Gara-gara Ucapkan Insya Allah, Pria Ini Diturunkan dari Pesawat


[caption id="attachment_4518" align="alignleft" width="344"]Khairuddin Khairuddin[/caption]

Kisah pria yang diusir dari pesawat gara-gara ucapkan Insya Allah ini menunjukkan betapa penggiringan opini di media membuat masyarakat anti terhadap sesuatu yang berbau Islam. Media selalu mengekspose berita tentang kebrutalan segelintir orang yang mengaku muslim.

Tapi lupa kepada ratusan nyawa muslim yang tidak berdosa yang menjadi korban kebringasan negara-negara adidaya.

Gara-gara Ucapkan Insya Allah


Seorang pria muslim bernama Khairuldin Makhzumi, 26 tahun asal Irak, disuruh turun dari pesawat Southwest Airlines di Bandara Los Angeles, Amerika Serikat, lantaran seorang penumpang mendengar dia berbicara bahasa Arab melalui ponselnya.

Pria lulusan Barkeley itu baru saja duduk di kursi pesawat dan menelepon pamannya di Baghdad, Irak, untuk menceritakan betapa senangnya dia diundang makan malam dengan Sekeretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon sehari sebelumnya. Sebelum menutup telepon dia mengucapkan kata 'insya Allah'.

Dia lalu melihat seorang penumpang perempuan memperhatikannya ketika menutup telepon. Dia mengira perempuan itu merasa terganggu karena suaranya terlalu keras.

"Seorang pria datang bersama seorang polisi dan dalam dua menit saja saya disuruh turun dari pesawat," kata Makhzumi kepada stasiun televisi CNN, seperti dilansir the Independent, Kamis (6/10).

Seorang intel kemudian menggiring dia keluar dan menanyakan mengapa dia berbicara dalam bahasa Arab.

"Anda jujur saja kepada kami tentang apa yang Anda sebut syahid. Beritahu kami apa yang Anda tahu tentang syahid," kata si intel kepada Makhzumi.

Pria lulusan ilmu politik itu kemudian menjelaskan arti kata 'insya Allah' kepada si intel. Dia bilang itu artinya semoga Allah mengizinkan. Akhirnya dia dibebaskan tapi sebelumnya kopernya sempat diendus anjing pelacak dan dompetnya diperiksa.

"Amerika adalah negara bebas. Orang menghormati hukum. Bagaimana mungkin orang dipermalukan seperti ini? Ini sangat mengejutkan," kata dia kepada the Independent.

"Saya hidup di masa Saddam Hussein. Saya tahu rasanya mengalami diskriminasi," kata dia.

Makhzumi datang ke AS pada 2010 sebagai pengungsi bersama kakak perempuannya.

Setelah kejadian itu akhirnya biaya tiket pesawatnya dikembalikan dan dia pergi dengan pesawat lain.
[pan]

Tidak ada komentar