Kisah Pilu Tentang Pengorbanan Ibu Saat Perahu Tenggelam di Sibolga, “Pergilah, Amang. Selamatkanlah dirimu. Biarlah kami di sini”


[caption id="attachment_4174" align="aligncenter" width="900"]Milson Silalahi/New TapanuliJenazah Rapma Intan Boru Sitorus dan Pestauli Boru Hutagalung saat berada di ruang jenazah RSU FL Tobing Sibolga. Mereka tewas tenggelam setelah perahu mereka dihantam badai. Milson Silalahi/New TapanuliJenazah Rapma Intan Boru Sitorus dan Pestauli Boru Hutagalung saat berada di ruang jenazah RSU FL Tobing Sibolga. Mereka tewas tenggelam setelah perahu mereka dihantam badai.[/caption]

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah.

Sepenggal lirik yang menceritakan pengorbanan seorang ibu, yang dinyanyikan Iwan Fals itu, terlihat jelas pada peristiwa tewasnya Pestauli Boru Hutagalung (48) bersama mertuanya, Rapma Intan Boru Sitorus (46). D

iketahui, sebelum tenggelam, anaknya, Lambok Manalu (28), masih berusaha menolongnya. Namun, melihat Lambok yang sangat kesulitan di tengah laut, Pestauli Boru Hutagalung pun pasrah berkorban demi anaknya.

Dia menyuruh Lambok meninggalkan mereka dan menyelamatkan diri. “Pergilah, Amang. Selamatkanlah dirimu. Biarlah kami di sini,” demikian ucapan terakhir Pestauli Br Hutagalung kepada anaknya. Dan, pada akhirnya, Lambok berhasil selamat, sementara ibunya dan oppungnya, tewas di laut.

Amatan wartawan di rumah duka di Jalan Sibolga-Barus, Dusun II, Desa Mela I, Kamis (8/9), para pelayat tampak memenuhi rumah itu. Tangisan histeris tak henti-hentinya terdengar, dan terasa sangat menggetarkan.

Halomoan Manalu, suami Pestauli menceritakan, pada Rabu (7/9) siang, istrinya bersama anaknya Lambok Manalu dan tantenya, Rapma Intan Boru Sitorus, pergi ke Poncan untuk mencari kayu bakar. Dan, saat diperkirakan mereka telah sampai, dirinya melihat di langit sekitar Poncan awan mendung yang menandakan hujan telah turun di sana. Dirinya yakin bahwa istri dan anaknya tentu tidak akan pulang sebelum hujan reda. Dalam pikirannya, walaupun pulang malam, itu tak jadi masalah, yang penting mereka selamat. Namun ternyata dugaannya salah.

“Ternyata mereka jalan terus untuk menyeberang pulang. Dan, saat di tengah laut, tiba-tiba mesin perahu mereka mati dan badai keras menghantam mereka hingga menyebabkan perahu terbalik dan hilang. Sayang, tante (Rapma Intan Boru Sitorus, red) tidak dapat berenang saat perahu terbalik. Anak saya Lambok masih memegang oppungnya dan oppungnya memeluk Lambok dengan erat sehingga Lambok tidak dapat bernafas. Sementara tangan yang satu lagi, justru dipegang oleh ibunya,” jelas Halomoan.

Karena anaknya dipegang erat, akhirnya dia tidak dapat bernafas dan hampir ikut tenggelam. Dan, saat itu, Pestauli masih sempat melihat kondisi Lambok yang tampak kesulitan. Karena tidak dapat lagi bernafas, untuk melepaskan diri, Lambok pun membuka bajunya, namun tetap masih bisa dipegang dan dia akhirnya melepaskan celananya, barulah dia bisa terlepas.

“Setelah terlepas, dia berniat menolong ibunya, namun ibunya menyuruh Lambok pergi. “Pergilah, Amang. Selamatkanlah dirimu. Biarlah kami di sini,” kata ibunya pada Lambok, seperti cerita Lambok pada ayahnya.

Dan, karena sudah kepayahan, Lambok berenang ke arah bagan. Namun ubur-ubur sudah mengerubutinya hingga ia terluka. Namun ia terus berenang dan sampai di bagan.

Setelah berada di bagan, Lambok menjerit minta tolong dan tidak berapa lama lagi para nelayan datang. Saat para nelayan datang, Lambok meminta agar mereka menolong ibu dan oppungnya sambil menunjuk ke arah mereka. Namun, para nelayan tidak melihat dan kemudian para nelayan menemukan keduanya sudah tak bernyawa dan mengapung di laut. Namun saat itu tidak ada yang berani memegangnya.

“Akhirnya salah seorang dari nelayan berinsiatif melaporkan adanya mayat yang mengapung di laut kepada Lanal Sibolga. Sementara, nelayan lain tetap berada di sekitar lokasi untuk menjaga agar mayat tersebut menghilang dan akhirnya petugas datang dan membawanya ke RSU FL Tobing Sibolga,” jelasnya.

Informasi dihimpun New Tapanuli, usai kedua korban dibawa ke kamar jenazah RSU FL Tobing Sibolga, keduanya dibawa ke rumah Halomoan di Desa mela I dan langsung memandikan keduanya. Setelah dimandikan, jenazah Rapma Intan Boru Sitorus langsung dibawa ke Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo.

Menurut pihak keluarga, jenazah Pestauli Br Hutagalung akan dimakamkan pada Sabtu (10/9) di pemakaman Katolik di Desa Mela, sambil menunggu kedatangan anak keduanya, Fernando Manalu, datang dari Kalimantan, yang rencananya juga akan datang bersama udanya.

Diberitakan sebelumnya, badai yang melanda perairan Pantai Barat Sumatera di wilayah Sibolga-Tapteng yang terjadi belakangan ini akhirnya menelan korban. Seorang ibu dan menantunya tewas saat perahu mereka terbalik dihantam badai.

Pada Rabu (7/9), badai begitu kencang melanda perairan itu. Sekitar pukul 17.00 WIB, Rapma Intan Boru Sitorus (46), Pestauli Boru Hutagalung (48) dan Lambok Manalu (28) baru saja meninggalkan Pulau Poncan. Namun, badai membuat kapal yang mereka tumpangi terbalik yang pada akhirnya Rapma Intan Boru Sitorus dan Pestauli Boru Hutagalung tewas.(newtapanuli)

Tidak ada komentar