Mengungkap Kisah 21 Makam Tentara Jepang di TMP Medan


makam tentara jepang

Ini episode dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yang terlupakan. Di Sumatera Utara dan Aceh ada 80 orang serdadu Jepang yang membantu perjuangan bersenjata dalam perang kemerdekaan 1945-1949.

Diantaranya 21dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jl.Si Singamangaraja Medan. Untuk seluruh Indonesia jumlah tentara Jepang yang "menyeberang" membantu Indonesia dalam perang kemerdekaan ada 324 orang.

Historiografi resmi Indonesia senyap, alpa tak menceritakan mereka.
Kisah ini patik dapatkan berawal dari Masatahi Ito yang sempat menjadi mahasiswa patik di jurusan Antropologi Sosial pasca Sarjana Unimed tahun 2010-2011. Dia kandidat doktor dari Nihon University Jepang yang dititipkan Prof.Usman Pelly pada patik karena Ito sebelum promosi doktor diharuskan kuliah bahasa dan kebudayaan Indonesia selama setahun di Medan.

tentara jepang1 tentara jepang

Menjelang kepulangannya ke Jepang patik tugaskan dia ceramah tentang penelitiannya dengan topik "Keturunan dan Kebudayaan Jepang di Medan" pada 18 Maret 2011 di Pascasarjana Unimed (berita ceramah dapat diakses di internet lewat koran Medan Bisnis, dan Sumut Pos 18.3.2011).

Menjelang ceramah itu patik minta pada Ito dapat kiranya patik dipertemukan dengan nara sumbernya, salah satu keturunan serdadu Jepang yang ada di Medan. Tak diduga Ito langsung membawa Bapak Johan Sato (putra tentara Jepang Shichiro Sato) ke kantor patik di prodi Ansos Pasca Unimed dan dari percakapan patik dengan pak Johan patik rasakan kegetiran pak Johan ketika bicara tentang sejarah orang tuanya dan kawan kawannya yang katanya tidak ditulis dalam sejarah Indonesia.

Terharu pada kisah pak Johan Sato, patik utuslah saat itu mahasiswa bimbingan patik, Eviliana Sari menulis skripsi dengan tajuk "Peranan Orang Jepang Pada Perang Kemerdekaan di Sumatera Utara (1945-1949)", memawawancarai pak Johan Kato dan informan lainnya, dan mengungkap sekeping hadiah Jepang terlupakan dalam perang kemerdekaan RI. Penelitian dan penulisan lanjutan tentang ini dilakukan tahun 2016 untuk diterbitkan menjadi buku.

Ke 80 orang Jepang yang membantu perjuangan kemerdekaan RI di Sumut dan Aceh itu di samping melatih para pejuang dibidang penggunaan senjata dan strategi perang termasuk pembuatan peluru serta bom juga ikut bertempur.

Djamin Gintings termasuk pahlawan nasional RI yang mengaku di pengungsian dia dibantu Inoe Teksuro dalam membuat peluru, merubah bom menjadi dinamit dan di pedalaman membuat pabrik peluru berproduksi 500 butir perhari. Juga pejuang Bedjo yang pasukannya memiliki senjata paling lengkap di Medan, mengaku sangat dibantu oleh Shichiro Sato dan teman teman Jepangnya dalam perang Medan Area.

Kita, dalam faham Semangat 45 nasionalisme Indonesia, sejak SD harus diajarkan : "Kemerdekaan Indonesia Bukan Hadiah Jepang" (walaupun paradoks juga anak anak kita hafal siapa yang membentuk dan apa bahasa Jepangnya BPUPKI, PPKI, dan rumah Laksamana Maeda tempat perumusan naskah Proklamasi malam 17 Agustus).

tentara jepang2e

Lalu setelah kita dewasa haruskah kita tutup mata terhadap banyaknya "bantuan" Jepang dalam mencapai kemerdekaan Indonesia? Padahal para pejuang dan pahlawan kita, termasuk pengurus makam pahlawan sajapun mengakui peran dan jasa mereka.

Sisi buruk masa pendudukan Jepang di Indonesia sudah banyak ditulis. Tapi adilkah kita terhadap masa lalu, saat jasa dan bantuan mereka tidak kita nilai ada, dalam penulisan dan pembelajaran sejarah kita?

(Prof. Ichwan Azhari, Sejarawan)

Tidak ada komentar