Kisah Ni Luh Madri, Siswi Miskin Yang Berjuang Demi Pendidikan dan Keluarga


[caption id="attachment_4490" align="aligncenter" width="600"]Ni Luh Madri (kanan ke dua) Foto: Anom Suardana/Radar Bali Ni Luh Madri (kanan ke dua) Foto: Anom Suardana/Radar Bali[/caption]

Kehilangan satu tangan akibat diamputasi dan hidup di bawah garis kemiskinan, tak membuat Ni Luh Madri patah semangat.

Siswi kelas III SMPN 5 Melaya, Jembrana itu tetap semangat bersekolah meski hidup dalam keterbatasan.

NI Luh Madri, adalah anak pertama pasangan suami istri Kadek Raun (36) dengan Luh Sumerti (32), warga di Dusun Palarejo, Desa Ekasari, Melaya.

Terlahir secara normal, tapi kini gadis manis ini harus merasakan pahitnya kehidupan karena kehilangan salah satu bagian tangannya.

Ya, tangan kanan Madri harus diamputasi karena patah akibat terjatuh dari pohon saat duduk di kelas 2 sekolah dasar (SD).

“Tangan saya patah dan karena tidak ada biaya berobat saat itu hanya menggunakan pengobatan tradisional. Namun tangan saya membusuk, akhirnya harus diamputasi,” tutur Madri.

Sejak kehilangan tangan kanannya itu, praktis Madri beraktivitas hanya dengan tangan kirinya, baik makan, menulis atau pekerjaan lainnya termasuk saat bersekolah dengan naik sepeda gayung.

Meski harus berangkat lebih pagi sekitar pukul 06.00 dengan mengayuh sepeda sejauh 5 kilometer dengan kondisi jalan rusak, namun wanita 14 tahun ini tetap semangat berangkat ke sekolah.

“Saya ingin terus sekolah,” ucapnya.

Sepulang sekolah, Madri tidak mau diam. Dia berusaha membantu orang tuanya mencari kayu bakar di seberang bendungan Palasari dengan mendayung rakit kayu.

“Saya sudah biasa naik rakit sendiri untuk mencari kayu bakar guna membantu orang tua. Saya dayung dengan pelepah daun kelapa," katanya.

Tak hanya itu, ia juga mahir berenang.

"Saya juga bisa berenang dengan satu tangan. Sehingga saya tidak khawatir jika terjatuh di bendungan. Tetapi saya selalu berdoa agar diberi keselamatan,” harapnya.

Rumah keluarga miskin yang masuk buku merah itu memang berada di pelosok di pinggir bendungan Palasari.

Jalan menuju rumah mereka penuh bebatuan dan rusak. Pasutri itu memiliki empat orang anak termasuk Mandri.

Mereka sudah diupayakan mendapat bedah rumah. Namun, karena tanah yang ditempati adalah bagian dari proyek Irigasi Bali, sehingga belum bisa diusulkan mendapatkan bantuan bedah rumah.

Meski begitu, mereka sudah menerima raskin dan Madri mendapat beasiswa. Sehari-hari keluarga miskin ini tidur dalam gubuk yang jadi satu dengan dapur dengan dua kasur dan tikar.

Beruntung, kondisi keluarga miskin ini kemarin mendapat perhatian dari Polres Jembrana.

Melalui Jumat Berbagi, Wakapolres Jembrana Kompol AA Rai Laba bersama Kapolsek Melaya Kompol Ketut Darmita dan Babinkamtibmas, Babinsa dan Kadus Palarejo mengunjungi mereka dan memberikan bantuan.

“Kami prihatin dengan kondisi siswi dan keluarganya seperti ini. Kami juga salut dengan semangatnya. Jadi mari bersama-sama kita bantu,” uncap Rai Laba usai menyerahkan bantuan.(ANOM SUARDANA, Negara)

Tidak ada komentar