Kisah Duka Erniati Sitanggang, Mabalu So Martujung


[caption id="attachment_4667" align="aligncenter" width="1078"]Pelaminan yang sempat terpasang, harus dibongkar setelah sang pengantin meninggal dunia. Pelaminan yang sempat terpasang, harus dibongkar setelah sang pengantin meninggal dunia.[/caption]

Janda tidak menikah atau dalam bahasa Batak disebut mabalu so martujung, begitulah sebutan untuk Eniati Br Sitanggang, usai ditinggal calon suaminya, yang tiba-tiba meninggal dunia malam sebelum pernikahan mereka.

Sejak pagi di rumah duka di Desa Sosorgotting, Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah (Tapteng), hingga pemakaman sore harinya, Rabu (12/10), Eniati memang terlihat sangat syok.

BACA :




  1. Tapteng Geger! Senyum dan Tawa Berubah Jadi Tangisan




  2. Kisah Cinta Menguras Air Mata, Kenalan di Facebook, Berujung ke...




 

Air mata yang terus berlinang menandakan bahwa dia sangat terluka. Keluarga tampak selalu mendampinginya, khawatir bila Eniati tiba-tiba jatuh, karena saat ini kondisi fisiknya sangat lemah.

Pelaminan pun tampak diangkat oleh pekerja usaha jasa penyewaan pelaminan setelah salah seorang keluarga (hasuhutan) menelepon pemilik usaha. “Angkatlah pelaminan ini, kita sudah berkabung,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Tak Ada Lagi yang Ditunggu


“Tidak ada lagi yang harus ditunggu, semua sudah berantakan. Tak ada artinya lagi ditunggu. Maka pada malam pesta hiburan itu, saat ia sudah meninggal, saat itu juga dilangsungkan tonggo raja (pertemuan yang diselenggarakan malam sebelum acara adat untuk membicarakan bagaimana prosesi adat adat yang akan dilakasanakan besoknya) untuk penguburannya,” ujarnya menceritakan kepanikan mereka di malam tragis itu.

Dan, saat jenazah korban dibawa ke pemakaman, warga tampak ramai mengiringi sembari bercerita tentang korban semasa hidup.

“Dia orang yang baik, dia pria yang mandiri dan pekerja keras. Dia bekerja di salah satu kilinik bersalin di Jakarta. Dia pulang sekira satu bulan lalu untuk menikah,” ujar warga bermarga Simarmata (40), teman satu kampung korban.

Erniati juga tampak ikut saat penguburan. Langkahnya lunglai dan diapit oleh dua orang keluarganya. Wajahnya pucat. Sesekali gadis berkulit sawo matang itu mengusap air matanya.

“Dia sangat sedih. Bagi orang Batak, dia (Erniati) ini namanya mabalu so martujung atau janda belum menikah. Pokoknya sangat sedihlah,” ujar salah sorang pelayat.

Usai pemakaman, rumah korban masih tampak ramai oleh keluarga dan warga desa. (jp)

Tidak ada komentar