Kisah Perjuangan Pemuda Siantar dan Jenderal Mayor Mata Satu


Ini kisah sejarah kemerdekaan di Siantar. Tentang keberanian para pemuda melawan tentara Belanda bersenjata lengkap, dan tentang seorang Jenderal Mayor Mata Satu yang semakin dilupakan.

HARI itu, 15 Oktober 1945 sekira pukul 12.15 WIB. Para serdadu Belanda/NICA menurunkan secara paksa bendera Merah Putih di beberapa lokasi di Kota Siantar.

Termasuk di depan asrama I BKPI (semacam asrama gabungan rakyat pejuang dan tentara, berlokasi di kawasan Timbang Galung saat ini). Tak hanya itu, letusan demi letusan senjata api juga dilepaskan. Seketika suasana berubah mencekam.

Waktu itu Indonesia sudah merdeka. Rakyat tak mau lagi dijajah. Para pejuang, khususnya pemuda yang berada di asrama I BKPI tak terima begitu saja. Tindakan protes dilakukan, tapi kalah senjata. Beberapa pemuda pun bergerak ke markas umum Badan Komite Persiapan KemerdekaanIndonesia (BKPI) (saat ini Balai Kota di Jalan Merdeka, red) dan melaporkan apa yang terjadi.

Para pimpinan dan staf di BKPI langsung menggelar sidang. Tak lama, keluarlah keputusan yang isinya agar para para pejuang dan pemuda asrama melakukan pembalasan. Keputusan itu langsung menyebar.

Dalam waktu singkat, insiden antara pemuda dan serdadu NICA terjadi di beberapa tempat. Melihat para pemuda pribumi melawan, mereka langsung melarikan diri ke markas NICA yang saat ini menjadi Siantar Hotel.

Kabar perlawanan terhadap Belanda kian menyebar. Warga mulai berdatangan dan bergabung dengan para pejuang yang didominasi pemuda. Rakyat bersatu untuk menghancurkan serdadu NICA. Dengan bersenjatakan tombak, pedang, bambu runcing dan golok, mereka berkumpul di depan markas umum BKPI.

Tak hanya itu, banyak juga di antara pejuang yang membawa senjata locok, bahkan botol yang diisi getah bensin. Melihat jumlah massa yang mulai datang mengepung, serdadu NICA panik. Mereka pun meminta bantuan Butaicho Jepang yang dipimpin Kolonel Orita.

Karena Orita merasa berkewajiban memelihara keamanan daerahnya, ia pun datang beserta 25 truk bala tentara yang dilengkapi senjata dengan sangkur terhunus. Begitu sampai, mereka masuk dan menyuruh rakyat mundur. Para tentara Jepang kemudian berbaris menghadap para pejuang lengkap dengan senjata api, sembari mendesak rakyat mundur.

Saat itu massa merasa tidak sedang berlawanan dengan Jepang. Satu persatu, mereka mundur. Hal itu membuat tentara Jepang leluasa memasang cordon tentara di sepanjang jalan raya. Rakyat tak diperbolehkan melewati garis cordon itu.

Bung Burhanuddin Kuncoro, Sang Jenderal Mayor Mata Satu


Tak lama, Kolonel Orita mengumumkan bahwa kedatangan mereka adalah untuk mendamaikan perselisihan rakyat dengan serdadu Belanda. Ia juga meminta rakyat menghentikan perkelahian dan stanvas.

Adanya seruan dari Orita ini membuat serdadu NICA besar kepala. Mereka mulai berlagak dan mengarahkan senjata ke atas, seolah-olah menunjukkan kegagahan dan kemenangan atas perlindungan tentara Jepang.

Orita yang tak mau insiden berlanjut, bersama beberapa perwira Jepang dan seorang juru bahasa, kemudian datang ke markas umum BKPI. Di sana , Orita meminta diadakan perundingan agar ada jalan tengah antara Nica dan pejuang.

Namun hal itu tak disetujui oleh petinggi BKPI. Salah seorang di antaranya adalah Bung Burhanuddin Kuncoro selaku Ketua I BPKI. Kuncoro adalah tokoh terkenal kala itu. Ia kerap disebut sebagai Jenderal Mayor Mata Satu.

“Tidak tahukah tuan bahwa sekutu menyerahkan tanggung jawab keamanan di sini pada tentara Jepang?” ujar Orita kepada Kuncoro kala itu, seperti diceritakan pada buku Sejarah Pengibaran Merah Putih Pertama di Siantar-Simalungun dan Peristiwa Berdarah Siantar Hotel oleh KNPI Siantar-Simalungun yang ditulis oleh Kusma Erizal Ginting.

Mendengar perkataan Orita, Kuncoro lantas berdiri. Ia merentangkan tangan kiri sambil menunjuk keluar. ”Hei tentara Jepang! Pigi (pergi, red)! Kasi aman! Jangan datang ke sini. Di sini aku (yang) kuasa, bukan sekutu!” tegas Kuncoro.

Namun setelah terjadi dialog menegangkan itu, Kuncoro sedikit mengalah. Lalu dilakukan perundingan dan akhirnya ada kesepakatan. Pada perundingan itu, Kuncoro yang mewakili rakyat dan pemuda mengajukan tuntutan agar dalam waktu 30 menit, seluruh pasukan Belanda/NICA pergi. Ia juga meminta senjata yang ada di markas NICA itu diserahkan ke BPKI.(Hezbi Rangkuty-Siantar/bersambung)

Tidak ada komentar