Kisah Jaksen Sirait, Penyemir Sepatu Asal Siantar, Dituduh Mencuri Hingga Jadi Korban Tabrak Lari


jaksen-sirait

Masa kecil Jaksen Binyamin Sirait (11) dihabiskan untuk berjuang menghidupi keluarga. Penyemir sepatu asal Siantar ini merupakan warga Jalan Kertas, Kecamatan Siantar Timur. Ia lakoni pekerjaannya itu sepulang sekolah.

Bermodalkan perlengkapan semir seadanya, Jaksen tampak sudah terbiasa dengan profesi yang kini seolah menjadi kewajiban baginya.

Rasa letih dan malu, seperti sudah habis dilunak target pendapatan yang harus ia bawa pulang. Kedai-kedai kopi menjadi tempat favoritnya menawarkan jasa menyemir sepatu.

“Udah tiga tahun aku jadi tukang semir, Bang,” ujarnya, duduk di lantai, sembari membersihkan sepatu hitam salah satu pelanggaan kedai kopi.

Sebelum ayahnya meninggal dunia, bocah berkulit putih ini mengaku kalau ekonomi keluarganya sangat cukup.

Namun seketika buyar, dan memaksa mereka harus meninggalkan rumah kontrakan terdahulu.

Beruntung, ada Pendeta GBI, tempat ia dan keluarganya beribadah, memberi tumpangan tempat tinggal, hingga saat ini.

“Kami dikasih tinggal di tempat kos Amang Pendeta, sekalian menjaga kos itu. Di situ Mamak juga berjualan,” akunya, tanpa malu.

Selama menjadi tukang semir keliling, bocah yang bercita-cita jadi seorang pemimpin ini, mengalami kisah yang cukup tragis. Dia pernah dituduh mencuri dan menjadi korban tabrak lari, sudah biasa ia alami.

Namun hal itu tak pernah sampai ke ibunnya, dengan alasan takut kalau sang ibu khawatir dan tidak m
mengizinkannya bekerja lagi.

Jadi Korban Tabrak Lari, Tak Satu pun Orang Menolong


Hal yang paling tidak ia lupakan adalah, peristiwa tabrak lari yang terjadi di Jalan Merdeka, tepatnya di depan kantor Walikota Siantar. Saat itu, hari sangat terik, dan kondisi jalanan tidak begitu ramai.

Ketika langkah kecilnya sampai di bahu jalan, dengan kencang pengendara sepedamotor langsung menabraknya.

Seketika ia terdorong hingga beberapa meter ke depan. Sementara si pengendara melaju kencang meninggalkannya yang masih terbaring.

Peralatan semir berhamburan di jalan. Tidak satu orangpun menolongnya. Hanya menonton dan berlalu seperti tidak peduli melihat bocah polos ini penuh dengan luka.

Jaksen pun menepi, setelah memungut semua peratan semir yang dibeli ibunya. Rasa perih tetap tidak mematahkan semangatnya mencari pemilik sepatu yang ingin memakai jasanya.

Untuk menghentikan darah yang mulai mencucur di kakinya, ia pun mengambil rumput di sekitarnya, kemudian ia mengunyahnya untuk ditempel ke bagian luka.“Yang penting Mamak nggak tau, mangkanya cepat-cepat ku obati sendiri,” kenangnya.

Setiap harinya, uang yang bisa ia bawa ke rumah bervariasi. Jika keberuntungan berpihak, ia bisa membawa Rp30 ribu. Namun jika situasi sepi, ia bisanya hanya membawa Rp20 ribu bahkan kadang tidak ada sama sekali.Begitulah kegiatan Jaksen setiap harinya. Ia berharap, kelak nasibnya bisa berubah ke arah yang lebih baik. (esa/ms)

3 komentar:

  1. negatif sekali pandangan ke orang yg susah..udah bagus mau jadi penyemir sepatu..bantu org tua.. jangan kalian pandang jijik!!

    BalasHapus
  2. negatif sekali pandangan kalian ke orang yg susah..udah bagus mau jadi penyemir sepatu..bantu org tua.. KALAU Kalian berada di posisi anak ini keadaanya..mampu tidak berrtahan sperti anak ini?? jangan kalian pandang jijik!!

    BalasHapus
  3. Teruskan perjuangamu , tetap sekolah , raih cita citamu dan jangan lupa tetap berdoa , kita senasib semas saya seusia kamu

    BalasHapus