Mantan Ajudan Soekarno itu Telah Berpulang untuk Selamanya


[caption id="attachment_4575" align="aligncenter" width="480"]Maulwi Saelan (baret biru), setia mengawal Bung Besar. Maulwi Saelan (baret biru), setia mengawal Bung Besar.[/caption]

Mantan ajudan Soekarno itu telah berpulang untuk selama-lamanya. Maulwi Saelan, pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI periode 1964-1970 itu meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, Senin (10/10/2016).

Kepastian wafatnya mantan kapten Timnas Indonesia itu di dapat dari sejarawan Bonnie Triyana. "Pak Maulwi Saelan, Mantan Pengawal Bung Karno dan Kapten Timnas Indonesia wafat pukul 18.30 WIB di RSPP," ucap Bonnie melalui akun media sosialnya, @BonnieTriyana, Senin (10/10/2016).

Putra keempat Malwi Saelan, Asha Saelan mengatakan, sang ayah terbaring sakit di ruang ICU RS Pertamina selama hampir dua pekan. "Bapak masuk ruang ICU dan kesehatannya terus menurun," ungkap Asha kepada Bola.com.

Pria kelahiran Makassar, 8 Agustus 1926 ini telah mengharumkan nama Indonesia dikancah internasional.

Salah Satu Kiper Terbaik Indonesia


Dia juga bermain luar biasa saat mengawal gawang Timnas Merah Putih di Olimpiade Melbourne 1956.

Saat itu, Maulwi Saelan sukses menahan gempuran pemain Uni Soviet sehingga timnas mampu menahan imbang 0-0.

Padahal, Uni Soviet merupakan salah satu tim terkuat di dunia saat itu.

Prestasi tersebut bisa dikatakan fenomenal dan hingga saat ini belum mampu diimbangi oleh timnas saat ini.

Dikutip dari Sukarno.org, Mauli Saelan memang punya keinginan sejak kecil untuk menjadi pemain sepak bola yang tampil di Olimpiade. Keinginan itupun tercapai tepatnya 17 November 1956.

“Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti.” kenangnya.

Dalam peluncuran buku "Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66", Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Bung Karno dipreteli.

[caption id="attachment_4576" align="aligncenter" width="581"]Di mana ada Soekarno, di situ ada Maulwi. Di mana ada Soekarno, di situ ada Maulwi.[/caption]

Mantan ajudan Soekarno yang Setia Sampai Akhir


Selang beberapa lama setelah peristiwa G30S 1965, ring satu yang mengitari Bung Karno mulai disingkirkan. Sebanyak 15 menteri dalam Kabinet Dwikora ditangkap.

Pengawalan terhadap Bung Karno perlahan dikurangi dan kemudian ditiadakan sama sekali bersamaan pembubaran Tjakrabirawa.

“Fasilitas untuk presiden mulai dikurangi. Pengawalan hanya dilakukan oleh CPM seadanya. Presiden tidak boleh lagi menggunakan helikopter, hanya boleh menggunakan mobil,” kenang Maulwi.

Pascabubarnya Tjakrabirawa pada 1967, pengawalan Bung Karno diserahkan kepada Pomad AD yang pro Soeharto. Sementara untuk keperluan pribadi Presiden, Detasemen Kawal Pribadi (DKP).

Mangil Martowidjojo, yang memimpin DKP, tetap bertugas seperti biasa. Detasemen itu sudah berdiri semenjak awal masa kepresidenan Bung Karno.

Menurut Maulwi, para pengawal dari DKP itu mengalami tekanan batin yang sangat mendalam ketika mengawal Bung Karno di pengujung kekuasaannya.

Tak jarang anggota Pomad AD membentak anggota DKP hanya karena dianggap melayani presiden secara berlebihan kendati sekadar menjalankan kewajiban saja.
(qlh)

Tidak ada komentar