Tragisnya Nasib Veteran di Tanah Air. SHARE! Jika Masih Ada Rasa Pedulimu!


[caption id="attachment_4003" align="aligncenter" width="552"]ilyas karim Ilyas Karim hanya bisa terduduk lesu.[/caption]

Generasi masa kini sepertinya sudah melupakan sejarah. Atau hilang rasa kepeduliannya terhadap para veteran yang siap mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan.

Veteran seolah tidak mendapat tempat dan disingkirkan. Kemarin, saat perayaan kemerdekaan, masih ada veteran yang disia-siakan. (BACA : "Ndak Apa, Kami di Belakang Saja")

Kini, seorang veteran yang pernah menjadi pengibar bendera di zaman Sukarno, harus terduduk lemas saat rumahnya dihancurkan.

Letkol (Purn) Ilyas Karim tidak kuasa menahan air matanya, saat aparat mengeluarkan isi rumahnya di RT 09 RW 04, Jalan Rawajati Barat III, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (1/9). Rumahnya adalah satu dari puluhan rumah yang diratakan dengan tanah oleh aparat gabungan, karena dinilai berada di jalur hijau.

Penggusuran tersebut juga menyebabkan ratusan jiwa dari 60 kepala keluarga terbengkalai. Satu per satu barang-barang warga permukiman di sana dikeluarkan paksa petugas. Termasuk milik Ilyas, veteran perang era kemerdekaan RI itu.

Pengibar bendera di zaman Presiden Sukarno tersebut sempat berusaha menghalangi aparat yang ingin mengeluarkan isi rumahnya. Ia pun terlibat bentrok dengan seorang petugas Satpol PP yang mencoba memintanya keluar.

"Jangan dorong-dorong. Orang tua ini. Veteran saya ini," ucap pejuang berusia 88 tahun tersebut di lokasi.

Saat keluar dari rumahnya, veteran itu pun sempat menunjukkan rasa kecewanya kepada para petugas yang melakukan penertiban. "Jangan tidak dimanusiakan seperti ini. Masa nggak ada hormatnya sama veteran," tutur Ilyas. Tubuh rentanya pun tak kuasa menahan petugas dan memaksanya merebahkan diri.

"Saya dulu pejuang Siliwangi. Kemana-mana ikut perang. Kongo, Vietnam, Rengasdengklok, saya ikut. Pengibar bendera di rumah Soekarno tahun 45," katanya ketika ditemui di Musala Al Yaqin, Rawajati, seusai penggusuran, Kamis (1/9).

Pria ini mengaku telah tinggal di Rawajati bersama istrinya selama 35 tahun. Dia pindah ke kawasan pinggir rel kereta ini setelah rumahnya di Lapangan Banteng digusur pada tahun 1983.

ilyas karim1

Seperti kebanyakan warga lain, Ilyaskarim membantah bahwa rumahnya merupakan bangunan liar.

"Rumah pakai PBB, KTP, KK sudah 11 tahun bayar PBB. Kalau pakai PBB kan bukan rumah liar berarti," lanjutnya.

Bapak 14 anak ini juga menyatakan tidak mau pindah ke Rumah Susun (Rusun) Marunda yang telah disediakan oleh Pemprov DKI. Alasannya, tidak ada uang ganti rugi yang diberikan setelah penggusuran.

"Bayar dengan apa? Rumah susun itu kan bayar juga. Enak saja disuruh ambil rumah susun. Kalau ini dibayar, baru bisa bayar rumah susun," lanjutnya.

Pada tahun 2011 sempat diberitakan bahwa Ilyaskarim mendapatkan hadiah satu unit apartemen dari pengembang Kalibata City, apartemen yang bersebelahan dengan kawasan rumahnya. Namun ternyata satu unit apartemen tersebut bukan merupakan pemberian.

Dia mengaku hanya menumpang sementara di sana selama tiga bulan berhubung rumahnya di Rawajati sedang dibangun usai kebakaran. Setelah rampung, dia kembali menempati rumah yang sekarang telah digusur tersebut.

"Selaku pejuang saya kecewa. Dulu saya berjuang untuk rakyat, sekarang yang makmur pejabat. Dulu pejabat bapak rakyat, sekarang bapak laknat," tandasnya.

Kakek dari 30 cucu ini menyatakan belum tahu akan tidur di mana nanti malam. Saat ini dia hanya bisa beristirahat di Musala Al Yaqin, musala yang dibangunnya di Rawajati bertahun-tahun silam. Musala tersebut merupakan satu-satunya bangunan yang belum digusur oleh Satpol PP pagi ini atas permintaan para pengurus.

"Terserah anak-anak saya," jawabnya ketika ditanya akan tinggal di mana ke depannya.

Sementara itu, para petugas Satpol PP terus berusaha mengeluarkan isi barang warga. Sedangkan, dua buah ekskavator berwarna kuning mulai merobohkan satu per satu bangunan. Warga pun hanya terdiam dan berurai air mata.

Sejak 2015 lalu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan telah mengeluarkan surat peringatan kepada warga Rawajati RT 09 RW 04 untuk mengosongkan rumah mereka. Permukiman mereka akan digusur oleh pemerintah lantaran tempat yang dihuni oleh mereka merupakan ruang terbuka hijau (RTH).

Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta, Syarif menilai, penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan terhadap permukiman warga RT 09 RW 04 Rawajati Barat, Pancoran, Jakarta Selatan adalah ilegal. Hal ini karena penggusuran tersebut dinilai tidak dilengkapi surat izin.

"Pokoknya penggusuran ini ilegal, tadi saya sempat minta surat izin penggusuran, ternyata mereka tidak bawa," ujar pria berkacamata tersebut di lokasi penggusuran, Kamis (1/9).

Syarif mengatakan, penggusuran tersebut juga menyebabkan ratusan jiwa dari 60 kepala keluarga terbengkalai. Menurut dia, apa yang dilakukan pemerintah terkesan mendadak. "Saya tadi sempat tanya kepada Lurah Rawajati dan Camat Pancoran, tapi mereka tidak menjawab, malah lari," ujarnya. (bbs)

Tidak ada komentar