katanya.

Dia menerangkan, mereka ingin membuat asrama di pedalaman itu. Saat ini, gedung alakadar itu diisi oleh 6 siswa yang menginap.

“Karena tak mungkin mereka pulang pergi ke sekolah. Rumah mereka jauh sekali. Ini harus perhatian khusus,” tambahnya.

Edi berharap, ke depan, pemerintah segera membantu sekolah itu, termasuk bangunan dan segala kebutuhan operasionalnya, sehingga anak-anak pedalaman itu bisa merasakan kata “merdeka” sesungguhnya, merdeka untuk mengeyam pendidikan yang layak. (kompas)

Tidak ada komentar