Anggota DPRD Sumut Entah Kemana Semua, Penderita Tumor Mulut Asal Nias Ngadu ke Presiden


[caption id="attachment_5031" align="aligncenter" width="672"]Andika SyahputraPenderita tumor asal Kabupaten Nias Selatan mengadukan nasibnya ke gedung DPRD Sumut, Jumat (4/10). Kedatangannya bermaksud meminta bantuan karena tidak mendapat pelayanan yang layak dari RSUP H Adam Malik. Andika SyahputraPenderita tumor asal Kabupaten Nias Selatan mengadukan nasibnya ke gedung DPRD Sumut, Jumat (4/10). Kedatangannya bermaksud meminta bantuan karena tidak mendapat pelayanan yang layak dari RSUP H Adam Malik.[/caption]

Sungguh malang nasib Oru Dugo Zebua. Keinginan pria asal Kabupaten Nias Selatan untuk mengadukan nasibnya ke anggota DPRD Sumut kandas karena tak seorangpun anggota DPRD Sumut berada di tempat saat pria penderita tumor mulut itu mendatangi gedung wakil rakyat di Jalan Imam Bonjol, Medan, Jumat (4/11).

Anggota DPRD Sumut Fraksi PDI-P Sutrisno Pangaribuan pun angkat bicara mengenai insiden ini. Sebab, tidak satupun anggota DPRD Sumut yang menerima kedatangan Oru Dugo Zebua. Sutrnisno menyebut kejadian itu sungguh memalukan. Sebab, tidak semestinya Oru Dugo Zebua dibiarkan begitu saja menunggu kehadiran para wakil rakyat.

Politisi yang dikenal vokal itu menyebut Badan Musyawarah (Banmus) yang paling pantas disalahkan. Menurutnya, tidak semestinya Banmus mengizinkan seluruh anggota DPRD Sumut pergi keluar kota untuk agenda kunjungan kerja (kunker).

“Kenapa Banmus mengizinkan semua pergi diwaktu bersamaan, ini merupakan kesalahan managemen program lembaga tidak mewakili kepentingan rakyat,” kata Sutrisno, Minggu (6/11).

Dia mengatakan, hal seperti ini sudah sering disampaikan kepada forum resmi. Namun, tidak juga ada perubahan. “Ini sungguh memalukan dan menampar wajah lembaga legislatif,” ungkapnya.

Berdasarkan jadwal kerja November, kata dia, yang seharusnya melakukan kunker hanya Badan Anggaran (Banggar) serta Badan Pembuatan Peraturan Daerah (BPPD).

“Harusnya perwakilan komisi ada yang berjaga di kantor dan semestinya juga salah satu dari 4 pimpinan dewan ada di tempat,” pungkasnya.

“Seharusnya masalah ini bisa cepat diselesaikan oleh Pemprovsu. Sekda tinggal instruksikan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk bertindak,” tambahnya.

Telepon Tak Diangkat, SMS Tak Dibalas


Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman belum bisa dimintai tanggapan mengenai kejadian tersebut. Politisi Golkar itu tidak merespon ketika dihubungi. Pesan singkat yang dilayangkan juga tidak berbalas.

Sebelumnya, Oru Duga Zebua datang bersama istri, keponakan serta dua warga yang peduli dengan keadaannya. Mereka datang berniat menemui anggota DPRD Sumut untuk menyampaikan persoalan yang sebenarnya.

Aru, keponakan Oru, bercerita, bagaimana kondisi yang sedang dialami pamannya itu. Menurutnya, sang paman sudah sepekan berada di RSUP H Adam Malik. Namun, di rumah sakit milik pemerintah pusat itu, pamannya tidak mendapatkan perlakukan yang layak.

“Awalnya paman berobat di RS Gunung Sitoli, tapi rumah sakit di sana tak mampu menangani, karena keterbatasan alat. Makanya dirujuk ke RSUP H Adam Malik,” beber Aru, saat mendatangi gedung DPRD Sumut.

Aru menyebutkan, pihak RSUP H Adam Malik tidak bersedia merawat pamannya. “Rumah sakit bilang agar dilakukan rawatan jalan. Tapi lihat bagaimana kondisinya sekarang, tumornya sudah semakin besar. Kamis (3/11), RSUP H Adam Malik hanya mengambil sampel daging busuk, dan hasilnya baru keluar minggu depan,” ungkapnya.

“Kalau paman minta supaya dibawa pulang ke kampung saja, karena ia takut penyakitnya semakin parah. Kalaupun umurnya pendek, beliau ingin dikubur di kampung halaman,” imbuh Aru.

Kedatangannya ke gedung DPRD Sumut, yakni meminta pertolongan agar bisa memfasilitasi, sehingga mendapatkan perawatan yang layak dari RSUP H Adam Malik. “Beliau ini orang susah. Kenapa dengan kondisi seperti ini, tidak ada yang peduli?” ungkap Aru kesal.

"Jangan ketika Pemilu saja peduli dengan rakyat kecil,”


Aru pun bercerita, awal mula tumor di mulut pamannya tumbuh sekitar 3 bulan lalu. Namun pertumbuhannya semakin hari semakin memperihatinkan. “Coba lah lihat bagaimana mulutnya sekarang, lukanya semakin besar, ada bau. Kalau tidak dirawat, takutnya makin parah,” katanya.

Lincor, seorang warga yang peduli dengan nasib Oru, mengaku kecewa dengan sikap para wakil rakyat. “Tolonglah kebijakan dari para wakil rakyat, ini orang susah, butuh pertolongan. Jangan ketika Pemilu saja peduli dengan rakyat kecil,” tegasnya.

Ia juga terus mendesak agar security gedung DPRD Sumut mempertemukannya dengan para wakil rakyat. “Ini kan masih jam kerja, kenapa tidak ada seorangpun anggota dewan di tempat,” sesal Licor.

“Sudah tidak ada lagi anggota dewan, mereka tugas di luar,” timpal Sugeng, security gedung DPRD Sumut.

Saat itu, Ketua Komisi E DPRD Sumut Syamsul Qadri mengatakan bahwa ia sedang berada di Polda Sumut. “Saya ikut aksi, tidak bisa bergerak ke mana-mana. Macet,” ungkapnya ketika dihubungi.

Meski begitu, ia mengaku akan berusaha untuk menghubungi pihak RSUP H Adam Malik agar dapat memberikan perawatan kepada penderita tumor asal Nias Selatan itu. “Nanti saya bantu hubungi pihak rumah sakit,” kata Syamsul.

Wakil Ketua Komisi E, Zahir mengaku, sedang berada di Jakarta. “Saya sedang di Jakarta,” ujar Ketua Fraksi PDI-P ini.

Zahir menyebutkan, sikap RSUP H Adam Malik yang arogan bukan kali pertama. Sebab, sudah banyak laporan yang diterimanya tentang rumah sakit tersebut. “Mungkin karena rumah sakit milik pemerintah pusat, makanya bersikap seperti itu, kami sangat menyayangkan hal tersebut,” pungkasnya. (smg/dik/NT)

1 komentar:

  1. kasihan.....
    sudah hialng rasa kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang tak mampu, padahal jelas2 saudara Oru butuh pengobatan, pemerintah nias pada sibuk sampai2 masyarakatnya sendiri yang menunjang dia menjadi megah saat ini,tidak di hiraukan., bagaimana kalau terjadi di keluarga anda penyakit macam ini, ?

    BalasHapus