Jika Terus Seperti Ini, Medan Utara Bakal Tenggelam!!!


Kawasan Medan Utara terancam tenggelam. Dan yang lebih gawat, proses tersebut juga akan membawa kota Medan ikut TENGGELAM!

Kelurahan Paya Pasir Medan Marelan itu dulunya laut. Pada penggalian/eskavasi arkeolog dunia dari Prancis, Prof.Dr.Daniel Perred tahun 2012 di halaman Museum Situs Kota China, di kedalaman 1,8 meter ditemukan pecahan lunas kapal.

Walikota Medan Rahudman Harahap, pejabat pejabat Pemko Medan termasuk kepala Bappeda pak Zulkarnain hadir saat itu.

[caption id="attachment_4505" align="aligncenter" width="541"]Prof.Dr.Daniel Perred menjelaskan di atas kotak eskavasi/kotak gali temuan lunas kapal pada Walkot Medan Rahudman Harahap 2012, nampak Kepala Bappeda Zulkarnain di belakang juga Pak Affipuddin ketua Dewan Kota di sampingnya, di halaman Museum Situs Kota China yang digali sampai ke dalaman 1.8 meter. Team ilmuwan lain (Yann Chabot dkk) mengebor sampai ke dalaman 6 meter lokasi itu tahun 2014. Prof.Dr.Daniel Perred menjelaskan di atas kotak eskavasi/kotak gali temuan lunas kapal pada Walkot Medan Rahudman Harahap 2012, nampak Kepala Bappeda Zulkarnain di belakang juga Pak Affipuddin ketua Dewan Kota di sampingnya, di halaman Museum Situs Kota China yang digali sampai ke dalaman 1.8 meter. Team ilmuwan lain (Yann Chabot dkk) mengebor sampai ke dalaman 6 meter lokasi itu tahun 2014.[/caption]

Menguak Sejarah


Apa makna temuan itu? 200 meter dari situ, digalian tanah warga yang kemudian jadi danau Siombak, tahun 1988 ilmuwan Amerika (Manguin dkk) menemukan kerangka kapal yang sempat dijadikan kayu bakar oleh warga.

Ada dua disertasi internasional tentang Kota China (Mckinnon, Micksic) puluhan artikel ilmiah di berbagai jurnal ilmiah, termasuk ilmuwan dari Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Medan sampai ke sejarahwan besar otodidak Sumatera Utara seperti Tengku Lukman Sinar dan Mohammad Said, menulis tentang situs ini.

Situs Kota China pun masuk dalam peta situs arkeologis internasional. Sejalan dengan terkenalnya situs ini, tahun 2014 sekelompok ilmuwan Prancis (Yohan Chabot, Nicole Limondin-Lozouit, Yann Le Drezen) yang bukan arkeolog, bukan sejarahwan meneliti perubahan lingkungan manusia kuno di sini.

Mereka adalah ahli evolusi paleoenviromental (perubahan lingkungan hidup kuno ) dan mengungkap apa yang terjadi 1000 tahun yang lalu sampai sekarang di kelurahan Paya Pasir.

Mereka mengebor 42 titik sedalam 6 meter dalam rentang jarak 20 meter dan menganalisisnya di laboratorium Sorbonne Prancis. Cuplikan riset team ilmuwan Prancis ini sudahlah patik paparkan di depan kepala Bappeda Medan. Tapi kesibukan mengurus kota menyebabkan para pejabat mudah lupa.

Medan Utara Terbentuk dari Sedimentasi


Apa makna temuan itu? Seluruh Medan Utara sejak 1000 tahun yang lalu terbentuk dari sedimentasi dari gunung Bukit Barisan lewat sungai, sedimentasi yang seperti mereklamasi laut selama ratusan tahun.

Di ujung sedimentasi itu Allah memberikan rachmat hutan bakau untuk membentengi kawasan itu dari air pasang laut dan agar darat hasil sedimentsi itu ratusan tahun berikutnya bisa dihuni manusia, bercocok tanam , beranak pinak : manusia Medan Utara.

Dari hasil penelitian mereka diketahui bahwa hutan bakau belum muncul di abad 14, jadi bakau benar benar dimunculkan alam belakangan sebagai benteng reklamasi alamaiah yang terjadi.

[caption id="attachment_4506" align="aligncenter" width="552"]temuan-ilmuwan Inilah publikasi 3 ilmuwan Prancis ahli evolusi lingkungan purba di situs kota China. Mereka mengebor 42 titik sample rentang 20 meter di kedalaman 6 meter dan menganalisisnya di laboratorium Universitas Sorbonne Paris Prancis.[/caption]

Benteng Medan Utara Semakin Hancur


Jika benteng itu dihancurkan maka reklamasi alam itu longsor ke laut dan laut mengambil kembali kawasannya. Seluruh Medan Utara akan menjadi laut kembali, tinggal tunggu waktu saja. Kalau Medan Utara jadi laut, seluruh kota Medan juga menyusul.

Membangun tanggul hanyalah solusi sementara. Tanggul yang sebenarnya, (belajar dari sejarah alam), hutan bakau penjaga reklamasi alamiah itulah yang harus dibangun. Pasti dengan gerakan politik yang konsisten juga.

Apakah Pemko Medan berani menutup tambak tambak penghancur hutan bakau, menghentikan para penebang dan penampung kayu bakau, menutup TPA Terjun penyebab matinya biota dan ekosistem Paya Pasir, minta pertanggung jawaban perusahaan Pengeruk Danau Siombak? (Dalam postingan mendatang rusaknya ekosistem ini akan dibahas).

Banjir Rob adalah Bukti Awal


Telaah tentang Banjir / Rob yang melanda kawasan Medan Utara tidak bisa hanya cakap cakap tanpa melibatkan ilmuwan yang menguasai bidangnya. Kita tidak perlu ahli cakap cakap.

Apakah Pemko Medan pernah serius mengundang ilmuwan yang kredibel membicarakan ini? Atau memanfaatkan penelitian para ilmuwan yang telah mengeluarkan milyaran rupiah pun tak bisa , tanpa harus sepeserpun ada uang Pemko di situ?

Bahkan minta selamatkan situsnya agar para ilmuwan bisa penelitian, tidak terhalang permukiman, sampai hari ini, 1 cm pun Pemko BELUM. Situs itu bukan hanya penting bagi sejarah manusia, situs ini juga menyimpan data perubahan lingkungan yang sangat diperlukan bagi manusia kini dan masa mendatang.

(Prof. Ichwan Azhari - Sejarawan).

Tidak ada komentar