Kisah Pilot Hebat dari Indonesia yang Luput Dari Perhatian Dunia, Mendaratkan Garuda di Bengawan Solo


[caption id="attachment_4406" align="aligncenter" width="620"]garuda-di-bengawan-solo Kondisi pesawat saat berhasil mendarat di Bengawan Solo.[/caption]

Saat ini, orang sedang ramai membahas film Sully yang menceritakan tentang kehebatan seorang pilot pesawat US Airways bernama Chesley Sullenberger. Sully berhasil melakukan pendaratan darurat di sungai Hudson akibat Power Loss karena Bird Attacks.

Kejadian yang berlangsung pada 15 Januari 2009 tersebut langsung jadi pembicaraan di dunia. Dengan berbagai bumbu penyedap cerita ala Amerika Serikat, (katanya) prestasi itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Ternyata, 7 tahun sebelum kejadian Captain Sullenberger di sungai hudson itu, ada sebuah kejadian yang sama heroiknya, yang di lakukan oleh seorang pilot asal Indonesia bernama Capt. Abdul Rozaq.

16 Januari 2002, menjadi aksi heroik Capt. Abdul Rozaq yang siapapun mengetahui cerita ini sepakat bahwa keberhasilannya mendaratkan GA 421 tujuan Yogyakarta ini tidak kalah hebat dengan aksi Sully. Bahkan saya bilang lebih heroik, karena pendaratan darurat ini dilakukan dari ketinggian di atas 30,000 kaki dengan media pendaratan di Sungai Bengawan Solo yang berkelok - kelok dan memiliki lebar sungai yang tidak selebar Hudson.

Mungkin ada sineas kita yang mau mengangkat kisah ini sebagai bentuk penghargaan untuk beliau dan mengingatkan bahwa pilot kita tidak kalah hebatnya dengan pilot lain di dunia.

Kronologi Menegangkan Pendaratan Darurat Garuda di Bengawan Solo


Pria yang mengawali karir sebagai kopilot Fokker F-28 itu menyatakan masih ingat detail pendaratan fenomenal tersebut. "Tidak cuma di kepala, tapi juga di sini, Dik," katanya sambil tangan kanannya memegang dada sebelah kiri. "Rasanya baru terjadi kemarin," tambahnya.

Santi Anggraeni, pramugarinya itu, meninggal karena tersedot arus udara saat hendak membuka pintu darurat. Penumpang lain hanya luka. Menghela napas sejenak, Rozaq lantas bercerita tentang keajaiban tujuh tahun lalu itu.

"Cuaca awalnya normal. Pesawat juga oke dan take off dengan mulus dari Ampenan," tuturnya. Pesawat dengan nomor penerbangan GA 421 tersebut menerbangi Ampenan, NTB, menuju Jakarta.

Namun, pada pukul 15.20, ketika mencapai ketinggian 31.000 kaki di atas Kota Blora, pesawat masuk ke awan cumolonimbus, sejenis awan tebal yang berbahaya. Tidak ada pilihan lain bagi Rozaq kecuali menembus awan itu.

Pada ketinggian 23.000 kaki, kedua mesin pesawat mati mendadak. Sesuai prosedur, dia segera menghidupkan generator untuk menghidupkan kembali mesin. Namun, yang terjadi justru electricity power rusak. Artinya, dua mesin mati total. Belakangan, hasil investigasi menyebutkan kejadian yang disebut flame out itu memang akibat awan buruk.

"Astaghfirullah Capt, dua mesin mati semua. Apa yang harus dilakukan?" kata Rozaq, menirukan kepanikan kopilot Haryadi Gunawan saat itu. Dia segera melakukan wind mailing, memutar kembali propeller mesin dengan dorongan udara.

"Kira-kira seperti mendorong mobil mogok dengan meluncurkan pesawat ke bawah," katanya.

Namun, usaha itu pun tidak membawa hasil. Keadaan dalam pesawat gelap karena electrical power mati. Pada saat yang sama, pesawat terus turun dari 23.000 feet hingga ke 8.000 feet. Terbayang di benak Rozaq nasib penumpang yang tidak tahu-menahu peristiwa yang sedang terjadi.

Sebelum masuk awan tebal, pesawat sempat kontak dengan ATC (air traffic control) Semarang yang memberi dia clearance (izin) turun ke 9.000 kaki. Itulah kontak terakhir dengan menara pengawas sebelum mesin mati.

Alumni STP Curug 1979 itu mengaku pasrah. Kopilot terus mengirim pesan. "Mayday"mayday" berulang-ulang, namun tidak ada jawaban. "Saya bilang, percuma karena semua peralatan mati. Radio juga mati," tuturnya.

[caption id="attachment_4405" align="aligncenter" width="999"]Abdul Rozak Abdul Rozak[/caption]

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...


Kondisi semakin kritis. "Saat itu saya berteriak Allahu Akbar..., Allahu Akbar", Allahu Akbar"," kata alumnus pelatihan DC-9 di Zurich itu. Pesawat tiba-tiba keluar dari awan sehingga dia bisa melihat dengan jelas semua yang terhampar di hadapannya. Rozaq berpikir, harus segera mendaratkan burung besi seberat 62 ton lebih itu dengan cermat.

Saat itu ada tiga pilihan lokasi untuk mendaratkan pesawat. Yakni, di lapangan bola, sawah, dan sungai. Sekitar dua menit, Rozaq sempat berdiskusi dengan kopilot. "Saya putuskan di sungai. Saya berpikir, kalau di sawah risikonya lebih besar karena ada tegalan yang bisa menggesek bodi (pesawat) dan terbakar," kata pria yang pernah jualan sayur setelah lulus STM pada 1976 itu.

Rozaq lalu melakukan descend (menurunkan pesawat) dan melakukan approach (mendekati) "landasan". Ternyata, ada jembatan besi yang melintang di atas sungai. Terpaksa dia berputar kembali agar dapat mendarat melewati jembatan besi itu. Tanpa tenaga pendorong, pesawat meluncur. "Saya tidak memejamkan mata saat itu," katanya.

Pesawat berhasil berhenti dengan selamat di sisi kanan sungai, di tempat dangkal. Padahal, kedalaman di sekitarnya tidak kurang dari 10 meter. Penumpang bisa keluar dari pintu pesawat. Tidak jauh dari tempat itu ada sebuah rumah kosong dan mobil.

Tak Satu pun Barang Penumpang yang Hilang


"Itu adalah tempat yang dipilihkan Allah buat kami. Penduduk Desa Serenan sangat sigap dan ikhlas membantu. Satu pun barang penumpang tidak ada yang hilang," kata peraih penghargaan American Medal of Honor dari lembaga American Biographical Institute, North Carolina, Amerika Serikat, itu. Razaq membukukan pengalaman fenomenalnya itu dengan judul Miracle of Flight.

Sesudah tragedi, Rozaq menjalani terapi trauma psikologis selama enam bulan. "Sampai sekarang, saya masih terbang. Tapi, frekuensinya tidak sesering dulu," katanya. Kini, selain sebagai pilot, pria yang pernah jadi loper koran itu menjabat bendahara Koperasi Awak Garuda Indonesia. "Sudah berjalan tiga tahun ini," papar pemegang penghargaan Adikarya Dirgantara Darma dari Menteri Perhubungan itu.

Pengalaman Spiritual di Langit


Pengalaman spiritual di langit itu sering diceritakan dalam berbagai seminar. Bahkan, pendiri dan pelatih ESQ (Emotional Spiritual Quotient) 165 Ary Ginanjar Agustian minta izin mengutip pengalaman Rozaq itu dalam salah satu sesi training.

Pelatihan ESQ hingga kini sudah diikuti oleh lebih dari 500 ribu orang di Indonesia dan beberapa negara lain. "Saya bilang silakan saja. Kalau bisa, peserta sadar karunia Allah jangan dengan cara mengalami kejadian seperti saya. Tapi, cukup mengambil hikmah dari pengalaman itu," katanya.

Sebagai pilot senior, Razaq menjadi rujukan konsultasi bagi pilot-pilot muda. "Hati pilot itu sesuai jam terbangnya," kata lelaki yang telah mengabdi selama 29 tahun di Garuda Indonesia itu. Pilot muda dengan jam terbang 0"1.000, menurut mantan tukang reparasi AC tersebut, biasanya cenderung sangat konsentrasi dan waspada. "Tapi, setelah 1.000 hingga 3.000 jam terbang, biasanya mereka overconfident. Itulah yang sangat berbahaya," kata pilot dengan jam terbang lebih dari 20.000 itu. (jp/bbs)

Tidak ada komentar