Kisah Wak Ong, Mantan Preman Binjai yang Berani Melawan Bandar Narkoba


wak-ong

15 tahun yang lalu, Wak Ong pulang kampung dengan perasaan rindu dendam. Tak lama setelah kejatuhan rezim Soeharto, Wak Ong memutuskan berhenti berpetualang.

Lelaki yang telah mencecahkan kaki ke hampir setiap tempat di Indonesia ini akhirnya menghentikan perantauannya dan memilih menetap untuk meneruskan usaha keluarga yang diwarisi Bendaharo Katung di Binjai.

Bendaharo Katung bukan orang biasa. Pada masanya, ayah dari Wak Ong ini pun cukup dikenal. Sebagai generasi awal di Kampung Bonjol, Bendaharo Katung disegani sebagai orang yang dituakan.

Maka, dari riwayat perjalanan hidup sang ayah, Wak Ong yang merupakan anak terakhir dari 10 bersaudara ini pun melanjutkan kisah dan riwayat hidup keluarga besarnya.

Melanjutkan riwayat keluarganya bisa juga dilakukan dengan meneruskan apa yang sudah ada. Dari sekian banyak hal, meneruskan usaha potong ayam adalah upaya meneruskan kisah keberadaan Bendaharo Katung di Kota Binjai.

Maka di pasar Tavip lah, Wak Ong memutuskan akan mengakhiri petualangannya. Lebih dari 15 tahun lalu, Wak Ong memulai usaha keluarga yang sempat diambil alih oleh janda abang keduanya.

Hidup lebih damai ternyata dirasakan di kampung halaman sendiri. Pelan-pelan, usaha baru yang digeluti Wak Ong mulai membuahkan hasil. Kehidupan ekonominya mulai merangkak stabil seiring dengan dimulainya era pemerintahan baru.

Sayang, di era itu, banyak lahir jagoan-jagoan pasar yang kehilangan induk semang. Kekuasaan berganti, demikian pula dengan preman yang merupakan penggerak roda kekuasaan, ikut berganti.

Suatu kali, 15 tahun yang lalu, seorang anak muda mendatangi lapak tempat Wak Ong berdagang ayam. Dengan pongah, anak muda itu memungut uang preman kepada Wak Ong.

15 Tahun lalu, Wak Ong yang baru saja memulai kehidupan baru, diundang untuk kembali kepada kehidupannya semasa di perantauan. Darah Wak Ong menggelegak. Kesabaran sudah habis. Maka dengan satu dua jurus dia rubuhkan anak muda itu.

Dengan sebilah pisau pemotong ayam, Wak Ong melampiaskan kemarahan. Sang preman pun lari lintang pukang sambil menahan perih di pahanya karena sabetan pisau Wak Ong.

"Preman baru, dia tak kenal saya," desis Wak Ong.

Besoknya, sekumpulan anak muda mendatangi Wak Ong yang tengah memotong ayam. Dengan bringas mereka mengejar dan menghajar Wak Ong. Mereka sukses membalaskan dendam. Sementara wak Ong, sejak itu, kesehatan telinganya kian memburuk.

"Telinga ini tak lagi bisa mendengar karena perbuatan sekelompok anak muda yang kehilangan kesadaran," kata Wak Ong.

Wak Ong dan Jihadnya


Jalan sunyi kian akrab ditapaki Wak Ong. Kehidupan di dunia yang hening mulai mesra dirasakannya. Wak Ong semakin tawaduq, dan meresapi hakikat hidup.

Bila malam tiba, Wak Ong yang sudah tak lagi bisa membedakan kesunyian malam dan kesunyian diri ini selalu terkenang kehidupannya di masa lampau. Masa ketika dia produktif berpetualangan dari tempat ke tempat. Menghabiskan masa muda dengan upaya pencarian jati diri dan eksistensi. Masa muda yang penuh api dan mempesona. Masa muda, dimana hanya ada "aku" dan tiada yang lain. Masa muda seorang pendekar pilih tanding.

"Ketika dia masih bisa mendengar, itu berarti ketika dia masih muda, sehat dan kuat. Semua kenal dengan dia," Demikian Burhanuddin, Kepala Lingkungan IV, Kelurahan Setia mengawali kisah Wak Ong.

"Kami takut, kalau Wak Ong sudah kehabisan sabar. Dia ini tak suka obat-obatan. Preman yang tak suka obat-obatan tepatnya. Agak lucu memang. Sebelum tiba di puncak kemarahan, biasanya Wak Ong hanya diam saja. Dia terus diam. Sampai suatu titik, dia akan mengamuk sampai kehilangan kesadaran. Pokoknya marah sehebat-hebatnya lah. Kalah orang mabuk obat itu," lanjut Burhanuddin, atau biasa dikenal sebagai Mak Etek oleh warga.

Kalau sudah demikian marah, biasanya Wak Ong hanya akan sadar bila Mak Etek datang dan berkata padanya, "Wak Ong, kau memang gila!"

"Wak Ong, gila kau! Nah kalau sudah begitu, parang di tangannya pun jatuh. Wak Ong pasti tertawa dan sadar," kata Mak Etek sambil tertawa.

Di dalam kesunyiannya, Wak Ong memulai jihadnya. Kegilannya dia tunjukkan dengan memusuhi peredaran narkoba di lingkungannya.

"Sehari-hari dia jual ayam potong. Sederhana. Tak ada yang dipusingkannya. Sepanjang ini hidupnya hanya untuk tersenyum dan memerangi narkoba," lanjut Mak Etek. Sungguhpun Wak Ong berjalan di kesunyian, namun ternyata jalan itu tak benar-benar sunyi.

"Kita ngomong begini, nggak dengar dia itu. Kita maki atau puji, dia tetap tersenyum dan ketawa. Karena itu kami sayang padanya," kata Mak Etek.

Sayang itu menjadi-jadi, tatkala Wak Ong memproklamirkan diri sebagai penentang peredaran narkoba di lingkungannya.

"Dia korbankan uangnya sendiri demi membiayai perjuangannya. Dia cetak kaos kampanye anti narkoba. Dia buat spanduk dan karangan bunga yang berisi ajakan untuk meninggalkan narkoba," sambung Mak Etek dengan nada lemah.

"Tak pernah saya temui ada orang bodoh seperti ini. Yang mengorbankan keselamatannya sendiri, menghabiskan uangnya sendiri demi melawan narkoba," lanjut Mak Etek.

Maka sayang warga pun bertambah-tambah. Demikian pula Badan Kenaziran Mesjid Amal. Jamaah mesjid siap menjadi pagar hidup bagi Wak Ong.

"Wak Ong sudah membuat kami bangun. Sudah waktunya kami berdiri bersamanya. Mengawal kebersihan kampung kami. Wak Ong tak sendirian, dia punya kami. Kami akan melindunginya. Jihad melawan narkoba!" seru Mak Etek. (medanbagus.com)

Tidak ada komentar